Lewat PKM, Mahasiswa UBSI Perkuat Karakter Toleran dan Etis Siswa
BSINews, Tangerang Selatan – Mahasiswa menggelar kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) bertema “Pendidikan Agama Islam sebagai Upaya Membentuk Karakter Toleran, Etis, dan Berdaya Saing di Era Keberagaman” di SDN 02 Pakujaya pada Senin (25/5).
Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman siswa tentang pentingnya nilai-nilai agama Islam dalam membangun karakter yang toleran, beretika, dan mampu menghadapi tantangan masa depan.
Melalui program tersebut, mahasiswa memberikan edukasi mengenai arti toleransi, pentingnya saling menghormati, perilaku etis di lingkungan sekolah dan masyarakat, serta pentingnya mempersiapkan diri untuk berkembang di tengah kehidupan yang semakin beragam.
Ketua kelompok kegiatan, Muhammad Iqbal, mengatakan bahwa pendidikan karakter perlu diperkuat sejak usia sekolah dasar.
Menurutnya, nilai toleransi dan etika menjadi bekal penting bagi siswa dalam berinteraksi dengan lingkungan yang beragam.
“Kami ingin mengajak siswa memahami bahwa menghormati perbedaan dan menjaga etika merupakan bagian penting dari kehidupan bermasyarakat. Nilai-nilai tersebut perlu ditanamkan sejak dini agar menjadi kebiasaan yang terbawa hingga dewasa,” kata Iqbal di sela kegiatan.
Ia menjelaskan, pendekatan yang digunakan dalam kegiatan ini tidak hanya berfokus pada penyampaian materi, tetapi juga melibatkan siswa secara aktif melalui diskusi dan permainan edukatif. Cara tersebut diharapkan dapat membuat proses pembelajaran lebih menarik dan mudah dipahami.
“Anak-anak cenderung lebih mudah memahami materi ketika disajikan secara interaktif dan menyenangkan. Karena itu, kami menggabungkan edukasi dengan aktivitas yang mendorong mereka berpikir, berdiskusi, dan bekerja sama,” ujarnya.
Setelah sesi materi, kegiatan dilanjutkan dengan kuis berbasis studi kasus. Dalam sesi ini, siswa diajak menganalisis berbagai situasi yang sering ditemui di lingkungan sekolah maupun kehidupan sosial, kemudian mendiskusikan solusi yang sesuai dengan nilai toleransi dan etika.
Melalui kegiatan tersebut, peserta dilatih untuk berpikir kritis, mengambil keputusan, dan memahami pentingnya menghargai perbedaan. Diskusi berlangsung aktif dengan melibatkan banyak siswa yang menyampaikan pendapat dan pengalaman mereka.
Selain kuis, mahasiswa juga menghadirkan berbagai permainan edukatif yang dirancang untuk mengembangkan kemampuan kognitif peserta. Melalui permainan kolaboratif, siswa belajar tentang kerja sama, komunikasi, kreativitas, serta kemampuan memecahkan masalah.
Iqbal menilai metode belajar yang melibatkan permainan mampu meningkatkan keterlibatan siswa selama kegiatan berlangsung. Menurutnya, suasana belajar yang menyenangkan dapat membantu peserta lebih mudah menyerap materi yang diberikan.
“Melalui permainan edukatif, kami ingin menumbuhkan semangat belajar dan melatih kemampuan berpikir kritis, kerja sama, serta rasa percaya diri mereka. Dengan begitu, nilai-nilai yang disampaikan tidak hanya dipahami, tetapi juga dapat dipraktikkan,” tuturnya.