Mahasiswi UBSI Edukasi Anti-Bullying dan SARA di SMP Babelan Bekasi

0 19

BSINews, Bekasi – Mahasiswi Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) menggelar kegiatan Pengabdian Masyarakat bertema “Internalisasi Nilai Wawasan Nusantara untuk Menanggulangi Bullying SARA” di SMP Negeri 6 Babelan, Bekasi, pada Minggu (31/5). Kegiatan yang berlangsung dari pukul 09.00 hingga 15.00 WIB ini diikuti oleh 30 siswa kelas VIII dengan tujuan memperkuat pemahaman tentang toleransi, persatuan, dan sikap saling menghormati di tengah keberagaman.

Melalui kegiatan tersebut, para mahasiswa mengajak siswa memahami pentingnya menjaga persatuan dalam masyarakat yang majemuk. Edukasi ini dilatarbelakangi masih adanya kasus perundungan yang dipicu perbedaan suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA), sehingga diperlukan penanaman nilai toleransi sejak usia sekolah.

Baca juga: Mahasiswa UBSI Kampus Tegal Paparkan Gagasan Pengabdian Masyarakat di Seleksi BSI Explore 2026

Ketua pelaksana kegiatan, Tazriyani Siregar, mengatakan bahwa program ini merupakan bentuk kontribusi mahasiswa dalam membangun kesadaran generasi muda terhadap pentingnya menjaga persatuan bangsa. Menurutnya, keberagaman yang dimiliki Indonesia seharusnya menjadi kekuatan, bukan sumber perpecahan.

“Kami berharap kegiatan ini dapat memberikan pemahaman kepada para siswa bahwa perbedaan bukanlah alasan untuk saling merendahkan atau melakukan perundungan. Justru keberagaman harus menjadi kekuatan yang mempersatukan kita sebagai bangsa Indonesia,” kata Tazriyani dalam sambutannya.

Ia menambahkan bahwa lingkungan sekolah memiliki peran penting dalam membentuk karakter siswa yang menghargai perbedaan. Karena itu, edukasi mengenai toleransi perlu dilakukan secara berkelanjutan agar tercipta suasana belajar yang aman dan inklusif.

“Kami ingin mendorong siswa untuk menjadi agen perubahan di lingkungan sekolah. Dengan saling menghormati dan menghargai perbedaan, mereka dapat membantu menciptakan lingkungan yang lebih nyaman bagi semua,” ujarnya.

Setelah sesi pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan penyampaian materi oleh Zahwa Syafira R. dan Inneke Fatimah M. Materi yang diberikan mencakup pengenalan Wawasan Nusantara, pentingnya toleransi, dampak negatif bullying SARA, serta langkah-langkah membangun lingkungan sekolah yang ramah bagi seluruh siswa.

Dalam pemaparannya, Inneke Fatimah M. mengingatkan siswa tentang pentingnya menghormati perbedaan agama dan keyakinan. Ia menegaskan bahwa keberagaman merupakan bagian dari identitas bangsa Indonesia yang harus dijaga bersama.

“Indonesia memiliki enam agama yang diakui negara. Meskipun kita memiliki perbedaan keyakinan, seluruh masyarakat harus menjunjung tinggi sikap toleransi dan saling menghormati satu sama lain,” ungkap Inneke.

Sementara itu, Zahwa Syafira R. menjelaskan bahwa nilai toleransi juga memiliki landasan kuat dalam ajaran Islam. Ia mengutip QS. Al-Kafirun ayat 6 sebagai salah satu dasar untuk menghormati kebebasan setiap individu dalam memilih keyakinan.

“Toleransi memiliki dasar yang kuat dalam ajaran Al-Qur’an. Ayat yang menjadi landasan utama adalah QS. Al-Kafirun ayat 6 yang berbunyi ‘Lakum diinukum waliyadiin’ yang memiliki arti ‘Untukmu agamamu, dan untukku agamaku’,” jelas Zahwa.

Kegiatan berlangsung interaktif melalui sesi diskusi dan tanya jawab. Antusiasme peserta terlihat dari banyaknya pertanyaan dan tanggapan yang disampaikan selama kegiatan berlangsung.

Baca juga: Mahasiswa UBSI Kampus Purwokerto Lolos Program Magang di PT Cazh Teknologi Inovasi

Selain Tazriyani, Zahwa, dan Inneke, kegiatan ini juga didukung oleh anggota tim lainnya, yaitu Balqis Fitria, Fadhila Khoirunnisa, Mutiara Ashari, Nadya Putri R., Nazwa Agrivina P., dan Salsabila Shafa A. Kolaborasi tersebut menjadi bagian dari upaya mahasiswa dalam menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat.

Melalui kegiatan ini, para siswa diharapkan semakin memahami pentingnya menjaga persatuan dan menghargai keberagaman. Pemahaman tersebut diharapkan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari sehingga mampu mencegah perundungan berlatar belakang SARA dan memperkuat budaya toleransi di lingkungan sekolah maupun masyarakat.

Leave A Reply

Your email address will not be published.