Inovasi Web GIS Mahasiswa UBSI Petakan 1.340 Destinasi Wisata Indonesia dengan Fitur Navigasi dan Sensor Ulasan Negatif

0 14

BSINews, Jakarta – Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) sebagai Kampus Digital Kreatif kembali menunjukkan komitmennya dalam mencetak talenta digital yang inovatif melalui karya mahasiswa yang mampu menjawab kebutuhan nyata masyarakat.

Muhammad Filah Fadilah, mahasiswa Program Studi Software Engineering (RPL) UBSI, berhasil mengembangkan aplikasi Sistem Informasi Geografis berbasis web (Web GIS) interaktif untuk memetakan seluruh potensi pariwisata di Indonesia guna meningkatkan kemudahan, efisiensi, dan akuntabilitas penyajian informasi geospasial.

Baca juga: AnyDesk dan Remote Desktop: Solusi Praktis untuk Support Dosen dan Staff Kampus

Aplikasi satu pintu ini tidak sekadar menyajikan data ke ruangan yang akurat kepada publik, melainkan juga dilengkapi dengan sistem kalkulasi rute navigasi otomatis serta fitur penyaring kata-kata tidak pantas demi menjaga etika ulasan di ruang digital.

Aplikasi ini tidak hanya menyajikan data spasial destinasi wisata secara akurat, tetapi juga dilengkapi dengan sistem perhitungan rute navigasi otomatis serta fitur penyaring kata-kata tidak pantas (profanity filter) untuk menjaga etika dalam kolom ulasan.

Melalui platform yang dapat diakses melalui domain wisindo.my.id, masyarakat dapat melihat persebaran destinasi wisata secara real-time lengkap dengan fasilitas di sekitarnya langsung melalui peramban tanpa perlu mengunduh aplikasi tambahan.

Inovasi tersebut hadir sebagai solusi atas berbagai tantangan dalam pengelolaan data dan promosi sektor pariwisata nasional, mulai dari penyebaran informasi objek wisata yang masih terfragmentasi di berbagai platform, keterbatasan website konvensional yang bersifat statis, hingga sulitnya wisatawan menyusun rencana perjalanan akibat belum tersedianya peta digital yang interaktif dan dinamis.

Dalam pengembangannya, aplikasi memanfaatkan teknologi modern seperti framework Next.js berbasis React.js untuk menghasilkan antarmuka yang responsif, Leaflet.js yang terintegrasi dengan OpenStreetMap sebagai penyedia peta digital, serta layanan cloud Supabase berbasis PostgreSQL untuk mendukung autentikasi pengguna dan penyimpanan data yang aman.

Kombinasi teknologi tersebut menghasilkan sistem pemetaan pariwisata nasional yang terintegrasi, andal, dan mudah diakses masyarakat.

Sebanyak 1.340 destinasi wisata yang tersebar di 38 provinsi di Indonesia berhasil dipetakan menggunakan metode marker cluster sehingga tampilan peta tetap rapi meskipun memuat ribuan titik lokasi. Sistem juga menyediakan pencarian destinasi berdasarkan kategori maupun rentang penilaian, pendeteksian lokasi pengguna secara otomatis, serta rekomendasi objek wisata terdekat.

Melalui integrasi algoritma Open Source Routing Machine (OSRM) dan perhitungan jarak menggunakan rumus Haversine, aplikasi mampu memberikan rekomendasi destinasi dalam radius hingga 50 kilometer, lengkap dengan rute perjalanan, visualisasi peta panas (heatmap) berdasarkan penilaian pengguna, hingga tautan navigasi langsung menuju Google Maps.

Selain itu, fitur sensor ulasan otomatis akan menyembunyikan komentar yang mengandung kata-kata kasar sehingga informasi yang ditampilkan tetap edukatif, nyaman, dan aman bagi seluruh pengguna.

Dosen Pembimbing, Dr. Ir. Taufik Baidawi, M.Kom, mengapresiasi hasil penelitian tersebut karena mampu menggabungkan konsep akademik dengan kebutuhan nyata di masyarakat.

“Karya ini menunjukkan bahwa mahasiswa tidak hanya mampu memahami teori, tetapi juga dapat menerapkannya menjadi solusi digital yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat. Pengembangan Web GIS ini menjadi contoh bagaimana teknologi informasi dapat mendukung transformasi digital sektor pariwisata Indonesia melalui pemanfaatan data geospasial yang terintegrasi dan mudah diakses,” ujar Taufik Baidawi dalam rilis yang diterima pada Rabu (15/7).

Senada dengan itu, Sifa Fauziah, M.Kom selaku Asisten pembimbing, turut memberikan apresiasi atas dedikasi mahasiswa selama proses penelitian dan pengembangan aplikasi.

“Saya melihat proses pengembangan aplikasi ini dilakukan secara sistematis, mulai dari analisis kebutuhan, perancangan sistem, implementasi hingga pengujian. Hal tersebut menunjukkan kemampuan mahasiswa dalam mengembangkan perangkat lunak sesuai kaidah rekayasa perangkat lunak. Semoga inovasi ini dapat terus dikembangkan sehingga memberikan kontribusi nyata bagi dunia pariwisata maupun penelitian selanjutnya,” ungkap Sifa Fauziah.

Ke depan, aplikasi ini masih memiliki peluang pengembangan yang luas, di antaranya integrasi teknologi Progressive Web App (PWA) agar dapat diakses secara luring (offline) melalui mekanisme service worker ketika wisatawan berada di wilayah dengan keterbatasan jaringan internet.

Baca juga: Memahami Lisensi Software: Freeware, Shareware, GPL, dan Commercial

Selain itu, pengembang juga merencanakan integrasi API prakiraan cuaca, penerapan algoritma optimasi rute seperti Traveling Salesperson Problem (TSP) maupun Dijkstra untuk perjalanan multi-tujuan, serta pengembangan aplikasi menjadi platform mobile berbasis Android dan iOS.

Melalui inovasi ini, UBSI kembali membuktikan bahwa mahasiswa mampu menghasilkan solusi digital yang tidak hanya memiliki nilai akademik, tetapi juga berpotensi memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan ekosistem pariwisata Indonesia di era transformasi digital.

Leave A Reply

Your email address will not be published.