Seminar Nasional UBSI Bahas Kolaborasi Pentahelix untuk Perkuat Industri Kerajinan dan Batik

0 6

BSINews, Bekasi – Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) sukses menggelar Seminar Nasional “Kolaborasi untuk Pengembangan Industri Kerajinan Batik di Indonesia” yang digelar di BSI Convention Center (BSI Convex), Bekasi pada Sabtu (29/8).

Seminar yang diikuti dosen-dosen UBSI ini menghadirkan Kepala Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Kerajinan dan Batik (BBSPJIKB) Kementerian Perindustrian, Zya Labiba sebagai narasumber.

Baca juga: Mahasiswa UBSI Kampus Pontianak Tampil sebagai Pemakalah di Seminar Nasional Teknologi 2026

Seminar nasional tersebut menjadi bagian dari rangkaian evaluasi akademik dan persiapan perkuliahan UBSI sekaligus menjadi salah satu bentuk implementasi kerja sama UBSI dengan BBSPJIKB. Sebelumnya, kedua pihak telah menyepakati kolaborasi dalam bidang pendidikan, penelitian mahasiswa, pengabdian kepada masyarakat, serta pengembangan sumber daya manusia.

Dalam pemaparannya, Zya mengatakan industri kerajinan dan batik memiliki modal kuat untuk dikembangkan sebagai produk unggulan Indonesia. Kekayaan budaya dan kearifan lokal, kreativitas pelaku industri, bahan baku lokal yang beragam, serta peluang pasar nasional dan internasional menjadi kekuatan yang dapat dikembangkan secara bersama.

“Peluang tersebut masih berhadapan dengan berbagai tantangan. Kompetensi sumber daya manusia, pemanfaatan teknologi, kualitas dan standardisasi produk, perluasan pasar, hingga tuntutan terhadap industri yang lebih ramah lingkungan menjadi sejumlah persoalan yang perlu mendapat perhatian,” kata Zya dalam keterangan rilis yang diterima pada Selasa (15/9).

Menurutnya pengembangan industri membutuhkan pendampingan yang dilakukan secara berkelanjutan. Pendampingan tidak cukup berhenti pada pelatihan, tetapi perlu dilanjutkan melalui konsultansi, pengembangan produk, standardisasi, pengujian, sertifikasi, hingga membuka akses pasar.

Dari persoalan tersebut, kolaborasi pentahelix menjadi salah satu pendekatan yang mengemuka dalam seminar. Pemerintah, perguruan tinggi, pelaku industri, komunitas, serta media dan ekosistem digital memiliki ruang kontribusi masing-masing untuk menciptakan ekosistem industri yang lebih kuat.

Perguruan tinggi, misalnya, dapat mengambil peran melalui penelitian, pengembangan sumber daya manusia, inovasi, dan digitalisasi. Sementara itu, pelaku industri membawa kebutuhan serta persoalan nyata di lapangan yang dapat menjadi ruang bagi akademisi untuk mengembangkan solusi yang lebih relevan.

Lewat Seminar Nasional, UBSI Dorong Teknologi Menjawab Kebutuhan Industri

Rektor UBSI Prof. Dr. Ir. Mochamad Wahyudi mengatakan, seminar tersebut menjadi ruang penting untuk mempertemukan perspektif akademik dengan kebutuhan industri. Menurutnya, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk memastikan pengetahuan dan teknologi yang dikembangkan dapat memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.

“Kolaborasi seperti ini menjadi ruang bagi perguruan tinggi untuk mempertemukan pengetahuan akademik dengan kebutuhan nyata di masyarakat dan dunia industri. Kami ingin dosen dan mahasiswa tidak hanya memahami perkembangan teknologi secara teori, tetapi juga mampu melihat bagaimana teknologi tersebut dapat digunakan untuk memberikan solusi,” ujar Wahyudi dalam keterangan rilis yang diterima pada Selasa (15/9).

Ia menambahkan, perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan membuka peluang baru bagi industri kerajinan dan batik untuk berkembang. Karena itu, ruang kolaborasi dapat diperluas melalui digitalisasi industri kecil dan menengah, penelitian dan pengembangan, inkubasi bisnis, pemanfaatan AI dan teknologi kreatif, hingga keterlibatan mahasiswa melalui magang dan project-based learning.

“Kami melihat banyak peluang yang bisa dikembangkan bersama, mulai dari riset, digitalisasi IKM, pemanfaatan AI dan teknologi kreatif, sampai pengembangan kompetensi sumber daya manusia. Mahasiswa UBSI juga dapat dilibatkan melalui magang dan project-based learning sehingga pengalaman belajar mereka semakin dekat dengan persoalan yang dihadapi industri,” jelasnya.

Seminar tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa pengembangan industri kerajinan dan batik tidak bisa dibebankan kepada satu pihak. Ketika perguruan tinggi memiliki pengetahuan dan sumber daya manusia, industri memiliki pengalaman dan kebutuhan di lapangan, sementara pemerintah memiliki peran dalam standardisasi dan penguatan ekosistem, kolaborasi menjadi jembatan yang mempertemukan berbagai kepentingan tersebut.

Baca juga: Prediksi Juara EPL, Mahasiswa UBSI Kampus Pontianak Tampil Ciamik Dalam Seminar Nasional Inovasi 2026

Bagi UBSI sebagai Kampus Digital Kreatif, forum ini juga menjadi bagian dari upaya memperluas implementasi kerja sama dengan BBSPJIKB. Kolaborasi yang telah dituangkan dalam Nota Kesepahaman tidak hanya diarahkan pada kegiatan seremonial, tetapi dapat dikembangkan menjadi berbagai program pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, dan pengembangan kompetensi.

Melalui seminar nasional ini, UBSI dan BBSPJIKB mendorong semakin terbukanya ruang dialog antara perguruan tinggi dan industri. Harapannya, gagasan yang muncul tidak berhenti di ruang seminar nasional, tetapi dapat diteruskan menjadi riset, inovasi, peningkatan kompetensi, dan pemanfaatan teknologi yang membantu industri kerajinan dan batik Indonesia semakin adaptif dan berdaya saing.

Leave A Reply

Your email address will not be published.