Jejak Fatahillah Azhuri, Mengubah Kursi Tribun Menjadi Panggung Kesuksesannya di Industri Kreatif

0 3

BSINews, Bekasi – Tahun 2013, di tengah riuhnya masa Orientasi Akademik (Ormik) dan Seminar Motivasi (Semot) di Hall Basket Senayan, Jakarta Pusat, seorang mahasiswa baru (maba) duduk di bangku tribun. Ia mengenakan kaos biru muda hasil desainnya sendiri: bergambar seekor ayam yang seolah sedang berseru, “Kuliah..? BSI Aja !!”.

Belasan tahun berlalu, pemuda yang dulu hanya bisa menatap panggung dari kejauhan itu, kini kembali ke almamaternya. Bukan lagi sebagai peserta, melainkan berdiri tegak di bawah sorot lampu sebagai pemateri di Seminar Motivasi (Semot) UBSI (Universitas Bina Sarana Informatika) berpredikat “Alumni Sukses”. Semot sendiri merupakan rangkaian kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) dari UBSI, yang dikenal sebagai Kampus Digital Kreatif.

Baca juga: Titik Balik Rani Sri Latifah Temukan Kedamaian Lewat Kaniemoji Bakery

Dia adalah Fatahillah Azhuri, alumnus Program Studi (Prodi) Komunikasi Periklanan (kini Ilmu Komunikasi) UBSI kampus Margonda angkatan 2016. Hal itu menjadikan sebuah bukti nyata bahwa perjalanan panjang yang konsisten tidak akan pernah mengkhianati hasil.

Kini, hari-hari pria yang akrab disapa Azhuri ini dihabiskan di balik layar kemegahan industri kreatif Jakarta. Ia menempati posisi strategis sebagai Produser, Project Manager, sekaligus Creative Director di sebuah Production House (PH). Klien yang ditanganinya pun bukan sembarangan, membentang dari perusahaan-perusahaan BUMN raksasa seperti Jasa Raharja hingga Pupuk Indonesia.

Tak puas hanya bekerja untuk perusahaan, insting kreatif dan wirausahanya mendorong Azhuri untuk membangun agensi miliknya sendiri. Mulai dari pengelolaan acara (event), dokumentasi video dan foto, pembuatan animasi, hingga penyediaan photobooth, semua bisa dieksekusi oleh tangan dinginnya bersama tim.

“Sistem kerjanya menyesuaikan dengan permintaan klien. Jika mereka butuh animasi atau videografer, saya akan mengumpulkan tim ahli yang saya miliki untuk mengerjakan project tersebut. Semuanya bisa kami tangani,” tutur Azhuri.

Bukan Sekadar ‘Mahasiswa Kupu-Kupu’

Jika ditanya apa kunci di balik kepiawaiannya mengelola proyek dan klien hari ini, jawabannya ada pada masa lalunya di kampus. Azhuri muda menolak menjadi ‘mahasiswa kupu-kupu’ alias kuliah-pulang. Ia memilih jalan yang lebih sibuk dan menantang.

Berbekal kemampuannya, ia memberanikan diri melamar menjadi Asisten Instruktur di kampus, mengajar mata kuliah editing, animasi, dan desain grafis. Keputusan ini tak hanya menajamkan skill teknisnya, namun juga membuatnya mandiri secara finansial lewat uang jajan yang ia hasilkan sendiri.

Di jalur aktivisme, Azhuri juga mengambil peran. Ia pernah menjabat sebagai Ketua Senat Mahasiswa UBSI kampus Depok (kini setara BEM). Di sinilah mentalitas kepemimpinan dan komunikasinya ditempa.

“Kampus menjadi tempat berekspresi. Pengalaman menjadi Ketua Senat membuat saya sering bertemu mahasiswa baru, lembaga, hingga dosen. Dari situlah relasi dan skill komunikasi saya terbangun hingga sekarang,” kenangnya sambil tersenyum.

Bahkan, kampus ini pula yang menjadi saksi pertemuan Azhuri dengan belahan jiwanya, yang saat itu merupakan mahasiswi Manajemen Informatika (sekarang Sistem Informasi) UBSI.

Berselancar di Atas Gelombang Teknologi

Satu hal yang membuat Azhuri mampu bertahan di kerasnya industri kreatif ibu kota adalah kemampuannya beradaptasi. Ia sadar, zaman terus bergerak maju. Ia mengenang masa di mana desain grafis sangat bergantung pada CorelDRAW, lalu bergeser ke era Photoshop, dan kini serba instan dengan Canva.

Bagi Azhuri, kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang kini menjamur bukanlah sebuah ancaman, melainkan ombak yang harus ditunggangi.

“Kita sebagai manusia harus pintar beradaptasi. Terlebih dengan adanya teknologi AI saat ini, kita harus memanfaatkannya. Teknologi inilah yang membantu kita untuk bisa tetap bertahan dan sustain di dunia bisnis maupun pekerjaan,” tegasnya.

Kini, setiap kali ia memegang mikrofon dan menatap ribuan mahasiswa baru UBSI, Azhuri selalu teringat pada dirinya di masa lalu. Ia paham betul bagaimana tekanan (pressure) merangkai kata-kata agar bisa memantik api semangat di dada generasi penerus.

Baca juga: Perpaduan F&B dan IT: Kisah Sukses Dodit Raharjo, Alumni UBSI yang Pimpin Digitalisasi HokBen

Sebagai penutup kisahnya, Azhuri menitipkan sebuah pesan yang menjadi refleksi dari seluruh perjalanannya.

“Kuliah adalah momen penting untuk bereksplorasi. Jangan hanya fokus menyerap materinya saja, tapi ambil kesempatan untuk memperluas pertemanan, berorganisasi, dan mencari pengalaman berinteraksi dengan orang-orang luar. Hal-hal itulah yang akan sangat bermanfaat buat kalian di dunia kerja nanti,” tutupnya.

Leave A Reply

Your email address will not be published.