Perjalanan Lukmanul Hakim Nugraha dari Bangku Kuliah di UBSI Menuju Kursi CFO

0 3

BSINews, Bekasi – Waktu tidak pernah bisa diputar mundur, namun selalu mencatat siapa yang berani mengambil langkah maju. Prinsip itulah yang membawa Lukmanul Hakim Nugraha, alumnus Program Studi (Prodi) Sistem Informasi Akuntansi (SIA) UBSI (Universitas Bina Sarana Informatika) kampus Ciputat, melesat menembus ketatnya persaingan industri hingga menjabat sebagai Chief Financial Officer (CFO) sekaligus Direktur di PT Sagung Seto. Saat kembali hadir sebagai ‘Alumni Inspiratif’ di hadapan ribuan mahasiswa baru angkatan 2026, Lukman membawa pesan bahwa kesuksesan hanya berpihak pada mereka yang menolak kenyamanan dan tak pernah berhenti belajar.

Pria yang akrab disapa Lukman ini tidak datang hanya untuk memamerkan jabatannya. Tapi membawa cerita tentang ketekunan, kemampuan beradaptasi, dan keberanian mengambil peluang. Baginya, kesuksesan di dunia profesional bukanlah sebuah kebetulan yang jatuh dari langit, melainkan bangunan yang fondasinya telah ia retas sejak masih berstatus mahasiswa pada tahun 2008 silam.

Baca juga: Jejak Fatahillah Azhuri, Mengubah Kursi Tribun Menjadi Panggung Kesuksesannya di Industri Kreatif

Kisah Sukses Lukmanul Hakim

Perjalanan karirnya bermula bahkan sebelum ia resmi mengenakan toga. Pada tahun 2010, Lukman mengikuti program magang atau On the Job Training di Lintasarta, bagian dari Indosat Group. Di sinilah keselarasan antara ilmu kampus dan kebutuhan industri menemukan titik terangnya. Lintasarta saat itu tengah membutuhkan talenta yang mampu memahami dua keterampilan sekaligus, akuntansi dan pemrograman. Berbekal ilmu dari jurusannya, Lukman langsung dipercaya menangani proyek krusial write-off fixed asset. Ia membuktikan bahwa kurikulum UBSI yang tepat sasaran akan menjadi senjata tajam di dunia kerja yang sesungguhnya.

“Dibutuhkan seseorang yang memiliki kemampuan di bidang akuntansi dan juga di bidang pemrograman. Karena memang pada saat itu jurusan kuliah saya juga Sistem Informasi Akuntansi, jadi secara background sangat cocok dan sesuai. Itu yang bisa dikatakan langkah awal saya memulai dunia kerja pertama kali,” kenangnya.

Namun, Lukman sadar bahwa nilai akademis saja tidak cukup untuk bertahan di kerasnya ibu kota. Di luar ruang kelas, ia mengasah insting kepemimpinannya dengan menjabat sebagai Wakil Ketua Himpunan Mahasiswa (Hima) UBSI kampus Ciputat. Lewat organisasi inilah, ia memupuk jejaring dan kecerdasan sosial, memberikannya modal tak kasat mata yang sangat fundamental dalam menapaki jenjang karir.

“Salah satu yang berkesan di kampus adalah membangun networking sejak dini. Waktu itu saya terpilih sebagai Wakil Ketua Himpunan Mahasiswa (Hima) UBSI kampus Ciputat. Nah, itu merupakan langkah awal saya membangun sebuah networking dari organisasi,” ungkap Lukman menekankan pentingnya kecerdasan sosial.

Berkarir di sektor finansial menuntut Lukman untuk terus berselancar di atas gelombang digitalisasi. Ia bersaksi bagaimana perangkat lunak akuntansi legendaris seperti MYOB perlahan tergeser oleh sistem yang jauh lebih mutakhir. Meski teknologi berlari cepat, Lukman mengingatkan bahwa roh dan teori dasar akuntansi tetaplah sama. Oleh karena itu, kunci untuk tidak tergilas zaman adalah menolak rasa cepat puas. Baginya, ijazah kampus hanyalah tiket masuk. Selebihnya, setiap profesional wajib terus mengasah diri melalui berbagai wadah seperti seminar, bootcamp, maupun konferensi.

“Kalau teknologi, seiring berjalannya waktu semakin canggih. Tapi sebetulnya ilmu atau teori akuntansinya sendiri dari dulu sampai dengan saat ini masih sama. Jangan mudah puas hanya mengandalkan belajar di kampus. Kalau ada kesempatan seminar, bootcamp, ataupun conference, maka cobalah ikuti untuk mengasah kemampuan dan update skill,” tambahnya.

Berdiri di hadapan generasi yang kelak akan menggantikan posisinya, Lukman menitipkan sebuah pesan perenungan yang mendalam. Ia mengingatkan bahwa keadilan paling mutlak di dunia ini adalah waktu. Tuhan memberikan jatah waktu yang sama rata, 24 jam sehari, untuk semua orang. Waktu yang berlalu tidak akan pernah bisa diputar mundur, sehingga menunda pekerjaan pada hakikatnya adalah menunda kesuksesan itu sendiri.

Lebih dari itu, ia menyoroti sebuah jebakan kenyamanan yang sering kali menelan para pekerja muda. Banyak orang yang perlahan mematikan mesin pembelajarannya begitu mereka berhasil mendapatkan pekerjaan dan menikmati gaji rutin bulanan. Padahal, belajar tidak mengenal garis akhir dan tidak terbatas pada dinding kampus.

“Seringkali orang lupa. Ketika awal mula masuk dunia kerja, sudah bisa mendapatkan income yang rutin, lantas mereka berhenti untuk belajar,” keluhnya.

Baca juga: Titik Balik Rani Sri Latifah Temukan Kedamaian Lewat Kaniemoji Bakery

Kisah Lukmanul Hakim Nugraha menjadi sebuah pesan bagi mahasiswa baru UBSI bahwa lima atau sepuluh tahun dari sekarang, merekalah yang ditunggu untuk mengambil alih panggung, menciptakan inovasi, dan membuka lapangan pekerjaan baru bagi Indonesia.

“Harapan saya, semakin banyak lulusan UBSI yang lebih sukses dari alumni-alumni sebelumnya. Supaya nantinya kalian bisa memberikan kesempatan kepada teman-teman lainnya untuk bekerja dan membuka lebih banyak lapangan pekerjaan,” tutupnya.

Leave A Reply

Your email address will not be published.