Menolak Palsukan Surat Miskin, Keputusan Arif Prakoso Pilih UBSI Mengantarnya Jadi Direktur PH

0 5

BSINews, Bekasi – Di tengah gemuruh ribuan mahasiswa baru (maba) Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) yang memadati arena Seminar Motivasi (Semot) di BSI Convention Center (BSI Convex), Kaliabang, Bekasi, pada Minggu (20/9) lalu, Mohammad Arif Prakoso berdiri dipanggung dengan senyum simpul. Memorinya seketika teringat pada sebuah perjalanan pulang belasan tahun silam. Di atas sepeda motor yang melaju membelah jalanan, ia menatap punggung ibunya dan berucap dengan nada yang mengubah garis hidupnya, “Kuliah kayaknya di UBSI aja, Bu.”

Keputusan itu bukan lahir dari ketiadaan pilihan, melainkan dari sebuah prinsip. Beberapa jam sebelum mengucapkan kata-ktat tadi, Arif muda baru saja mendatangi salah satu Perguruan Tinggi Negeri (PTN) terkemuka di Depok. Niatnya tentu untuk menanyakan apakah biaya kuliah bisa dicicil, mengingat sang ibu juga harus membiayai adiknya yang masih SMA. Namun, birokrasi kampus justru menyuruhnya pulang untuk mengurus Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) di kelurahan.

Baca juga: Berani Keluar dari Zona Nyaman, Alumni UBSI Kampus Solo Kini Berkarier di Dunia Fitness

Hati Arif menolak. Ia merasa keluarganya bukan tidak mampu, melainkan harus mengatur prioritas finansial. Membuat surat miskin, sementara masih punya kendaraan bermotor adalah sebuah kebohongan yang enggan dikompromikan Arif. Penolakan halus pada birokrasi PTN itu justru membawanya melabuhkan pilihan mutlak pada UBSI yang dikenal sebagai Kampus Digital Kreatif, tanpa pernah mendaftar ke kampus mana pun lagi.

Menjadi mahasiswa program studi (Prodi) Manajemen Informatika (kini Sistem Informasi) UBSI angkatan 2010, perjalanan Arif tidak lempeng. Setelah menghabiskan dua semester awal di kelas reguler UBSI kampus Margonda, realitas kehidupan menuntutnya untuk mulai bekerja.

Di sinilah sistem pendidikan fleksibel menjadi penyelamatnya. “Akhirnya dari semester tiga sampai lulus, saya pindah ke UBSI kampus Fatmawati, di daerah Pondok Labu, Jakarta Selatan. Pindah kampus dan pindah jadi kelas malam karena harus bekerja. UBSI sangat membantu, karena mahasiswanya bisa migrasi nilai dan beralih ke kelas malam. Fasilitas itu sangat menyelamatkan saya,” kenangnya.

Mentalitas pekerja keras itu rupanya selaras dengan jiwa kewirausahaan yang bergejolak di dadanya. Perjalanan bisnis Arif menjadi laboratorium kegagalan yang tak berujung putus asa. Ia pernah menjajal peruntungan dengan membuka bimbingan belajar (bimbel), berjualan makanan, hingga merintis jasa kurir jauh sebelum era ojek online merajai jalanan. Semuanya gulung tikar. Namun, dari rentetan kegagalan itu, pria berlatar belakang pendidikan IT ini justru menemukan passion sejatinya di industri kreatif visual.

Kini, Arif duduk di kursi Direktur PT Karya Visual Anantara, sebuah Production House (PH) yang sukses beroperasi selama 11 tahun dalam menggarap berbagai proyek film dan iklan.

Ada satu momen yang tak pernah luput dari ingatan Arif setiap kali berbicara tentang almamaternya. Saat prosesi wisudanya digelar di Jakarta Convention Center (JCC) waktu itu, ia duduk di barisan wisudawan biasa. Sambil memandang panggung megah, dalam hatinya membatin, berharap suatu hari nanti namanya dipanggil ke depan ribuan pasang mata sebagai mahasiswa berprestasi.

Baca juga: Titik Balik Rani Sri Latifah Temukan Kedamaian Lewat Kaniemoji Bakery

Semesta rupanya mengabulkan doa tersebut dengan cara yang lebih indah. Beberapa tahun berselang, UBSI secara khusus mengundangnya kembali naik ke panggung berbeda, dan lebih megah. Bukan lagi sebagai mahasiswa biasa, melainkan sebagai sosok alumni berprestasi yang menginspirasi mahasiswa baru.

Kembali berdiri di hadapan generasi penerus dalam balutan acara Semot (Seminar Motivasi) UBSI yang dikonsep secara futuristik dan retro, Arif melihat sebuah transformasi besar. Baginya, stigma masa lalu telah pudar.

“Ini sangat well-organized, panggungnya megah tanpa ada budaya perpeloncoan. Dulu orang mungkin menganggap UBSI sebagai pilihan terakhir, tapi sekarang masuk UBSI itu sudah menjadi pilihan utama kampus swasta. Mahasiswanya ada Puteri Indonesia, banyak yang dapat beasiswa hingga ke luar negeri. Harapannya, acara ini bisa membuka pikiran mahasiswa baru bahwa di sini, mereka semua punya panggung untuk berprestasi,” tutupnya memantik semangat.

Leave A Reply

Your email address will not be published.