UBSI dan BRIN Berdayakan Peternak Domba Garut Lewat Digitalisasi dan Pakan Mandiri
BSINews, Garut – Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) sebagai Kampus Digital Kreatif dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terus mendorong kemandirian peternak domba di Garut yang tergabung dalam kelompok Koperasi Cikal Maju. Keduanya memberikan pendampingan lanjutan program Bisnis Tani Terpadu (BINTARA) bagi Koperasi Cikal Maju di Desa Karyamekar, Pasirwangi, Kabupaten Garut, pada 25-26 September 2026. Fokus pendampingan kali ini mencakup penerapan teknologi digital, kemandirian pakan, dan pemanfaatan limbah.
Dari sisi teknologi, tim UBSI mengimplementasikan aplikasi Smart Recording langsung di lapangan. Aplikasi ini mengajak anggota koperasi untuk mulai mencatat data ternak mereka secara digital. Melalui pendataan tersebut, pengelolaan domba diharapkan menjadi lebih terukur dan terdokumentasi dengan rapi.
Baca juga: Dosen UBSI Terlibat Riset BRIN, Kaji Model Dana Abadi Daerah untuk Pembangunan Berkelanjutan
Ketua Tim BINTARA dari UBSI, Dr. Diah Puspitasari, M.Kom, menegaskan bahwa teknologi dan inovasi tersebut dirancang untuk saling mendukung.
“Kami ingin memastikan bahwa pengetahuan dan teknologi yang telah diperkenalkan tidak berhenti pada tahap sosialisasi, tetapi dapat diterapkan langsung oleh anggota koperasi,” katanya, dalam keterangan rilis, Kamis (1/10).
Tambahnya, inovasi terpadu ini juga disambut baik oleh masyarakat setempat karena memberikan dampak ekonomi langsung.
Selain digitalisasi, peternak juga dilatih memproduksi pakan hijauan mandiri melalui sistem intercropping. Tim BRIN memperkenalkan rumput Biogas, Odot, dan Benggala yang dipadukan dengan tanaman legum seperti Stylosanthes dan Sesmidium. Sistem tanam ini diharapkan mampu mengurangi ketergantungan peternak pada sumber pakan dari luar.
Mengingat besarnya potensi ekonomi limbah, peternak juga didampingi memproduksi “teh kohe” (kotoran hewan) secara optimal. Melalui praktik ini, kotoran domba diolah menjadi pupuk cair. Produk tersebut berpotensi mendukung kegiatan pertanian setempat sekaligus menjadi sumber pendapatan baru koperasi.
Perwakilan Koperasi Cikal Maju, H. Aceng, menyebut program ini memberikan solusi nyata bagi peternak.
“Proses pembuatan teh kohe dibutuhkan oleh koperasi sebagai income tambahan selain penjualan domba,” ujarnya.
Meski demikian, menurut Aceng, pelaksanaan program ini di lapangan masih menemui sejumlah tantangan. Peternak perlu pendampingan berkelanjutan agar terbiasa mencatat data di aplikasi secara konsisten. Sistem tanam pakan dan produksi teh kohe juga menuntut pemantauan berkala agar kualitas hasilnya terjaga.
Baca juga: UBSI dan BRIN Dorong Peternakan Domba Berbasis Teknologi di Garut
Ke depan, tim gabungan UBSI dan BRIN akan terus melakukan evaluasi dan pendampingan rutin.
“Sinergi ini diharapkan mampu memperkuat ekosistem Koperasi Cikal Maju agar semakin mandiri. Pada akhirnya, inovasi ini tidak sekadar meningkatkan produksi domba, tetapi juga memberikan jaminan kesejahteraan bagi anggota koperasi,” tutup Dr. Diah.