Di Balik Layar Aplikasi Punya BRI, Taufan, Alumni UBSI yang ‘Menolak Bodoh’ karena AI
BSINews, Bekasi – Gemuruh antusiasme ribuan mahasiswa baru (maba) memenuhi seisi BSI Convention Center (BSI Convex), Kaliabang, Bekasi, Minggu (20/9). Di tengah kemegahan acara Orientasi Akademik (Ormik) dan Seminar Motivasi (Semot) UBSI 2026 tersebut, sorot lampu tertuju pada seorang pemuda bersahaja. Namanya Muhammad Taufan.
Taufan seperti pemuda pada umumnya. Namun, di dunia perbankan digital, ia menjadi salah satu “penjaga gawang” yang memastikan jutaan transaksi berjalan tanpa hambatan. Alumni Program Studi (Prodi) Sistem Informasi Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) lulusan 2019 ini, kini menduduki posisi strategis sebagai QA Automation di Bank Rakyat Indonesia (BRI).
Hampir setiap hari, jutaan nasabah mengandalkan aplikasi seperti Brimo, Brispot, hingga Brimerchant untuk bertransaksi. Di sinilah peran Taufan menjadi krusial.
“Tugas saya adalah melakukan testing atau pengujian aplikasi secara otomatis menggunakan program. Selain itu, saya juga melakukan performance testing untuk menguji kekuatan server. Intinya, memastikan seberapa banyak user yang bisa dilayani dalam satu waktu tanpa kendala,” tutur Taufan saat berbincang dengan media.
Baca juga: Merias “Masa Depan” dengan Kemandirian, Kisah Rilla, Mahasiswi UBSI yang Sukses Bangun Bisnis MUA
Meretas Jalan dari Garis Bawah
Bisa menembus ketatnya persaingan di BUMN raksasa tentu bukan kebetulan. Jalan terjal sempat dilalui Taufan pasca lulus pada tahun 2019. Ia tidak langsung duduk di kursi nyamannya saat ini. Kariernya dimulai dari sebuah perusahaan outsourcing. Di sana, ia harus kembali menjadi ‘murid’ dengan mengikuti bootcamp, menjalani masa magang, hingga akhirnya kemampuannya dilirik dan ia ditempatkan sebagai klien di BRI pada tahun 2021.
Apa rahasia di balik ketangguhan adaptasinya? Jawabannya ada pada masa-masa kuliahnya.
Alih-alih menjadi “mahasiswa kupu-kupu” (kuliah-pulang), Taufan muda memilih jalan yang lebih sibuk. Ia aktif berorganisasi dan mendedikasikan dirinya untuk mengajar. Kebiasaan unik yang justru membentuk mental profesionalnya.
“Dulu waktu semester 3, saya sudah biasa bikin pelatihan pagi-pagi untuk mengajar programming C++ ke adik-adik tingkat semester 1. Lanjut lagi di semester 5, saya mengajar VB.Net,” kenangnya sambil tersenyum.
Bagi Taufan, ruang kelas bukan sekadar tempat mentransfer ilmu, melainkan kawah candradimuka bagi dirinya sendiri. “Dengan mengajar, kita justru belajar dan dipaksa untuk memperdalam konsep fundamental dari ilmu yang kita geluti,” tuturnya.
Kebiasaan mengasah skill lewat mengajar ini rupanya terbawa hingga ia berkantor di gedung pencakar langit ibu kota. Di BRI, Taufan kerap dipercaya untuk memberikan pelatihan kepada sesama kolega sejawatnya.
Tak hanya soal akademis, Taufan mengenang masa kuliahnya di UBSI sebagai momen yang berharga karena dikelilingi lingkaran pertemanan yang positif. “Di masa kuliah, berkembang bareng teman-teman yang sefrekuensi itu jauh lebih seru daripada sendirian,” tambahnya.
*Bergadang Bareng AI, Bukan Diperbudak AI*
Kini, lanskap dunia teknologi telah berubah drastis dengan disrupsi Artificial Intelligence (AI). Sebagai praktisi IT yang merasakan transisi zaman, Taufan menyadari betul perbedaannya. Jika dulu ia harus memeras otak mencari solusi error coding melalui YouTube atau Stack Overflow, kini ChatGPT bisa memberikan jawaban hanya dalam hitungan detik.
Namun, berdiri di hadapan Generasi Z angkatan 2026 yang tumbuh bersama AI, Taufan menitipkan sebuah peringatan keras. Baginya, kemudahan AI ibarat pisau bermata dua yang perlahan bisa menumpulkan daya kritis mahasiswa jika digunakan sebagai jalan pintas.
“Sekarang kita berada di zamannya AI. Kita memang harus belajar menggunakannya, tapi jangan sampai kita bergantung dan dibodoh-bodohi oleh AI. Jadikan ia sebagai asisten, bukan pengganti otak kita,” pesannya dengan nada tegas.
Baca juga: Menolak Palsukan Surat Miskin, Keputusan Arif Prakoso Pilih UBSI Mengantarnya Jadi Direktur PH
Taufan menyoroti fenomena banyaknya pelajar yang sekadar copy-paste jawaban dari AI demi tugas yang cepat selesai, tanpa memahami proses logika di baliknya.
“Kalau ingin benar-benar mendalami ilmu, harusnya kita ‘bergadang’ bareng AI. Membedah setiap baris kode, bertanya kenapa kodenya begini atau begitu, bukan cuma terima beres agar tugas cepat selesai,” pungkasnya.
Kisah Muhammad Taufan hari itu di panggung Semot 2026 UBSI, bukan sekadar cerita tentang pencapaian karier, melainkan sebuah refleksi tentang bagaimana seharusnya seorang mahasiswa membentuk dirinya. Dari kebiasaan mengajar di kampus hingga menjadi sosok penting di balik aplikasi perbankan nasional, Taufan membuktikan satu hal, bahwa sehebat apapun teknologi AI di masa depan, ia tak akan pernah bisa mengalahkan ketekunan dan mentalitas seorang pembelajar sejati.