Belajar di “Awan” dan “Ujung Jaringan”, Cerita dari Kampus UBSI kampus Bekasi

0 32

BSINews, Bekasi – Di zaman ketika semua hal bisa berpindah lewat satu klik, data bukan lagi sekadar angka di layar. Ia sudah jadi “emas baru” yang menentukan arah hidup manusia modern. Dari pesan suara, tugas kuliah, sampai jejak belanja online, semuanya bermuara pada satu hal yang tak terlihat, tapi nyata, data.

Dan di balik data, ada dua nama besar yang kini jadi bahan obrolan di ruang-ruang teknologi, Cloud Computing dan Edge Computing. Si awan dan si tepi, dua konsep yang terdengar keren tapi punya makna sederhana. Cloud adalah tempat semua hal disimpan di langit internet, sementara Edge adalah cara agar data tidak perlu jauh-jauh ke awan, cukup diolah di dekat pengguna.

Baca juga: UBSI Kampus Sukabumi Sukses Gelar Workshop Basis Data & Seminar Cloud Computing dan Blockchain

Di antara teori itu semua, mahasiswa Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) kampus Bekasi sudah membuktikan bagaimana keduanya bukan sekadar jargon futuristik. Di ruang-ruang kelas kampus, cloud bukan cuma tentang penyimpanan data, tapi juga tentang kemudahan belajar.

Materi kuliah disimpan di platform daring, proyek kelompok bisa dikerjakan bersama tanpa harus tatap muka, dan software berat yang dulu hanya bisa dijalankan di komputer kampus kini bisa diakses dari mana saja.

Sementara Edge Computing hadir untuk mereka yang suka bereksperimen dengan dunia Internet of Things. Mahasiswa bisa melakukan penelitian tentang rumah pintar, sistem keamanan otomatis, atau pengumpulan data sensor di lapangan tanpa perlu server besar. Semua serba cepat, ringkas, dan efisien.

Kepala Kampus UBSI kampus Bekasi, Ahmad Fauzi, menjelaskan bahwa penerapan konsep digital ini adalah bagian dari komitmen kampus dalam menyiapkan mahasiswa menghadapi dunia kerja yang semakin berbasis data.

“UBSI ingin membentuk lulusan yang bukan hanya paham teori, tapi juga mampu beradaptasi dengan teknologi baru. Kami ingin mahasiswa siap bersaing dan menjadi solusi di tengah perubahan digital yang sangat cepat,” ungkap Ahmad dengan nada optimistis.

Ia menambahkan bahwa kemampuan memahami Cloud dan Edge Computing menjadi bekal penting agar mahasiswa tidak tertinggal di era industri 4.0. “Dunia kerja kini mencari talenta yang bisa berpikir kritis dan punya keterampilan digital. Karena itu, kampus terus mengembangkan kurikulum dan fasilitas pembelajaran berbasis teknologi agar mahasiswa benar-benar siap terjun ke dunia profesional,” lanjutnya.

UBSI sebagai Kampus Digital Kreatif paham betul bahwa dunia kerja sekarang tidak lagi menunggu siapa yang paling pintar, tapi siapa yang paling siap menghadapi perubahan. Karena itu, kampus ini terus memperkaya mahasiswanya dengan pengetahuan digital yang relevan dan terapan. Di sini, mahasiswa tidak hanya belajar teori, tapi juga dilatih untuk berpikir logis, kreatif, dan berani bereksperimen.

Bagi generasi muda berusia 16 sampai 25 tahun, mengenal Cloud dan Edge Computing bukan cuma soal ikut tren teknologi. Ini tentang cara baru memahami dunia yang makin bergantung pada data. Dunia di mana setiap keputusan, dari bisnis sampai kehidupan pribadi, ditentukan oleh kemampuan membaca dan mengelola informasi.

Baca juga: 13 Mahasiswa Teknologi Komputer Universitas BSI Lolos Dalam Program Pelatihan Fundamentals of Cloud Computing and Networking Administration dari BPSDM KOMINFO

Dengan dukungan UBSI kampus Bekasi, para mahasiswa belajar bahwa teknologi bukan untuk ditakuti, tapi untuk dijinakkan. Bahwa di balik kompleksitas digital, ada peluang besar untuk belajar, berinovasi, dan menulis masa depan sendiri.

Karena pada akhirnya, belajar di era digital bukan lagi tentang siapa yang paling cepat menghafal teori, tapi siapa yang bisa menari luwes di antara awan dan ujung jaringan.(ACH)

Leave A Reply

Your email address will not be published.