Deep Seek vs. Qwen: Mana yang Lebih Paham Emosi Pengguna E-commerce Indonesia?

0 87

BSINews,Solo — Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) sebagai Kampus Digital Kreatif melalui pendanaan Penelitian Dana Yayasan (PDY) 2025, melakukan riset untuk menguji kelayakan model Large Language Model (LLM) open-source seperti Deep Seek dan Qwen dalam mengklasifikasikan emosi pada ulasan produk berbahasa Indonesia pada Senin (17/11). Penelitian ini bertujuan memberikan acuan independen bagi pengembang dan pelaku e-commerce di Indonesia dalam memilih model AI yang tepat.

Deep Seek vs. Qwen: Mana yang Lebih Paham Emosi Pengguna E-commerce Indonesia?

Tim peneliti yang terdiri dari Galih Setiawan Nurohim, Heribertus Ary Setyadi, dan Ahmad Fauzi, dibantu oleh dua mahasiswa, fokus pada evaluasi performa Deep Seek dan Qwen menggunakan dataset ulasan dari platform Blibli, Bukalapak, dan Lazada, termasuk dataset PRDECT-ID yang memiliki label emosi seperti love, happiness, anger, fear, dan sadness. Pendekatan yang diambil adalah evaluatif, bukan pengembangan model baru.

Pengguna e-commerce sering mengungkapkan perasaan secara natural. Pertanyaannya: seberapa bagus Deep Seek dan Qwen membaca emosi itu dalam bahasa Indonesia?” jelas Galih Setiawan.

Heribertus Ary menambahkan bahwa riset ini penting karena banyak platform di Indonesia mulai mengadopsi AI, tetapi belum semua model asing benar-benar kompatibel dengan konteks lokal. Penelitian ini juga mengevaluasi performa kedua model dalam versi kuantisasi 4-bit, untuk melihat apakah model tetap stabil dan akurat saat dijalankan pada perangkat dengan sumber daya terbatas.

Hasil pengujian ini diharapkan dapat menjadi acuan independen bagi pengembang di Indonesia sebelum memutuskan model mana yang paling layak digunakan untuk membaca emosi pengguna. Temuan ini juga membantu pelaku e-commerce dan UMKM memahami model mana yang lebih aman dan lebih tepat digunakan dalam analisis sentimen, sehingga keputusan bisnis tidak lagi hanya berdasarkan asumsi.

Riset ini juga mendorong penggunaan AI yang lebih bertanggung jawab dan tidak bias terhadap bahasa lokal, yang seringkali terabaikan ketika model global dipaksakan bekerja di konteks Indonesia. Hasilnya memberikan dasar teknis yang kuat bagi platform digital untuk menjaga kualitas interaksi penggunanya, sekaligus mengurangi risiko misklasifikasi emosi yang bisa menimbulkan salah tafsir dalam layanan digital.

Ahmad Fauzi menegaskan, “Tujuan akhirnya sederhana: memberi masyarakat dan pengembang informasi yang jujur tentang LLM mana yang paling siap dipakai di Indonesia. Kalau modelnya tidak cocok, ya kita bilang tidak cocok.” ujarnya dalam keterangan rilis Senin (17/11).

Baca Juga:DeepSeek, Inovasi AI Terbaru yang Siap Mengubah Masa Depan Teknologi

Sebagai perguruan tinggi yang berfokus pada teknologi informasi, UBSI menempatkan penelitian seperti ini sebagai langkah penting dalam memastikan teknologi global dapat diadopsi secara tepat guna. Riset ini menjadi wujud nyata komitmen kampus dalam menghadirkan manfaat publik yang relevan dan berdampak langsung pada ekosistem digital Indonesia. (Sfkrhm)

Leave A Reply

Your email address will not be published.