Di Tangannya, Bahasa Bisa Jadi Jalan Hidup
BSINews, Bekasi – Ada wisudawan yang ceritanya seperti film aksi, ada yang seperti drama Korea, dan ada yang seperti kumpulan esai reflektif yang ditulis perlahan tapi mantap. Anisah Qolby, anak Bojonggede yang kini bekerja sebagai Marketing Communication di Philips Lighting, termasuk kategori terakhir.
Tenang tapi penuh isi. “Selain bekerja, aku juga volunteer mengajar bahasa Inggris setiap Sabtu,” katanya. Satu kalimat yang langsung menjelaskan bahwa hidupnya bukan cuma soal karir, tapi juga kontribusi.
Baca juga: Si Anak Jakarta yang Belajar Bahwa Konsistensi Juga Bisa Jadi Rezeki
Pertemuan pertamanya dengan Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) cukup membuatnya angkat alis. “Aku nggak nyangka cabangnya sebanyak itu dan sudah punya jenjang S1.” Selain itu, sistem yang serba digital membuatnya merasa sedang kuliah di kampus yang memang paham ritme generasi yang tumbuh dari aplikasi dan notifikasi.
Ia masuk Sastra Inggris bukan karena ‘biar keren’, tapi karena mencintai bahasa, literatur, dan kebiasaan memandang sesuatu dari banyak sudut. Menurutnya, Sastra Inggris bukan cuma soal grammar yang bikin pusing atau speaking yang bikin gugup. Di dalamnya ada latihan menulis, berpikir kritis, sampai membaca film seperti membaca karakter manusia. Applied Linguistics dan Literary Criticism jadi dua mata kuliah yang paling membuatnya jatuh hati.
Kehidupannya selama kuliah tidak linear. Ada UKM Jurnalistik, ada kegiatan volunteer, ada freelance sebagai content writer, dan ada skripsi yang tentu saja menjadi plot twist setiap mahasiswa. Tapi semua itu justru membuatnya tumbuh lengkap, bukan hanya sebagai mahasiswa tapi sebagai manusia.
Ketika namanya muncul sebagai peraih Wisudawan Terbaik UBSI, ia cuma bisa menahan napas. “Alhamdulillah, aku bersyukur dan senang.” Penghargaan itu datang bukan dari hidup yang santai, tapi dari ritme belajar yang ia jalani dengan cara yang tidak rebut, seperti mengulang materi, memperdalam dari sumber terpercaya, dan memastikan bahwa pemahaman bukan sekadar hafalan.
Ke depannya, Anisah ingin memperkuat karir dulu. Tapi ia tidak menutup peluang melanjutkan S2. Menariknya, pilihannya bukan hanya Sastra, tetapi juga Sosiologi atau Psikolinguistik, dua bidang yang sama-sama mempelajari manusia, bahasa, dan dunia batin yang membentuk perilaku. Ia bilang, “Aku tertarik memahami dinamika sosial, cara berpikir manusia, serta hubungan bahasa dan perilaku.”
Soal sistem pembelajaran, ia mengakuinya sebagai kombinasi yang pas. Ada teori, tapi ada juga praktik melalui project. Bukan sekadar duduk dan mendengar, tapi mengerjakan sesuatu yang nyata.
Baca juga: Wisuda yang Menyisakan Kursi Kosong
Harapannya sederhana tapi luas, yaitu lulusan UBSI bisa terus belajar, siap bersaing, dan membawa karakter baik ke mana pun mereka melangkah. Untuk adik tingkat, nasihatnya tidak rumit, “jalani kuliah dengan seimbang. Jangan hanya memburu nilai. Pengalaman organisasi, kepanitiaan, dan kegiatan sosial seringkali menjadi hal yang paling dicari dunia profesional.”
Anisah tumbuh di antara kata-kata, tapi langkah hidupnya dituntun oleh tindakan. Dari kelas Sastra Inggris hingga ruang kerja perusahaan global, dari tugas kuliah hingga mengajar anak-anak, semuanya memperlihatkan satu hal bahwa bahasa yang ia pelajari tidak hanya keluar lewat tulisan atau pidato tetapi lewat cara ia hadir, bekerja, dan memberi manfaat.(ACH)