Generasi Multitasking: Efektif atau Sekadar Lelah?

0 68

BSINews, Bekasi — Sobat BSI, di tengah era serba cepat seperti sekarang, multitasking atau melakukan banyak hal dalam satu waktu telah menjadi kebiasaan sehari-hari bagi banyak mahasiswa. Mendengarkan kuliah sambil membalas chat, mengerjakan tugas sambil menonton YouTube, atau bahkan makan sambil scroll media sosial. Semua tampak produktif di permukaan. Tapi, pertanyaannya adalah: apakah multitasking benar-benar membuat kita lebih efektif, atau justru melelahkan tanpa hasil maksimal?

Generasi Multitasking: Efektif atau Sekadar Lelah?

Kita generasi muda, terutama mahasiswa adalah pelaku utama multitasking digital. Dengan akses ke berbagai platform dan perangkat secara bersamaan, kita merasa perlu mengerjakan semuanya sekaligus agar tidak ketinggalan. Tapi benarkah itu efisien? Atau hanya sekadar bentuk lain dari distraksi yang dibungkus produktivitas semu?

Otak manusia sejatinya tidak dirancang untuk fokus pada banyak hal dalam satu waktu. Alih-alih mengerjakan dua tugas secara paralel, kita sebenarnya hanya berpindah fokus dengan sangat cepatโ€”yang justru menurunkan kualitas kerja. Studi psikologi kognitif menunjukkan bahwa multitasking bisa menurunkan produktivitas hingga 40%. Jadi, multitasking bisa membuat kita merasa sibuk, tapi hasilnya tidak sebanding dengan energi yang dikeluarkan.

Multitasking semakin populer sejak teknologi mobile dan media sosial menjadi bagian tak terpisahkan dari hidup mahasiswa. Perpaduan antara kebutuhan akademik, sosial, dan hiburan yang semuanya ada dalam satu perangkat smartphone mendorong kita untuk melakukan semuanya sekaligus. Bahkan saat belajar pun, notifikasi bisa muncul setiap detik dan mengalihkan fokus.

Baca Juga:Ngoding? Itu Baru Awal! Inilah Fakta Jurusan Teknologi Informasi yang Wajib Kamu Tahu

Sobat BSI bisa merasakannya saat mengerjakan tugas yang membutuhkan konsentrasi tinggi. Saat kita membuka banyak tab browser, menggabungkan musik, chat, dan dokumen sekaligus, sering kali hasil akhirnya tidak maksimal. Bahkan dalam kehidupan sosial, multitasking dapat membuat kita tidak benar-benar hadir dalam percakapan karena pikiran terbagi ke mana-mana.

Kita hidup dalam budaya kecepatan dan tuntutan serba instan. Kita merasa harus selalu โ€œonโ€ dan produktif. Multitasking memberikan ilusi efisiensi. Namun sayangnya, banyak dari kita justru kelelahan, kehilangan fokus, dan mengalami stres karena tidak benar-benar menyelesaikan pekerjaan dengan tuntas.

Sobat BSI, langkah awal adalah menyadari bahwa fokus adalah kekuatan utama. Cobalah teknik seperti time blocking, di mana setiap aktivitas mendapat waktu khusus tanpa gangguan. Matikan notifikasi saat belajar, dan kerjakan satu tugas sampai selesai sebelum berpindah. Multitasking bukan dosa, tapi harus digunakan secara bijak agar tidak membuat kita sekadar sibuk tapi sebenarnya lelah dan kosong. (Safika Rahman)

Leave A Reply

Your email address will not be published.