LDK HIMAIF 2025: Antara Kaos Kaki Basah, Kepemimpinan, dan Tronton TNI

0 70

BSINews, Bogor – Jadi begini, kalau kamu pikir belajar jadi pemimpin itu cuma duduk manis di ruang ber-AC sambil dengerin motivator yang kata-katanya kayak kutipan IG, kamu mungkin belum pernah ikut Latihan Dasar Kepemimpinan alias LDK. Terutama kalau LDK-nya digelar sama anak-anak HIMAIF (Himpunan Mahasiswa Informatika) Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI).

Bayangin, akhir April kemarin, tepatnya 26-27 April 2025, sekelompok mahasiswa muda ini—yang biasanya akrab dengan laptop, kode program, dan kopi sachet tiga rasa—tiba-tiba memboyong diri ke Villa DC di Cisarua, Bogor. Tempat adem, dingin, dan cukup jauh dari sinyal galau perkuliahan. Tujuannya satu, yaitu belajar jadi pemimpin. Tapi tentu saja, dengan bumbu absurd dan drama khas kegiatan mahasiswa.

Baca juga: 1 Hari LDKM Penuh Inspirasi: HIMASI UBSI Karawang Cetak Pemimpin Muda di Purwakarta

Pedro Lucio Parera, sang Ketua Pelaksana, udah kasih semangat dari awal. Suaranya lantang, gayanya sigap, meski isi kepalanya pasti penuh checklist dan kekhawatiran: “Apakah peserta bakal antusias? Apakah konsumsi cukup? Apakah tronton TNI nanti bakal datang tepat waktu?”

Tapi begitulah Pedro. Di balik kelegaan senyumnya, ia juga harus ngurus peserta yang baru sadar lupa bawa kaos kaki cadangan setelah sesi Team Building. Salah satu tantangannya, FYI, adalah memindahkan air pakai mangkok plastik sambil ngelepas kaos kaki. Drama pun muncul saat air tumpah dan kaos kaki terakhir satu grup tercebur. Beberapa peserta ketawa sampai guling-guling, beberapa panitia diam-diam mencari plastik buat ganti kaos kaki basah. Kepemimpinan? Mulai diuji dari hal sekecil ini.

Di balik tawa-tawa receh, kegiatan ini ternyata serius banget. Materi kepemimpinan disampaikan Arnoldus Raja Ino—yang tampaknya lebih suka bikin peserta mikir keras ketimbang nyatat diam. Ada pertanyaan yang dilempar ke peserta, seperti “Kenapa pemimpin sering gagal?” atau “Apa bedanya pemimpin dan bos?” yang jawabannya lebih bikin terdiam daripada pertanyaan “Kapan lulus?”

Lanjut ke sesi pengorganisasian, dibawakan oleh Ananda Putra Apriandi. Di sini, peserta diajak buka mata soal betapa rumit dan rapuhnya organisasi kalau nggak ada struktur jelas. Serius, kalau organisasi cuma jalan karena satu orang, itu bukan organisasi, itu personal brand.

Tapi ya, kegiatan mahasiswa nggak lengkap tanpa Makrab alias Malam Keakraban. Saat malam turun dan udara Cisarua mulai menusuk tulang, para peserta berkumpul, berbagi cerita, dan membakar makanan sambil nyanyi-nyanyi. Di sinilah biasanya topeng-topeng keras mulai rontok. Ada yang nangis diam-diam pas denger cerita perjuangan salah satu peserta kuliah sambil kerja. Ada juga yang tiba-tiba sadar, “Oh, ternyata temen satu divisi gue selama ini tinggal satu kosan doang.”

Hari kedua, udara Bogor nggak ada kompromi. Dinginnya nusuk, tapi peserta harus bangun, senam, dan ikut materi kelembagaan dari Eka Kusuma Pratama. Materinya padat dan tegas. Tentang peran pemimpin dalam lembaga, dan bagaimana institusi harusnya bikin sistem berjalan, bukan sekadar bertumpu pada satu figur kuat. Dalam benak peserta, mungkin terbayang organisasi kampus yang sering jalan kayak sinetron karena satu orang dominan dan lainnya cuma cameo.

Sebelum balik, peserta sempat sharing pengalaman. Ada yang mengaku baru sadar kalau jadi pemimpin itu bukan soal banyak ngomong, tapi soal mendengar. Ada juga yang bilang, baru kali ini merasa “punya keluarga” di tengah hiruk-pikuk kuliah daring dan tugas tak berkesudahan.

Baca juga: HIMSI Universitas BSI Kampus Purwokerto Gelar Latihan Dasar Kepemimpinan, Kolaborasi Akademisi dan Profesional Militer

Yang bikin epic, mereka pulangnya naik tronton TNI. Iya, kamu nggak salah baca. Tronton. T. R. O. N. T. O. N. Kendaraan besar yang biasanya angkut pasukan. Rasanya kayak abis latihan militer—walaupun sebenarnya cuma latihan kepemimpinan dan main game mindahin air. Tapi siapa sangka, di atas tronton itu, justru banyak momen reflektif. Peserta memandangi jalan pulang, sambil dalam hati berjanji: “Gue bakal jadi pemimpin yang lebih baik. Yang nggak cuma pintar ngomong, tapi juga tahu kapan harus diam dan mendengar.”

LDK HIMAIF 2025 bukan cuma soal sertifikat PDF yang bisa dipajang di LinkedIn. Ini tentang perjalanan anak-anak muda dari UBSI yang belajar jadi versi terbaik dari dirinya—di tengah tawa, air tumpah, dingin Bogor, dan senyap malam yang mengajarkan, bahwa kepemimpinan sejati dimulai dari keberanian untuk mendengarkan. Bahkan kalau yang didengar cuma suara hati sendiri yang bilang: Gue bisa!(ACH)

Leave A Reply

Your email address will not be published.