Mahasiswa UBSI Cegah Tangkai Radikalisme, Lewat Focus Group Discussion Komunikasi Sosial

0 159

Pontianak BSI-News

Perwakilan dari Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) Kampus Pontianak yaitu mahasiswa pengurus Himpunan Mahasiswa Sistem Informasi (HIMSI) menghadiri undangan di Aula Sudirman Kodam XII/Tpr dalam kegiatan Focus Group Discussion Komunikasi Sosial dengan mengangkat tema “Cegah Tangkai Radikalisme/Separatismes”.

Radikalisme sendiri dapat diartikan sebagai paham/aliran yang menginginkan perubahan dalam lingkungan dan politik dengan cara yang ekstrem dan terdapat kekerasan di dalamnya. Dapat juga disebut sebagai gerakan sekelompok orang atau gerakan politik yang kendur dengan tujuan mencapai kemerdekaan atau pembaruan electoral yang mencakup mereka yang berusaha mencapai republikanisme, penghapusan gelar, redistribusi hak milik dan kebebasan pers, dan dihubungkan dengan perkembangan liberalisme.

Sementara separatisme adalah usaha dari suatu kelompok atau golongan untuk memecahkan satu dan kesatuan suatu bangsa.

Di dalam kegiatan seminar yang sangat bermanfaat untuk mahasiswa agar tidak terjebak dan melakukan aksi radikalisme/separatis itu dihadiri juga oleh tokoh-tokoh penting yang memberikan pemahaman kepada para hadirin mengenai radikalisme/separatis, yaitu Ustad Sofyan dan Rektor dari UNTAN.

Ustad Sofyan Sauri menyampaikan empat poin penting di dalam seminar “Cegah Tangkai Radikalisme/Separatisme.”

“Memberikan pemahaman kepada orang-orang yang terpengaruh dalam pembicaraan radikalisme, bebricara yang baik kepada tetangga, memberitahu berita hoax yang telah diketahui oleh banyak orang yang termasuk dalam terorisme, terorisme itu seperti narkoba dapat membuat candu dan terakhir dapat memunculkan konflik termasuk dalam kemunculan radikalisme,” paparnya.

Ustad Sofyan juga mengatakan bahwa umat muslim di Indonesia banyak mendirikan pesantren, namun dalam masyarakat banyak terjadi konflik, tidak ada regulisasi.

“Amalan ada pertentangan itu harus ditunda bukan dilakukan dalam ruang lingkup masyarakat. Cara menanamkan perbedaan yang ada dalam masyarakat, banyak generasi muda buta nilai toleransi, para mentor  harus memahamkan nilai-nilai kebangsaan kepada adik kelas,” lanjutnya.

Sementara Rektor UNTAN menyampaikan harapannya kepada mahasiswa sebagai agen pencegahan dalam aksi radikalisme,

“Ada banyak organisasi yang bergerak dalam bidang penjelasan nasionalisme di berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Kegiatan yang dilakukan Pendidikan membentuk kelembagaan Pendidikan, lalu membantu Gerakan gugus nasionalisme /pratotisme di mahasiswa. Dalam kegiatan ini pesertanya ialah para pelajar, berharap akan menjadi agen pencegahan, menumbuhkan rasa semangat kepada para mahasiswa dalam melakukan pembinaan kepada masyarakat dan pelajar (wawasan kebangsaan).

Leave A Reply

Your email address will not be published.