Mau Gen Z Suka Baca Buku? Ya Jangan Disuruh Baca Buku Aja, Lah!
BSINews, Pontianak – Bayangin kamu jadi mahasiswa. Tugas numpuk. Deadline meringkuk di pojok kamar, sambil nyengir sinis. HP getar tiap lima detik, isinya notifikasi TikTok, WhatsApp, dan video reels yang ngajarin cara bikin kopi dalgona level dewa. Lalu datanglah dosen, dengan senyum teduh, berkata “Silakan baca buku ini. Hanya 400 halaman, bisa selesai dalam dua hari ya.”
Di sinilah drama generasi Gen Z dimulai. Generasi yang lahir barengan sama iPhone, tumbuh besar bareng YouTube, dan remaja bareng algoritma. Mereka bukan nggak cerdas. Mereka cepat, tanggap, dan multitasking sejati. Tapi kalau disuruh duduk tenang tiga jam buat baca buku cetak berbahasa akademik yang tipenya font Times New Roman 11 — ya ampun, rasanya kayak disuruh mendaki bukit pakai sendal jepit.
Baca juga: Lapak Literasi HIMASA UBSI Kampus Sukabumi Dorong Minat Baca Masyarakat
Tapi bukan berarti mereka anti baca. Mereka hanya perlu diajak dengan cara yang nggak bikin mual duluan. Dan di sinilah Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) Kampus Pontianak memutuskan untuk gak ngotot, tapi ngikutin irama.
Dosen-dosen di UBSI Kampus Pontianak paham betul satu hal, kalau budaya baca ingin hidup kembali, maka perpustakaan harus berhenti jadi tempat yang cuma diingat saat butuh tempat tidur siang atau ngadem. Perpustakaan harus jadi ruang hidup — tempat di mana ide-ide tumbuh, bukan sekadar debu di rak.
Maka dimulailah revolusi kecil. Buku fisik tetap ada, tapi pelan-pelan dibarengi e-book, jurnal ilmiah online, dan akses database akademik yang bisa diklik lewat HP masing-masing. Wi-Fi kenceng disediakan, ruang baca dibikin estetik dan nyaman, bahkan layanan peminjaman digital dibuat sedemikian rupa agar mahasiswa bisa baca di kamar, di kafe, atau bahkan sambil ngantri nasi padang.
Dan yang lebih penting lagi, ada pelatihan literasi informasi. Mahasiswa diajarin cara nyari referensi yang bener, bukan sekadar comot Wikipedia. Dikasih tahu cara bikin kutipan, nulis daftar pustaka, sampai cara membedakan mana jurnal, mana blog temen yang sok ilmiah. Biar mereka nggak tersesat di tengah lautan informasi.
Di tengah suasana kampus yang makin digital, pertanyaan besarnya bukan “Kenapa mahasiswa malas baca?”, tapi “Sudahkah kita ngasih alasan yang cukup buat mereka mau baca?
Dan jawaban UBSI Kampus Pontianak jelas, sudah dan terus diupayakan. Mereka percaya mahasiswa akan baca kalau tahu manfaatnya. Bukan cuma buat nyelesain tugas dosen, tapi juga buat survive di dunia kerja, buat mikir lebih kritis, atau bahkan sekadar biar nggak gampang ketipu hoaks.
“Gen Z bukan generasi bodoh. Mereka cuma butuh diajak ngobrol, bukan digurui. Mereka butuh rasa relevansi, bukan sekadar tumpukan bahan bacaan yang katanya penting tapi nggak ngerti kenapa penting,” ujar Panny Agustia Rahayuningsih, Staf Perpustakaan UBSI Kampus Pontianak.
Baca juga: Pejuang Rupiah Wajib Baca! Biar Nggak K.O. di Tengah Jalan, Ini Tips Jitu Kuliah Sambil Kerja!
Budaya baca itu kayak otot. Kalau nggak dilatih, ya lemes. Tapi kalau dilatih dengan cara yang cocok, bisa bikin kita lebih kuat mikir, lebih nyaring suara, dan lebih tahan banting saat hidup mulai ngawur. UBSI Kampus Pontianak, dengan semua langkah praktisnya, sudah mulai melatih itu. Pelan-pelan, tapi mantap.
“Jadi, kalau kamu mahasiswa dan merasa malas baca, mungkin bukan kamu yang salah. Mungkin sistemnya aja yang belum ngajak kamu dengan cara yang tepat. Tapi sekarang, alasan itu makin nggak valid. Karena akses sudah dimudahkan, manfaat sudah dikasih tahu, dan lingkungan sudah mulai disulap jadi tempat yang ngajak mikir,” pungkasnya.(ACH)