Merdeka di Dunia Digital, dari Aula Kampus Karawang Sampai Timeline Anak SMA
BSINews, Karawang – Coba bayangin suasana aula kampus di Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) kampus Karawang, ratusan siswa dengan seragam rapi, guru-guru dengan wajah separuh serius separuh pasrah, plus layar proyektor yang siap menyajikan materi tentang “kemerdekaan digital”. Sekilas kedengarannya kayak jargon, tapi coba deh tengok lebih dekat, topik ini justru nyambung banget sama kehidupan anak muda sekarang.
Ya gimana enggak? Menurut data APJII, mayoritas pengguna internet di Indonesia itu anak muda usia 13-24 tahun. Artinya, timeline medsos kita penuh sama anak SMA yang lebih sering debat fandom K-pop daripada ngerjain tugas biologi. Di situlah letak masalahnya. Dunia digital ini luas, tapi juga berisik, penuh jebakan hoaks, cyberbullying, sampe link mencurigakan yang ujung-ujungnya bikin HP nge-hang.
Baca juga: UBSI Kampus Cengkareng Gelar Seminar Kemerdekaan Digital, Kupas Peran AI untuk Karya Ilmiah
Nah, UBSI sebagai Kampus Digital Kreatif cukup peka. Mereka bikin Seminar Kemerdekaan Digital pada Rabu (3/9), sekaligus nyambungin semangat Hari Kemerdekaan RI ke-80 dengan realita dunia maya.
“Generasi muda Karawang punya potensi besar untuk jadi motor perubahan. Tapi mereka juga menghadapi risiko yang nggak kecil di dunia digital. Lewat seminar ini, kami ingin menanamkan semangat kemerdekaan digital, merdeka menggunakan teknologi dengan bijak,” kata Hasan Basri, Kepala Kampus UBSI kampus Karawang, dalam sambutannya, Rabu (3/9).
Acaranya rame, lebih dari 500 siswa SMA, SMK, MA, plus guru pendamping ikut nimbrung. Ada sesi materi, tanya jawab, simulasi keamanan digital, sampai kuis pakai aplikasi. Jadi bukan cuma duduk diem dengerin slide, tapi juga ikut mikir dan nggak ngantuk.
Salah satu siswi SMKN 2 Karawang semangat banget habis ikutan. Katanya, “Saya jadi lebih paham cara melindungi data pribadi di media sosial dan pentingnya nggak sembarangan klik tautan. Ternyata hal kecil bisa berdampak besar.” Bayangin kalau semua anak muda punya kesadaran itu, mungkin timeline medsos kita lebih sehat, nggak penuh jebakan clickbait receh.
Guru-guru pun ikut seneng. Siti, guru dari SMA Negeri 1 Pedes bilang jujur, “Sebagai guru, kami sering kewalahan ngawasin aktivitas digital siswa. Seminar ini membantu kami dapet wawasan supaya bisa bimbing mereka lebih efektif.” Jujur aja, kadang guru kalah update dibanding muridnya.
Di sesi lain, Moch. Syamsul Azis selaku narasumber, ngomongin soal jejak digital. Singkatnya, apa pun yang kamu unggah hari ini bisa menghantui masa depanmu. Mau foto alay, twit kasar, atau curhatan soal mantan, semua bisa jadi bumerang pas HRD perusahaan nge-stalk akunmu. Jadi jangan salahin siapa-siapa kalau lamaranmu di-ghosting.
Tapi seminar ini nggak cuma ngomongin bahaya. Ada juga pembahasan soal peluang, seperti ekonomi digital Indonesia diprediksi tembus Rp 2.300 triliun pada 2025. Bayangin, kalau anak-anak Karawang ini bisa memanfaatkan teknologi buat jualan, bikin konten kreatif, atau bikin startup, bukan nggak mungkin masa depan mereka lebih cerah daripada sekadar jadi korban scroll TikTok 8 jam sehari.
Akhir acara, Hasan Basri nutup dengan kalimat yang lumayan nyantol, “Semoga setelah ini para siswa nggak cuma cakap teknologi, tapi juga bijak dalam menggunakannya. Itulah wujud nyata kemerdekaan digital.”
Dan betul juga. Merdeka di dunia digital itu bukan berarti bebas upload apa aja, tapi bebas dari kebodohan diri sendiri. Bebas dari jebakan hoaks, bebas dari candu likes, dan bebas untuk bikin teknologi kerja buat kita, bukan sebaliknya.
Karena pada akhirnya, perjuangan di era sekarang bukan lagi angkat bambu runcing, tapi angkat kesadaran digital. Kalau dulu pahlawan kita merebut kemerdekaan fisik, sekarang giliran kita memperjuangkan merdeka dari timeline yang toxic.