Nilai Kuliah Saja Tak Cukup, Perlu Asah Soft Skill untuk Hadapi Dunia Kerja

0 7

BSINews, Karawang – Memiliki nilai akademik yang baik merupakan modal penting bagi mahasiswa. Namun, ketika memasuki dunia kerja, kemampuan memahami materi perkuliahan saja belum tentu cukup. Mahasiswa juga perlu mampu menyampaikan gagasan, bekerja sama dengan orang lain, mengatur waktu, dan mencari solusi ketika menghadapi persoalan yang tidak selalu memiliki jawaban pasti. Itulah pentingnya mengasah soft skill.

Tuntutan tersebut menjadi bagian dari tantangan yang perlu dipersiapkan mahasiswa Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) Kampus Karawang sejak masih menjalani perkuliahan. Dunia profesional tidak hanya menilai apa yang diketahui seseorang, tetapi juga bagaimana pengetahuan tersebut diterapkan dalam situasi kerja yang dinamis.

Baca juga: Public Speaking Jadi Soft Skill Wajib Mahasiswa di Era AI, Ini Alasannya!

Selama kuliah, mahasiswa terbiasa mempelajari teori, mengerjakan tugas, dan mengikuti evaluasi akademik. Sementara itu, lingkungan kerja menghadirkan tantangan yang lebih beragam. Seseorang perlu berkomunikasi dengan rekan kerja yang memiliki karakter berbeda, menyesuaikan diri dengan perubahan, serta mengambil keputusan ketika menghadapi masalah.

Karena itu, keterampilan teknis atau hard skill perlu berjalan beriringan dengan keterampilan nonteknis atau soft skill. Keduanya saling melengkapi dalam membentuk kesiapan mahasiswa menghadapi dunia profesional.

Komunikasi dan Adaptasi Jadi Bekal Penting dalam Soft Skill

Kemampuan komunikasi menjadi salah satu keterampilan yang perlu diasah selama kuliah. Mahasiswa tidak cukup hanya memahami suatu materi, tetapi juga perlu mampu menjelaskan ide secara jelas, mendengarkan pendapat orang lain, serta menerima masukan tanpa menganggapnya sebagai serangan pribadi.

Keterampilan tersebut dapat dilatih melalui diskusi kelas, presentasi, kerja kelompok, hingga keterlibatan dalam organisasi mahasiswa. Situasi-situasi itu memberi kesempatan untuk belajar menyampaikan pendapat sekaligus memahami sudut pandang orang lain.

Selain komunikasi, kemampuan beradaptasi juga semakin penting ketika teknologi dan pola kerja terus berubah. Perangkat yang digunakan perusahaan dapat berkembang, sistem kerja dapat diperbarui, dan tuntutan pekerjaan bisa berubah mengikuti kebutuhan industri.

Mahasiswa tidak harus menguasai setiap teknologi baru yang muncul. Hal yang lebih mendasar adalah memiliki kemauan untuk belajar, mampu mencari informasi yang relevan, dan tidak mudah menyerah ketika menghadapi sesuatu yang belum dipahami.

Kepala UBSI Kampus Karawang, Mohammad Syamsul Azis dalam draf kutipan editorial menekankan pentingnya proses pembelajaran yang tidak terbatas pada kegiatan akademik di kelas.

“Dunia kerja membutuhkan orang yang mampu belajar dan beradaptasi ketika menghadapi persoalan baru. Karena itu, pengalaman mahasiswa di luar kegiatan akademik juga memiliki nilai dalam membentuk kesiapan profesional,” kata Azis, Kamis (15/10).

Belajar Mengatur Waktu dan Menyelesaikan Masalah

Tantangan berikutnya adalah manajemen waktu. Jadwal perkuliahan, tugas, kegiatan organisasi, dan pekerjaan dapat datang bersamaan. Tanpa kemampuan menentukan prioritas, mahasiswa berisiko kesulitan menyelesaikan tanggung jawabnya secara optimal.

Kebiasaan menyusun jadwal, membagi pekerjaan menjadi beberapa tahap, dan menghindari penundaan dapat membantu mahasiswa mengelola berbagai tanggung jawab. Keterampilan ini tidak hanya berguna selama kuliah, tetapi juga menjadi bekal ketika menghadapi target dan tenggat waktu di tempat kerja.

Kemampuan memecahkan masalah atau problem solving juga perlu dibangun melalui pengalaman. Ketika menemui kendala dalam proyek atau tugas kelompok, mahasiswa dapat belajar mengidentifikasi penyebab persoalan, mempertimbangkan pilihan, dan menentukan solusi yang paling sesuai.

Proses tersebut dapat diasah melalui proyek perkuliahan, kepanitiaan, kompetisi, maupun pengalaman magang. Dari berbagai kegiatan itu, mahasiswa berkesempatan belajar bahwa menyelesaikan masalah membutuhkan ketelitian, komunikasi, dan kesediaan mengevaluasi pendekatan yang digunakan.

Pengalaman membagi waktu juga dirasakan Kohar Hanapi, mahasiswa UBSI Kampus Karawang.

“Saya baru menyadari pentingnya mengatur waktu ketika harus membagi tugas kuliah dengan kegiatan lain. Dari situ saya belajar membuat prioritas dan tidak menunda pekerjaan,” ujar Kohar, Kamis (15/10).

Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa keterampilan nonteknis sering kali berkembang melalui kebiasaan sehari-hari. Kemampuan mengatur waktu, misalnya, tidak terbentuk hanya dengan memahami teorinya, tetapi juga dengan berlatih menjalankannya ketika menghadapi beberapa tanggung jawab sekaligus.

Kesiapan Kerja Dibangun Sejak Masa Kuliah

Persiapan menghadapi dunia kerja tidak harus menunggu mahasiswa menyelesaikan pendidikan. Prosesnya dapat dimulai melalui keberanian mengambil tanggung jawab, aktif berdiskusi, terlibat dalam proyek, dan mencoba pengalaman baru yang relevan dengan bidang yang diminati.

Bagi mahasiswa UBSI Kampus Karawang, pengalaman akademik dan kegiatan di luar kelas dapat menjadi ruang untuk mengembangkan kemampuan secara bertahap. Pengetahuan yang diperoleh selama perkuliahan menjadi fondasi, sedangkan pengalaman membantu mahasiswa memahami cara menerapkannya dalam situasi nyata untuk mengasah soft skill.

Melalui proses pembelajaran dan berbagai pengalaman selama kuliah, UBSI Kampus Karawang terus mendorong mahasiswa untuk mengembangkan potensi akademik sekaligus keterampilan praktis yang relevan dengan kebutuhan industri seperti soft skill. Bagi calon mahasiswa yang ingin mengenal lebih jauh program studi dan lingkungan pembelajaran di UBSI, informasi selengkapnya dapat ditemukan melalui situs resmi https://pmbubsi.id/ atau https://bsi.ac.id.

Leave A Reply

Your email address will not be published.