Puteri Indonesia 2026: Dari Panggung ke Pendidikan, Cerita di Balik Pembekalan
BSINews, Jakarta – Pagi itu, Aula Mangunsarkoro di kawasan Menteng terasa berbeda. Bukan sekadar ruang pertemuan biasa, tapi seperti titik temu mimpi-mimpi besar yang sedang dipoles sebelum melangkah ke panggung nasional.
Sebanyak 45 finalis Puteri Indonesia 2026 duduk rapi, membawa harapan dari masing-masing provinsi dan mungkin juga membawa cerita panjang tentang bagaimana mereka sampai di kursi itu.
Baca juga: Puteri Indonesia Gak Cuma Modal Beauty, Tapi Juga Brain! Yayasan BSI Siapkan Kursi Kuliah Gratis
45 Finalis Puteri Indonesia 2026 Ikuti Pra Karantina
Di antara rangkaian pembekalan pra karantina yang berlangsung pada Selasa, 14 April 2026, ada satu sesi yang terasa lebih personal. Bukan hanya soal materi, tapi tentang arah masa depan. Sindy Novela hadir bukan sekadar sebagai alumni ajang alias Puteri Indonesia Jambi 2023, tapi sebagai representasi perjalanan, dari panggung kecantikan ke ruang akademik.
Sindy sebagai penerima beasiswa di Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) datang mewakili Ir. Naba Aji Notoseputro selaku BPH Yayasan Bina Sarana Informatika, membawa satu pesan sederhana tapi dalam, bahwa kecerdasan, karakter, dan pendidikan adalah fondasi yang tidak bisa ditawar.
Dalam pemaparannya, Sindy tidak hanya bicara soal pengalaman di dunia pageant, tapi juga membuka akses yang konkret untuk masa depan para finalis.
Finalis Puteri Indonesia Raih Kesempatan Beasiswa
“Melalui BSI Group, kami membuka kesempatan beasiswa pendidikan bagi seluruh finalis Puteri Indonesia 2026, mulai dari jenjang S1, S2, hingga S3. Harapannya, para finalis tidak hanya berkembang di panggung, tetapi juga memiliki fondasi akademik yang kuat untuk masa depan,” ujar Sindy Novela dalam sesi pembekalan, Selasa (14/4).
Ia juga menambahkan bahwa pendidikan adalah investasi jangka panjang yang tidak boleh diabaikan, bahkan oleh mereka yang sudah berada di panggung nasional.
“Ajang ini adalah pintu, bukan tujuan akhir. Ketika panggung selesai, yang akan terus berjalan adalah bagaimana kita mengembangkan diri, salah satunya melalui pendidikan,” lanjutnya.
Apa yang disampaikan Sindy seperti mengubah arah pikir di dalam ruangan. Dari yang awalnya fokus pada kompetisi, perlahan bergeser ke refleksi tentang hidup setelah mahkota.
Ia menyampaikan bahwa BSI Group yang menaungi UBSI, Universitas Nusa Mandiri (UNM), dan Universitas Siber Indonesia atau lebih dikenal Cyber University berkomitmen mendukung pendidikan para finalis melalui program beasiswa penuh tersebut.
Di sisi lain, kegiatan pra karantina ini sendiri bukan acara seremonial kosong. Berdasarkan surat resmi dari Yayasan Puteri Indonesia, seluruh finalis memang dipersiapkan melalui pembekalan intensif yang mencakup nilai 5B yakni Brain, Beauty, Behavior, Brave, dan Be Right.
Dan mungkin di situlah letak menariknya hari itu. Di satu sisi, ada panggung yang menilai penampilan. Di sisi lain, ada ruang yang menyiapkan masa depan.
Karena pada akhirnya, mahkota itu bukan tujuan akhir. Ia hanya simbol. Yang lebih penting adalah apa yang dibangun setelahnya yaitu pengetahuan, karakter, dan keberanian untuk terus melangkah, bahkan saat lampu sorot sudah padam.