PKL Bukan Lagi Fotokopi! dari Mesin Ketik ke Konten TikTok
BSINews, Karawang – Kalau ketemu kata PKL (Praktek Kerja Lapangan), banyak siswa SMK langsung kebayang hal yang sama, yaitu kerja rodi di kantor kecil, fotokopi bolak-balik, bikin kopi sachet, atau sekadar disuruh “bantuin” ngurusin Excel yang isinya nggak pernah selesai. Intinya, PKL sering terasa kayak formalitas belaka yang penting absen terisi, tanda tangan pembimbing dapat, lalu selesai.
Tapi lain cerita dengan anak-anak SMK TI Muhammadiyah Cikampek yang dapet jatah PKL di Digital Creative Center (DCC) berkolaborasi dengan Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) kampus Cikampek. Alih-alih disuruh fotokopi atau bikin kopi, mereka malah diminta bikin konten. Ya, konten. Sesuatu yang ironisnya mungkin mereka lebih jago daripada gurunya sendiri.
DCC ini bukan ruang lab komputer kaku dengan deretan CPU Pentium 4 yang kipasnya bunyi kayak mesin cuci. Ini semacam creative hub ala kampus, tempat main-main yang serius, tempat kerja yang santai, tapi bikin kepala ngebul karena tiap hari ada aja tantangan baru untuk bikin desain visual, nyusun strategi media sosial, sampai nulis rilis.
Bayangin aja, biasanya PKL identik dengan kerja monoton seperti masuk, duduk, nunggu jam pulang. Di sini, mereka malah kayak dilempar ke dunia nyata industri kreatif, “Hari ini bikin mini video edukasi ya, besok bikin poster promosi, lusa ikut brainstorming buat kampanye sosial.” Gila, itu udah lebih mirip start-up agency ketimbang program PKL.
Dan yang bikin tambah seru, mereka nggak sendirian. Lingkungan DCC ini kolaboratif banget. Ada mentor dari dosen dan praktisi digital yang nggak cuma kasih instruksi, tapi juga ngajarin cara mikir strategis. Jadi, bukan sekadar “kerjain ini”, tapi “kenapa ini harus dikerjain, gimana efeknya, apa bisa lebih kreatif lagi?”
Buat anak-anak SMK, ini pengalaman berharga. Mereka nggak cuma tahu teori pemasaran atau desain, tapi langsung nyemplung ke proyek beneran. Portofolionya jadi hidup, bukan sekadar laporan PKL tebal yang ujung-ujungnya cuma ditaruh di lemari sekolah dan berdebu.
Yang lebih penting lagi, mereka belajar soal ritme kerja industri kreatif. Bahwa bikin konten itu bukan cuma soal “cari template di Canva”, tapi mikirin strategi, tren, bahkan audiens yang kadang lebih susah ditebak daripada mood dosen waktu sidang skripsi.
Jadi, PKL kali ini nggak cuma bikin mereka sibuk, tapi juga bikin mereka siap. Siap kerja, siap bersaing, dan siap ngomong ke orang tua di rumah, “Mah, PKL aku bukan lagi bikin kopi, tapi bikin konten. Dan ternyata, itu lebih bikin deg-degan.”
Baca juga: UBSI Gelar Sosialisasi PKL Prodi Rekayasa Perangkat Lunak, Bekali Mahasiswa Hadapi Dunia Industri TI
Karena pada akhirnya, UBSI sebagai Kampus Digital Kreatif berpikir bahwa PKL bukan tentang dapat sertifikat atau nilai rapor. PKL itu tentang pengalaman yang bisa bikin kita ngerti bahwa dunia kerja tuh ribet, seru, capek, tapi kalau dijalani dengan kreatif dan bareng-bareng, bisa juga jadi menyenangkan.(ACH)