Revolusi AI di Dunia Pendidikan: Inovasi Tanpa Menggeser Peran Guru

0 22

BSINews, Karawang — Kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) terus membuka peluang baru dalam dunia pendidikan. Melihat fenomena ini, Mochamad Syamsul Azis, akademisi sekaligus praktisi teknologi informasi, membahas secara mendalam peran AI dalam proses belajar-mengajar, pengelolaan pendidikan, dan administrasi sekolah maupun perguruan tinggi dalam Seminar Kemerdekaan Digital yang digelar Rabu (3/9) di Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) kampus Karawang.

AI Jadi Tutor Pribadi dan Alat Pembelajaran Adaptif

Syamsul menekankan bahwa transformasi digital di sektor pendidikan tidak bisa dihindari, dan AI hadir untuk mempersonalisasi proses belajar. Teknologi ini memungkinkan materi pembelajaran disesuaikan dengan kemampuan tiap siswa, sehingga setiap individu dapat belajar sesuai kecepatannya.

“AI bisa menjadi tutor pribadi yang memahami gaya belajar setiap individu. Dengan begitu, siswa yang lambat tetap terbantu, sementara siswa yang cepat bisa lebih terfasilitasi,” ujar Syamsul dalam rilis yang diterima, Kamis (4/9).

Ia mencontohkan platform berbasis AI yang memberikan rekomendasi materi tambahan sesuai hasil ujian siswa. UNESCO (2023) mencatat, 47 persen institusi pendidikan tinggi di Asia sudah mulai mengadopsi AI untuk mendukung pembelajaran daring maupun luring, mengurangi kesenjangan pemahaman di kelas, dan mendorong pembelajaran yang lebih inklusif.

Baca juga: UBSI Kampus Karawang Sukses Sosialisasikan Program Beasiswa di SMAN 1 Rawamerta

Efisiensi Administrasi Berkat AI

Selain meningkatkan kualitas belajar, AI juga membantu efisiensi administrasi. Syamsul menyebut banyak tenaga pendidik terbebani dengan urusan administratif, mulai dari laporan, evaluasi dokumen, hingga rekap data kehadiran. Sistem berbasis AI bahkan mampu menganalisis kehadiran mahasiswa melalui pengenalan wajah, mengelompokkan data akademik, hingga mendeteksi plagiarisme.

Laporan McKinsey (2022) menyebut bahwa otomatisasi AI dapat memangkas hingga 30 persen waktu kerja administratif tenaga pendidik, sehingga mereka dapat lebih fokus pada proses pembelajaran.

Meski menjanjikan banyak peluang, Syamsul mengingatkan bahwa AI hanyalah alat, dan penggunaannya harus memperhatikan etika serta regulasi. Ia menekankan pentingnya transparansi, keamanan data siswa, dan kolaborasi antara pemerintah, akademisi, serta industri untuk mencegah penyalahgunaan teknologi.

“Transparansi dan keamanan data harus menjadi prioritas utama. Kita tidak bisa sembarangan mengizinkan data siswa dikumpulkan tanpa aturan yang jelas,” tambah Syamsul.

Baca juga: UBSI Kampus Karawang Gelar Sosialisasi PKL, Bekali Mahasiswa Hadapi Tantangan Magang

World Economic Forum (2024) mencatat, 62 persen pendidik global masih khawatir terkait privasi data dalam penggunaan AI. Karena itu, guru dan dosen perlu dilatih agar tidak tertinggal oleh perkembangan teknologi, melalui workshop, seminar, dan sertifikasi digital yang membantu mereka memanfaatkan AI sebagai strategi pembelajaran yang efektif.

Harapan Masa Depan Pendidikan dengan AI

Melalui pemaparan tersebut, Syamsul berharap ekosistem pendidikan di Indonesia semakin siap beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Ia optimis AI dapat menjadi solusi bagi berbagai tantangan pendidikan di Indonesia, mulai dari pemerataan kualitas hingga peningkatan daya saing global.

UBSI sebagai Kampus Digital Kreatif menegaskan komitmennya untuk mendukung adopsi teknologi yang cerdas dan etis di dunia pendidikan. Dengan demikian, AI hadir bukan sekadar teknologi, tetapi mitra strategis dalam mencetak generasi unggul di era digital.(Siti Hafizah)

Leave A Reply

Your email address will not be published.