Siswa SMK ITENAS Dihadapkan Dilema Kuliah atau Kerja, UBSI Kampus Karawang Berikan Sosialisasi
BSINews, Karawang – Siswa kelas 12 Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Industri Teknologi Nasional (ITENAS) Karawang menghadapi dilema antara melanjutkan pendidikan atau langsung bekerja menjelang kelulusan. Kondisi tersebut terlihat dalam kegiatan sosialisasi kampus yang digelar Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) kampus Karawang di lingkungan sekolah pada Senin (20/4).
Jelang Lulus, Siswa SMK ITENAS Bimbang Pilih Kerja atau Kuliah, UBSI Kampus Karawang Hadir Bawa Solusi
Kegiatan yang diikuti ratusan siswa ini bertujuan memberikan pemahaman mengenai peluang pendidikan dan prospek kerja di tengah persaingan industri yang semakin kompetitif.
Sosialisasi ini dikemas dalam bentuk pemaparan materi, diskusi interaktif, serta sesi tanya jawab antara siswa dan pihak kampus terkait pilihan karier setelah lulus.
Kepala Kampus UBSI kampus Karawang, Mohammad Syamsul Azis, mengatakan lulusan SMK perlu meningkatkan kompetensi agar mampu bersaing di dunia kerja.
“Industri saat ini tidak hanya membutuhkan lulusan yang siap kerja, tetapi juga yang unggul dan adaptif terhadap perkembangan teknologi,” ujarnya dalam keterangan rilis yang diterima di Karawang pada Jumat (24/4).
Ia menjelaskan, pendidikan tinggi menjadi salah satu jalur untuk meningkatkan daya saing, terutama melalui penguasaan teknologi dan kemampuan analisis. Program studi seperti Sistem Informasi, Teknologi Informasi, Informatika, dan Akuntansi dinilai memiliki keterkaitan dengan kebutuhan industri digital yang terus berkembang.
“Kebutuhan terhadap profesi seperti software developer, data analyst, hingga cybersecurity terus meningkat. Ini peluang yang perlu dipersiapkan sejak dini,” katanya.
Baca juga : UBSI Kampus Karawang Beri Pencerahan di SMK ITENAS, Kupas Tuntas Pilihan Kuliah vs Dunia Kerja
Staf Marketing Komunikasi UBSI kampus Karawang, Walim, menilai masih banyak siswa yang memiliki minat melanjutkan pendidikan, namun terkendala keterbatasan informasi.
“Sebagian siswa masih ragu karena belum memahami jalur pendaftaran maupun skema pembiayaan. Saat ini akses informasi sudah lebih mudah karena berbasis digital,” jelasnya.
Dalam sesi diskusi, siswa aktif mengajukan pertanyaan terkait prospek kerja, biaya kuliah, serta peluang memperoleh beasiswa, menunjukkan tingginya minat untuk melanjutkan pendidikan.
Salah satu siswa kelas 12 mengaku mulai mempertimbangkan kuliah setelah mengikuti kegiatan tersebut.
“Awalnya saya ingin langsung bekerja, tetapi setelah mendapatkan penjelasan, saya jadi melihat peluang di bidang teknologi cukup besar,” ujarnya.
Kegiatan ini menjadi salah satu upaya memberikan informasi langsung kepada siswa dalam menentukan langkah setelah lulus, di tengah perubahan kebutuhan industri yang menuntut kompetensi lebih tinggi. (Indari)