Ungkap Sentimen Publik terhadap Kebijakan Tapera Melalui Twitter

0 279

Oleh: Ahmad Al Kaafi

Jakarta, BSINews–Salah satu kebijakan yang memicu perhatian luas adalah Tabungan Perumahan Rakyat (Tapera), sebuah program yang dirancang untuk meningkatkan akses masyarakat terhadap perumahan. Seiring dengan perkembangan teknologi, media sosial telah menjadi ruang bagi masyarakat untuk menyuarakan opini mereka terhadap berbagai isu, termasuk kebijakan pemerintah. Namun, apakah kebijakan ini mendapat dukungan atau justru memicu kekhawatiran?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, tim dosen Universitas BSI (Bina Sarana Informatika) yang terdiri dari Suparni, Hilda Rachmi serta beberapa mahasiswa, yaitu Ahmad Maulana dan Ririn Nurtriani melakukan penelitian menggunakan analisis sentimen berbasis kecerdasan buatan dengan memanfaatkan data dari Twitter.

Baca juga: Mahasiswa Itu Agen Perubahan Sosial, Bukan Cuma Numpang WiFi Kampus!

Sentimen Publik terhadap Kebijakan Tapera

Ahmad Al Kaafi sebagai ketua tim menyatakan bahwa penelitian ini merupakan bagian dari program penelitian dosen yayasan yang didanai oleh Yayasan Bina Sarana Informatika Tahun 2024 dengan nominal dana sebesar Rp4.000.000. Dengan kolaborasi yang solid, tim ini berfokus pada pengembangan teknologi analisis sentimen berbasis kecerdasan buatan untuk mendukung evaluasi kebijakan publik.

Dengan ribuan cuitan yang dikumpulkan, Ahmad Al Kaafi bersama tim dosen Universitas BSI mampu menggali persepsi publik terhadap kebijakan Tapera secara ilmiah namun efisien.

Menurut Ahmad Al Kaafi, analisis sentimen adalah teknik untuk memahami emosi, opini, atau sikap seseorang dari teks yang mereka tulis. Dalam konteks ini, cuitan Twitter dianalisis untuk mengetahui apakah pengguna memiliki sentimen positif, negatif, atau netral terhadap kebijakan Tapera.

Menggunakan teknologi kecerdasan buatan berupa algoritma Support Vector Machine (SVM) yang diperkuat dengan Particle Swarm Optimization (PSO). SVM membantu memisahkan teks menjadi kategori sentimen, sedangkan PSO berfungsi mengoptimalkan akurasi model analisis ini.

Hasil analisis menunjukkan bahwa sebagian besar sentimen publik terhadap Tapera adalah negatif (56,22%). Banyak warganet yang menyuarakan kekhawatiran terkait transparansi pengelolaan dana dan kewajiban kontribusi yang dianggap membebani, khususnya bagi pekerja dengan pendapatan rendah.

Namun, ada juga sisi positifnya. Sekitar 28,45% cuitan menunjukkan harapan bahwa program Tapera dapat membantu masyarakat, terutama yang berpenghasilan rendah, untuk memiliki rumah. Adapun 15,33% sisanya bersifat netral, seperti diskusi mengenai mekanisme kebijakan tanpa opini emosional.

Hasil penelitian ini memberikan wawasan penting bagi pemerintah untuk meningkatkan sosialisasi dan memperbaiki implementasi kebijakan Tapera. Dengan memahami kekhawatiran publik, pemerintah dapat lebih fokus pada transparansi pengelolaan dana dan memastikan komunikasi yang jelas kepada masyarakat.

Baca juga: Tingkatkan Penelitian Ilmiah, Prodi Akuntansi Universitas BSI Selenggarakan Workshop Pengolahan Data Panel Menggunakan Eviews 13

Bagi pembuat kebijakan, analisis sentimen berbasis media sosial seperti ini adalah alat yang sangat efektif untuk memantau respons masyarakat secara real-time. Teknologi ini juga dapat diterapkan untuk mengevaluasi kebijakan lain, sehingga kebijakan yang dibuat lebih responsif terhadap kebutuhan masyarakat.

Kesimpulan dari penelitian ini, yakni kebijakan Tapera adalah langkah strategis pemerintah, namun seperti kebijakan lainnya, respons publik adalah elemen yang harus diperhatikan. Dengan memanfaatkan analisis sentimen di media sosial, kita tidak hanya memahami opini masyarakat, tetapi juga dapat menjadikannya sebagai landasan untuk menciptakan kebijakan yang lebih baik.

Media sosial telah membuka jendela bagi masyarakat untuk bersuara. Tugas kita adalah mendengarkan, menganalisis, dan bertindak berdasarkan suara tersebut. Dengan begitu, kebijakan yang diterapkan tidak hanya menjadi kebijakan pemerintah, tetapi juga kebijakan bersama masyarakat.

Penulis: Ahmad Al Kaafi, ketua tim penelitian dosen Universitas BSI

 

(UMF)

Leave A Reply

Your email address will not be published.