Bincang Kampus & Orang Tua (BKOT): Saat Masa Depan Anak Dibicarakan di Meja yang Sama
BSINews, Tangerang Selatan – Ada masanya ketika obrolan orang tua tentang anak cuma sebatas: “Udah makan belum?” atau “Kapan wisuda, Nak?” Tapi zaman sudah berubah. Sekarang, pertanyaan-pertanyaan itu sudah upgrade jadi: “Gimana personal branding anakku di LinkedIn?” atau “Anakku sudah adaptif sama tren AI belum?”
Dan di sinilah Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) Kampus BSD mencoba menjembatani jurang generasi itu. Lewat acara Bincang Kampus bersama Orang Tua (BKOT) yang akan digelar Sabtu, 5 Juli 2025 nanti, UBSI ngajak para orang tua duduk bareng, ngopi bareng (kalau ada), dan ngobrol serius soal masa depan anak-anak mereka.
Baca juga: UBSI Kampus Jatiwaringin Gelar BKOT, Libatkan Orang Tua dalam Merancang Masa Depan Anak
Bukan cuma urusan nilai IPK, tapi juga soal mental, karakter, dan daya saing digital. Karena dunia kerja sekarang nggak lagi nanya ranking kelas, tapi nanya portofolio dan kontribusi digital.
Tema yang diangkat, yakni “Sinergi Kampus dengan Orang Tua dalam Menyiapkan Alumni Bertalenta Digital.” Kalau dibaca cepat mungkin terasa kayak tema seminar teknologi, tapi sesungguhnya ini adalah pernyataan cinta: bahwa kampus nggak bisa sendirian mendidik anak-anak. Butuh bantuan orang tua, bukan cuma buat transfer uang saku tiap bulan, tapi juga buat dampingi proses jadi manusia utuh.
Mahmud Safudin, Kepala Kampus UBSI Kampus BSD, dijadwalkan buka acara. Dan Ia nggak bakal pakai gaya birokrat. Yang hadir bukan cuma jajaran dosen dan kepala program studi, tapi juga alumni UBSI yang dulu pernah duduk sebagai mahasiswa galau, lalu sekarang berdiri sebagai profesional yang (alhamdulillah) sukses secara digital dan manusiawi.
BKOT ini semacam open house, tapi levelnya naik. Orang tua nggak cuma diajak keliling gedung atau foto di taman kampus, tapi dikasih insight tentang bagaimana anak-anak mereka belajar, berorganisasi, sampai merancang karir. Semua dibahas dari dua sisi, yaitu akademik dan non-akademik.
Dan jangan kira alumni yang hadir cuma dateng buat pamer gaji. Mereka hadir buat cerita tentang kegagalan, jatuh bangun, dan titik balik yang membuat mereka bangga pernah kuliah di UBSI. Biar para orang tua tahu, proses itu penting. Dan kampus ini menyediakan ruang tumbuh, bukan sekadar ruang kuliah.
BKOT bukan acara basa-basi. Ini adalah ruang buat membangun rasa percaya. Karena nggak sedikit orang tua yang masih ragu: “Kampus digital itu apa sih? Anak saya bakal kerja di mana nanti?” Nah, di sinilah dijelaskan. Bahwa kampus digital bukan berarti kuliahnya main TikTok, tapi belajar untuk jadi pemimpin di era yang algoritmanya lebih tajam dari silet.
Dan UBSI Sebagai Kampus Digital Kreatif sadar betul, bahwa di balik setiap mahasiswa ada orang tua yang harapannya segunung. Maka, kampus ini ngajak mereka bukan sekadar nonton dari tribun, tapi ikut serta dalam pertandingannya.
Baca juga: BKOT dan Komitmen UBSI Bangun SDM Berkualitas Digital
Kampus bukan tempat sulap. Tapi kalau kampus dan orang tua kompak, anak-anak bisa tumbuh jadi penyihir masa depan—yang bisa mengubah dunia dengan ide, etika, dan teknologi. BKOT bukan cuma soal presentasi dosen atau sambutan formal.
Ini soal membangun hubungan. Karena mendidik anak di era digital butuh lebih dari sekadar sinyal Wi-Fi yang kencang. Butuh sinyal dari rumah yang nyambung terus ke hati mereka. Dan sinyal itu, akan dijaga bersama oleh UBSI, mahasiswa, dan para orang tua.(ACH)