Dari Tabel Excel ke Tools AI, Mahasiswa Sistem Informasi Akuntansi UBSI Kampus Tegal Belajar Jualan Era Digital
BSINews, Tegal – Mari kita mulai dengan sebuah pengakuan sederhana, bahwa kata “akuntansi” seringkali membuat orang awam langsung membayangkan sosok berkemeja putih yang sibuk menghitung selisih Rp2 di lembar kerja Excel, sembari memandang langit-langit ruangan kantor yang dingin dan sunyi. Tapi hari itu, Selasa, 3 Juni 2025, imajinasi klasik soal mahasiswa akuntansi mendadak patah di tengah jalan.
Di sebuah ruang kelas Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) Kampus Tegal, puluhan mahasiswa Program Studi Sistem Informasi Akuntansi mendadak terlihat lebih mirip tim konten kreator startup baru ketimbang calon auditor. Bukan karena mereka sedang mengutak-atik jurnal atau neraca saldo, melainkan karena mereka sedang asyik ngoprek ChatGPT, Canva AI, sampai ngulik analitik kampanye digital. Kok bisa?
Semua bermula dari pelatihan Digital Entrepreneurship Academy (DEA) 2025 yang digelar oleh KOMDIGI (Komunitas Digital Indonesia) bareng UBSI Kampus Tegal. Temanya cukup nyeleneh untuk anak akuntansi, yaitu “Pemasaran Digital dengan Kecerdasan Buatan (AI).” Iya, betul. Anak akuntansi disuruh belajar jualan. Tapi jangan salah. Jualannya pakai AI. Bukan sekadar jual pulsa.
Materi dibawakan oleh Dzulchan Abror, seorang narasumber yang ngomongin AI kayak orang lagi cerita resep masakan. Santai, tapi berisi. Enam topik utama dibabat habis, dari pengenalan AI buat marketing sampai bikin rencana aksi jadi Digital AI Expert. Bayangin, anak-anak akuntansi yang biasa berkutat sama debit-kredit, sekarang disuruh bikin konten viral berbasis persona buyer. Disuruh mikir kayak digital marketer, bukan cuma kayak bendahara koperasi sekolah.
Suasana kelas pun nggak seperti kuliah pada umumnya. Lebih mirip studio startup yang lagi hackathon. Mahasiswa dikasih akses buat main langsung pakai ChatGPT buat bikin copywriting, Canva AI buat desain, dan tools analitik buat mantau performa konten. Ada yang takjub. Ada yang bingung. Ada juga yang udah langsung mikir jualan skincare online pakai strategi ini.
Indana Zulfa Wahid, salah satu peserta, sempat nyeletuk, “Ternyata AI bisa bantu kita ngambil keputusan bisnis juga, bukan cuma buat nulis caption lucu di IG.” Ucapan itu mungkin terdengar sederhana, tapi punya makna dalam bahwa digitalisasi bukan cuma soal alat, tapi soal cara berpikir baru.
Angga Ardiansyah, Ketua Program Studi Sistem Informasi UBSI Kampus Tegal, dengan tenang bilang bahwa pelatihan ini bukan sekadar tambahan keterampilan, tapi bagian dari strategi. Karena dunia akuntansi zaman sekarang bukan cuma soal menyusun laporan keuangan, tapi juga soal memahami pasar, data, dan algoritma.
Dan mari kita jujur, kalau kamu kuliah jurusan akuntansi tapi nggak ngerti gimana cara brand jualan di Instagram pakai AI, kamu mungkin akan sulit bersaing dengan lulusan kampus tetangga yang sudah ngerti digital ads dan A/B testing sejak semester tiga.
Mungkin di kota-kota besar, pelatihan seperti ini sudah biasa. Tapi di Tegal, ini bukan cuma pelatihan. Ini transformasi kecil yang berdampak besar. Sebuah langkah strategis yang membuat mahasiswa nggak hanya “paham teori,” tapi juga “punya nyali.”
Jadi, kalau kamu masih berpikir bahwa mahasiswa Sistem Informasi Akuntansi itu hidupnya cuma soal angka dan laporan, kamu harus lihat mereka hari itu. Lagi pegang laptop, ngetik prompt buat bikin konten promosi, sambil diskusi seru soal CTR dan target persona.
Baca juga: UBSI Purwokerto Bahas Peluang dan Tantangan AI Lewat “Ngobras” Live di TikTok
Karena masa depan ekonomi digital itu bukan cuma tentang startup dan unicorn. Tapi juga soal mahasiswa daerah yang pelan-pelan belajar cara bertahan, beradaptasi, dan kalau perlu—mengalahkan mereka yang sudah lebih dulu di garis start.(ACH)