Odoo, ERP, dan Mahasiswa UBSI: Ketika Sistem Informasi Tak Lagi Sekadar Teori

0 72

BSINews, Jakarta – Ada satu jenis mahasiswa yang spesial. Bukan karena dia langganan IPK 4, atau karena sering nongkrong di kantin paling lama. Tapi karena dia rela bangun lebih pagi buat ikut workshop online, nyalain kamera meskipun muka masih sisa bantal, dan aktif nanya seputar sistem ERP sambil ngopi di kosan.

Itulah yang terjadi di hari Jumat, 4 Juli 2025. Bukan tanggal merah, bukan juga hari pembagian takjil gratis, tapi hari itu 365 mahasiswa Program Studi Sistem Informasi Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) ngumpul virtual buat ikut Workshop dan Uji Profisiensi Enterprise Resource Planning (ERP) bareng PT. Jidoka Sistem Indonesia. Iya, 365 orang. Jumlah yang kalau disatuin bisa bikin satu angkatan baru di kampus sebelah.

Baca juga: UBSI Selenggarakan Workshop dan Uji Kompetensi Basis Data Berbasis Industri bagi Mahasiswa Sistem Informasi

Tapi jangan salah, ini bukan sekadar Zoom yang isinya formalitas dan presentasi PowerPoint panjang membosankan. Ini adalah langkah strategis buat masa depan. Soalnya, ERP bukan sekadar jargon anak startup atau istilah rumit di koran bisnis. ERP itu sekarang jadi roti dan mentega perusahaan modern. Dan UBSI Sebagai Kampus Digital Kreatif ngerti banget, masa depan mahasiswa nggak bisa diserahkan ke nasib semata atau teori setebal kitab suci.

Workshop ini dibuka oleh Nining Suryani, sang moderator yang kayaknya udah kenyang makan asam garam kegiatan daring. Pembawaannya kalem tapi nancep, bikin suasana cair dan nggak kayak sidang skripsi online. Lalu masuklah narasumber utama yaitu Tatang Iwan Suryana, Project Manager dari PT. Jidoka. Suaranya mantap, penjelasannya runut, dan yang paling penting—nggak pelit ilmu.

Tatang buka-bukaan soal ERP berbasis Odoo. Tentang bagaimana perusahaan sekarang udah nggak bisa lagi kerja manual atau pakai Excel doang. Tentang bagaimana proses bisnis bisa disatukan dalam satu sistem yang cakep dan terintegrasi, kayak puzzle yang akhirnya ketemu semua kepingannya.

Yang menarik bukan cuma materinya, tapi cara mahasiswa UBSI nangkep dan ngegigit topik ini. Di sesi diskusi, pertanyaan bermunculan kayak popcorn meletup di microwave. Tapi ini bukan pertanyaan basa-basi kayak, “Kapan makan siangnya, Pak?” atau “Apakah bisa kasih contoh nyata?” Ini pertanyaan tajam, teknis, dan menyentuh akar permasalahan industri.

Contohnya, ada Raihan Permadi yang udah mikir soal downtime. “Kalau Odoo down, masa kita cuma bisa pasrah?” Arief Bayu juga nggak kalah kritis, nanya soal aksesibilitas dan kemungkinan install aplikasi. Lalu ada Ajan Padilah, yang otaknya udah jalan jauh ke integrasi sistem eksternal kayak CEISA Bea Cukai. Dan Said Muhammad malah bawa-bawa konsep vendor lock-in, hal yang sering bikin perusahaan kejebak sama satu penyedia sistem seumur hidup.

Tatang menyimak dan mikir, “Ini anak-anak UBSI beneran serius pengen kerja di industri.” Mereka udah nggak lagi cuma belajar buat ujian, tapi buat survive di dunia kerja yang kerasnya kayak batu ginjal.

Meski workshop ini diadakan secara daring, atmosfernya nggak garing. Justru diskusinya hidup dan berenergi. Seolah para mahasiswa ini udah siap nyebur langsung ke dunia ERP, siap jadi bagian dari transformasi digital perusahaan yang selama ini kita anggap dunia dewasa yang terlalu tinggi buat dijangkau anak kuliahan.

Dari semua itu, satu hal yang paling terasa, yaitu UBSI nggak cuma ngajarin cara bikin query atau diagram ERD. Mereka ngajarin kesiapan mental. Biar mahasiswa siap menghadapi dunia kerja yang lincah, gesit, dan kadang absurd.

Kegiatan ini bukan akhir, tapi titik tolak. Sertifikasi ERP dari PT Jidoka mungkin hanya selembar dokumen, tapi semangat kritis dan kesadaran mahasiswa terhadap realita industri adalah hal yang jauh lebih penting.

Baca juga: UBSI Kampus Slipi Gelar “HangOut Campus Online” Bahas Prospek Karier Lulusan Sistem Informasi

Dan siapa tahu, suatu hari nanti, nama-nama seperti Raihan, Arief, Ajan, dan Said bakal nongol di profil LinkedIn sebagai ERP Consultant, System Analyst, atau bahkan CEO startup teknologi berbasis sistem informasi.

Karena di zaman sekarang, lulus kuliah aja nggak cukup. Yang dibutuhkan bukan cuma otak encer, tapi juga nyali, relevansi, dan satu sistem ERP yang nggak pernah down.(ACH)

Leave A Reply

Your email address will not be published.