Pisang, Singkong, dan Secercah Harapan dari Kaki Gunung Halimun jadi Catatan Manis dari FGD Dosen

0 26

BSINews, Sukabumi – Pagi itu, Jumat (27/6) yang sedikit gerimis di Sukabumi. Kabut masih malas-malasan naik dari pucuk daun singkong, sementara dari kejauhan terdengar kokok ayam yang seolah ikut menyambut tamu-tamu berbaju rapi dari kota, para dosen Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) Kampus Sukabumi.

Mereka datang bukan untuk studi tour apalagi healing. Kali ini, mereka membawa semangat perubahan lewat program hibah PKM 2025. Fokusnya sederhana tapi berdampak besar, yaitu ngobrol bareng warga Kasepuhan Sinarresmi soal cara mengolah pisang dan singkong, dua bahan yang selama ini dianggap makanan sehari-hari, agar bisa naik kelas jadi produk bernilai ekonomi.

Baca juga: FGD di UBSI: Mutu Bukan Lagi Soal Borang, tapi Soal Harga Diri Sebuah Kampus

Dalam bahasa akademik, kegiatan ini disebut FGD atau Focus Group Discussion. Tapi kalau diartikan dalam bahasa warga, ini lebih mirip rembug kampung yang bertabur strategi dan impian.

Tim dosen UBSI Kampus Sukabumi yang terdiri dari Rusda Wajhillah sebagai ketua, lalu ada Yuri Rahayu, Ita Yulianti, dan M. Ibhammurrival datang bersama Kaprodi Sistem Informasi Akuntansi UBSI Kampus Sukabumi, Rizal Amegia Saputra. Mereka duduk lesehan di balai pertemuan, ditemani senyuman hangat dan wedang jahe khas Kasepuhan.

Yang dibahas bukan hal-hal rumit macam algoritma atau audit pajak. Tapi bagaimana caranya menjadikan keripik pisang lebih dari sekadar camilan lebaran, atau singkong yang biasanya hanya rebus-rebusan itu bisa berubah jadi snack kekinian yang dilirik generasi TikTok.

Rusda, yang siang itu semangatnya lebih tajam dari sinyal 4G di pelosok, menjelaskan pentingnya branding. “Produk bagus tanpa cerita itu ibarat nasi goreng tanpa kecap, ada tapi nggak greget.” Ia mengajak warga untuk membayangkan kemasan yang estetik, logo yang punya makna, bahkan cerita di balik produk yang bisa bikin orang kota penasaran.

Ternyata bukan cuma dosen yang semangat. Para warga Kasepuhan Sinarresmi juga antusias menyimak dan menanggapi. Mereka cerita tentang tantangan mengolah hasil panen, kendala dalam distribusi, sampai betapa sulitnya bersaing di pasar digital yang dikuasai pemain besar.

“Biasanya singkong kami langsung dimakan atau dijual mentah. Tapi kalau bisa dijadikan keripik dengan merek sendiri, wah, kami bisa tambah bangga dan penghasilannya juga lebih baik,” kata salah satu peserta diskusi sambil tersenyum malu-malu.

Di sisi lain, Rizal, menyampaikan bahwa kolaborasi semacam ini penting bukan hanya untuk warga, tapi juga buat mahasiswa. “Mereka belajar bukan dari buku atau modul. Tapi dari interaksi langsung dengan masyarakat. Di sinilah pendidikan menemukan bentuknya yang paling nyata,” ujarnya.

Betul juga. Di tengah hiruk pikuk dunia akademik UBSI Sebagai Kampus Digital Kreatif yang sering kali sibuk mengejar indeks, terkadang kita lupa bahwa ilmu itu mestinya bisa mengubah hidup. Bukan cuma menambah nilai IPK, tapi juga memberi arti dalam kehidupan orang lain.

Baca juga: FGD UBSI Menyemangati Mahasiswa Teknik Elektro dalam Mencapai Skripsi yang Berdampak

Program ini memang masih tahap awal. Tapi seperti halnya pisang yang bisa jadi keripik manis, atau singkong yang bisa berubah jadi brownies, siapa tahu dari diskusi sederhana di balai desa ini lahir sebuah UMKM besar yang nantinya viral di marketplace.

Dan siapa tahu, anak-anak muda Kasepuhan suatu hari nanti nggak cuma bangga jadi petani singkong, tapi juga CEO dari Singkong & Co. Karena dari sebuah FGD yang kelihatannya cuma obrolan, nyatanya bisa lahir harapan. Harapan yang berakar dari bumi, tapi punya sayap untuk terbang tinggi.(ACH)

Leave A Reply

Your email address will not be published.