Bukan Generasi Baper, Ini Cara Gen Z Jadi Penjaga Toleransi
BSINews-Dalam dinamika era digital saat ini, Generasi Z dihadapkan pada tantangan yang tak kasat mata, namun sangat nyata radikalisme. Meskipun kerap dicitrakan sebagai generasi paling adaptif dan melek teknologi, Gen Z justru berada dalam posisi yang rentan terhadap infiltrasi ideologi ekstrem, terutama melalui media sosial.
Baca juga: Healing, FOMO, hingga Ghosting, Menafsir Bahasa Gen Z yang Sarat Makna
Menurut riset I-Khutb Outlook dari Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) tahun 2023, kelompok usia 11–26 tahun termasuk yang paling mudah terpapar paham radikal. Ini bukan sekadar angka ini adalah sinyal bahaya tentang masa depan generasi penerus bangsa yang berada dalam pusaran informasi tanpa batas, di mana batas antara kebenaran dan propaganda kian kabur.
Radikalisme Digital Bahaya yang Berpura-pura Moderat
Radikalisme kini tak lagi hadir lewat kekerasan atau doktrin lantang. Ia menjelma dalam bentuk konten digital yang tampak ramah dan moderat, namun sarat pesan intoleransi dan kebencian. Meski indeks potensi radikalisme secara nasional menurun dari 38,4% pada 2019 menjadi 12,2% pada 2020–2021, kelompok Gen Z tetap mendominasi kategori yang paling rawan terpapar.
Hal ini menunjukkan bahwa radikalisme telah bergeser bukan lagi soal perekrutan fisik, melainkan tentang penguasaan ruang pikir. Media sosial, video pendek, meme, dan diskusi daring menjadi senjata baru yang diam-diam menanamkan ideologi sempit dan eksklusif.
Kekhawatiran Orang Tua dan Negara
Kekhawatiran pun datang dari berbagai penjuru. Orang tua khawatir anak-anak mereka secara tidak sadar terjebak dalam pusaran propaganda yang dibungkus dalam narasi keagamaan yang persuasif. Banyak yang cemas ketika melihat anak mereka aktif dalam forum-forum diskusi agama tanpa pendampingan, takut label “radikal” disematkan hanya karena ketertarikan mendalam terhadap isu-isu sensitif.
Di sisi lain, pemerintah melihat radikalisme di kalangan muda sebagai ancaman serius bagi ketahanan nasional. Menjelang tahun politik seperti Pemilu 2024, konten bermuatan politik identitas semakin marak, memanfaatkan celah ketidaktahuan dan kegelisahan anak muda. Jika tak ditangani secara komprehensif, hal ini berpotensi merusak tatanan kebangsaan dan memperlemah kohesi sosial.
Tujuh Langkah Melawan Stigma dan Radikalisme
Agar Gen Z tidak hanya terbebas dari radikalisme, tetapi juga dari stereotipe negatif yang melekat padanya, dibutuhkan pendekatan proaktif dan menyeluruh. Berikut adalah tujuh langkah konkret yang bisa dilakukan:
-
Perkuat Literasi Digital
Biasakan memverifikasi informasi, memilah konten yang kredibel, dan tidak mudah terpancing isu provokatif. -
Terlibat dalam Dialog Moderat
Ikut serta dalam diskusi lintas budaya dan agama dapat menumbuhkan toleransi dan empati terhadap perbedaan. -
Bijak Bermedia Sosial
Hindari konten ekstrem, berhenti mengikuti akun penyebar kebencian, dan aktif menyebarkan narasi positif. -
Aktif dalam Kegiatan Sosial
Bergabung dalam organisasi, kegiatan komunitas, dan aksi sosial akan memperluas sudut pandang dan membangun kepedulian. -
Menghayati Nilai Pancasila
Jadikan Pancasila sebagai kompas moral dan etika dalam bersikap, berpikir, dan bertindak sebagai warga negara. -
Menjaga Kesehatan Mental dan Emosi
Kelola stres, hindari isolasi sosial, dan cari bantuan ketika merasa tertekan oleh lingkungan atau paparan konten negatif. -
Bersikap Kritis dan Skeptis
Jangan terima informasi mentah-mentah. Pertanyakan “Siapa yang menyampaikan?” dan “Apa motif di baliknya?”
Gen Z Dari Target Menjadi Penjaga Toleransi
Gen Z sesungguhnya bukan generasi yang lemah atau pasif. Dengan bekal literasi digital yang baik, nilai kebangsaan yang tertanam kuat, serta partisipasi aktif dalam kehidupan sosial, mereka justru bisa menjadi garda terdepan dalam melawan radikalisme.
Baca juga: Gen Z Tidak Rapuh, Mereka Hanya Tidak Didengar
Daripada terus dibayangi stereotipe “mudah terpapar,” Gen Z perlu diberi ruang, kepercayaan, dan pembekalan agar mereka tumbuh sebagai agen perubahan penyebar narasi damai, toleransi, dan kebersamaan dalam keberagaman.
Kini, saatnya beralih dari stigma ke peran. Karena di tangan Gen Z, masa depan bangsa ini akan ditentukan: apakah akan terpecah karena intoleransi, atau bersatu dalam semangat kebinekaan yang kokoh.
Oleh: Bambang Sucipto dari Unit Sistem Informasi, Keilmuan Bahasa Akper Bina Insan (Saat ini sedang dalam penyatuan dengan Universitas Bina Sarana Informatika Menjadi Fakultas Ilmu Kesehatan UBSI)