Gen Z Tidak Rapuh, Mereka Hanya Tidak Didengar

0 84

BSINews, Mereka pernah disebut generasi stroberi cantik di luar, rapuh di dalam. Dijuluki demikian karena dianggap manja, mudah tersinggung, terlalu sibuk dengan gawai, dan tak tahan tekanan. Namun kini, stigma itu perlahan runtuh oleh fakta-fakta yang menggugah. Di berbagai penjuru dunia, Generasi Z justru tampil sebagai aktor paling vokal dalam menantang sistem yang tak berpihak dan kebijakan publik yang dianggap menindas.

Baca juga: Kopi Gerobak vs Kafe Estetik, Siapa yang Menang di Era Gen Z?

Selama bertahun-tahun, Gen Z dicap apatis terhadap realitas sosial dan politik. Namun kenyataannya, mereka tak sekadar hidup di dunia maya mereka menguasainya, dan menjadikannya alat perjuangan. Apa yang dulu dianggap sebagai ruang eskapisme kini berubah menjadi panggung aktivisme. Media sosial bukan lagi sekadar tempat membagikan selfie atau tren viral, melainkan menjadi senjata untuk menyuarakan ketidakadilan dan membangun solidaritas global.

Generasi Digital yang Tak Lagi Diam

Aksi protes besar di Indonesia menjadi bukti nyata. Ribuan mahasiswa, yang sebagian besar berasal dari Gen Z, turun ke jalan menolak kebijakan anggaran yang mereka nilai tidak berpihak pada rakyat. Mereka tidak gentar meski dihadapkan pada aparat, gas air mata, bahkan ancaman kriminalisasi.

Di Nepal, ketika pemerintah melarang puluhan platform media sosial, respons Gen Z tak kalah mengejutkan unjuk rasa besar-besaran mengguncang Kathmandu. Di Thailand, pelajar memimpin gelombang demonstrasi menuntut reformasi konstitusi dan pembatasan kekuasaan monarki sebuah tindakan yang sebelumnya dianggap tabu. Sementara itu di Malaysia, suara Gen Z berubah menjadi kekuatan elektoral, mengarahkan perubahan lewat kotak suara sebagai bentuk penolakan terhadap korupsi dan krisis kepemimpinan.

Fenomena ini menunjukkan satu hal penting  apa yang dulu dianggap sebagai kelemahan kedekatan dengan teknologi dan media sosial justru menjadi kekuatan yang mengguncang status quo. Dari meme politik, tagar viral, hingga flashmob digital, Gen Z membuktikan bahwa mereka bukan hanya pengamat pasif, tetapi agen perubahan yang sadar arah.

Mereka menyusun strategi, membangun jaringan lintas batas negara, dan menciptakan gerakan yang mampu menekan kebijakan pemerintah. Akses terhadap teknologi dan keberanian untuk bersuara menjadi modal utama yang menjadikan mereka berbeda dari generasi sebelumnya. Gen Z tak hanya ingin didengar, mereka menuntut perubahan dan mereka tahu caranya.

Pendidikan Menyambut Energi Baru, Bukan Menaklukkannya

Kritikal, ekspresif, dan penuh semangat itulah Gen Z. Dunia pendidikan kini menghadapi tantangan sekaligus peluang besar bagaimana mengelola energi luar biasa ini agar tidak hanya meledak di jalanan atau media sosial, tetapi dapat diolah menjadi solusi nyata bagi masyarakat?

Alih-alih mengekang, lembaga pendidikan harus membuka ruang. Sekolah dan kampus perlu menjadi tempat di mana diskusi lintas gagasan bisa tumbuh subur. Bukan hanya ruang kelas, tapi juga forum publik yang menghargai keberagaman pendapat. Kurikulum yang adaptif terhadap zaman, dukungan terhadap literasi digital, serta kebebasan akademik yang bertanggung jawab harus menjadi pilar dalam membentuk generasi pembaharu.

Jika energi Gen Z diarahkan dan difasilitasi dengan baik, mereka tak hanya menjadi pengkritik yang lantang, tetapi juga perancang masa depan yang solutif. Pendidikan yang membebaskan adalah pendidikan yang tidak takut terhadap keberanian muridnya. Justru di situlah kekuatan sejatinya lahir  ketika keberanian bertemu ruang, dan idealisme mendapat tempat untuk bertumbuh.

Generasi Stroberi ke Generasi Perubahan

Kini, sudah waktunya kita berhenti meremehkan Gen Z dengan label generasi stroberi. Di balik citra manja dan rapuh yang sering dilekatkan, mereka menyimpan keberanian, kecerdasan digital, dan komitmen sosial yang luar biasa. Mereka bukan generasi yang lemah mereka hanya bicara dalam bahasa yang mungkin belum sepenuhnya kita pahami. Dan justru karena itu, kita harus mendengarkan lebih dalam.

Baca juga: Cerita Gen Z dan Sepotong Gorengan yang Viral

Gen Z adalah cermin zaman. Suara mereka adalah cerminan keresahan dunia. Dan bila diberi ruang yang tepat, suara itu bisa menjadi simfoni perubahan yang mengguncang bukan hanya layar ponsel, tetapi juga dinding kekuasaan.

Oleh: Bambang Sucipto dari Unit Sistem  Informasi, Keilmuan Bahasa Akper Bina Insan (Saat ini sedang dalam penyatuan dengan Universitas Bina Sarana Informatika Menjadi Fakultas Ilmu Kesehatan UBSI)

Leave A Reply

Your email address will not be published.