ChatGPT GPT-5, Antara Inovasi dan Kebutuhan Manusia
BSINews, Solo — Kehadiran ChatGPT versi terbaru, GPT-5, kembali menarik perhatian di kalangan akademisi dan pemerhati teknologi. Ahmad Fauzi, seorang dosen Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) kampus Solo sekaligus pengamat perkembangan kecerdasan buatan (AI), menilai versi terbaru ini sebagai sebuah kemajuan besar dalam revolusi digital.
Menurut Fauzi, GPT-5 menawarkan peningkatan akurasi dan fitur personalisasi yang lebih kaya dibanding versi sebelumnya. Integrasi GPT-5 dengan aplikasi sehari-hari seperti Gmail dan Google Calendar serta pilihan kepribadian chatbot membuat AI ini semakin relevan dalam kehidupan akademik, bisnis, dan pribadi. Ia melihat GPT-5 dapat menjadi pendamping dalam pembelajaran, membantu riset, hingga mendukung produktivitas mahasiswa.
ChatGPT GPT-5, Apakah Masih Bisa Menjadi Teman Bicara Manusia?
“Namun dibalik kemajuan tersebut, GPT-5 terasa lebih dingin dan kurang manusiawi dibanding GPT-4. Banyak pengguna merasa GPT-5 lebih dingin dibanding GPT-4o. Seolah kita sedang berbicara dengan mesin yang logis tanpa kehangatan. Padahal, salah satu daya tarik ChatGPT sebelumnya adalah kemampuannya menjadi teman bicara yang empatik,” ungkapnya dalam rilis yang diterima, Senin (25/8).
Ia menekankan bahwa teknologi seharusnya tidak hanya cerdas secara kognitif, tetapi juga memiliki kecerdasan emosional. Menurutnya, AI yang hanya cepat, tepat, dan rasional memang berguna, tetapi tanpa empati, ia sekadar menjadi alat bukan partner.
βBanyak orang menggunakan ChatGPT bukan hanya untuk bekerja, tapi juga untuk curhat, mencari motivasi, bahkan sekadar merasa ditemani. Karena itu, OpenAI perlu menyeimbangkan inovasi teknis dengan sentuhan humanis,β tambahnya.
Baca juga :Β Rumah Sama, Harga Beda? Inilah Faktor Penentu Menurut Machine Learning
Ia mengusulkan agar pengguna diberi kebebasan memilih gaya interaksi apakah ingin formal, hangat, atau humoris agar AI tetap relevan dengan kebutuhan emosional manusia.
Di akhir pandangannya, Fauzi menegaskan bahwa GPT-5 tetap merupakan sebuah kemajuan luar biasa. Namun, masa depan AI menurutnya bukan hanya soal kecerdasan logis, melainkan tentang kemampuan teknologi membuat manusia merasa didengar, dihargai, dan dimengerti.