Desain yang Mengerti Manusia: Dosen UBSI Ungkap Peran UI/UX dalam Kehidupan Digital Sehari-Hari
BSINews — Dalam kehidupan digital yang makin melekat dengan rutinitas harian, tak banyak yang menyadari bahwa perilaku kita saat menggunakan aplikasi—dari membuka dompet digital, mengisi formulir, hingga memilih menu di marketplace—sebagian besar dipengaruhi oleh desain antarmuka dan pengalaman pengguna (UI/UX) yang kita hadapi.
Peran UI/UX dalam Kehidupan Digital Sehari-Hari
Dosen Universitas Bina sarana Informatika (UBSI) kampus Tasikmalaya, Bambang Kelana Simpony, menegaskan bahwa UI/UX bukan sekadar urusan estetika atau membuat aplikasi terlihat keren. Di baliknya, terdapat proses mendalam yang menggabungkan logika, empati, dan pemahaman psikologis tentang perilaku manusia di lingkup digital.
“Desain yang baik itu tidak membuat pengguna berpikir keras. Tapi lebih dari itu, desain yang memahami manusia bisa mempermudah hidup, membuat orang betah belajar, bahkan membantu pengambilan keputusan penting,” ujar Bambang.
Menurutnya, mahasiswa yang tertarik ke dunia desain digital perlu menyadari bahwa mereka sedang masuk ke profesi yang membentuk cara hidup masyarakat digital. UI/UX menentukan apakah sebuah aplikasi ramah pengguna, inklusif, memotivasi, atau justru menyulitkan. Maka penting bagi calon desainer untuk tidak hanya berpikir teknis, tapi juga memahami pengalaman, latar belakang, dan kebutuhan pengguna.
Di UBSI kampus Tasikmalaya, pendekatan pembelajaran UI/UX tidak hanya dibekali dengan teori desain dan tools digital seperti Figma atau Adobe XD, tetapi juga praktik user-centered project—di mana mahasiswa belajar mendesain berdasarkan wawancara, survei, dan observasi langsung terhadap pengguna sebenarnya.
“Empati digital itu kunci. Saat mahasiswa memahami apa yang dirasakan pengguna—frustrasi, bingung, atau nyaman—barulah mereka bisa membuat solusi yang benar-benar berguna,” tambah Bambang.
Baca juga: Mahasiswa Bisa Publikasi Jurnal? Dosen UBSI: Justru Harus!
Sebagai kampus teknologi yang dikenal dengan biaya kuliah terjangkau, UBSI kampus Tasikmalaya terus membekali mahasiswanya dengan keterampilan masa depan, termasuk dalam bidang UI/UX yang kini sangat dibutuhkan di startup, agensi kreatif, hingga platform edukasi digital.
Melalui integrasi kurikulum berbasis praktik, dukungan dosen pembimbing, dan peluang kolaborasi industri, UBSI kampus Tasikmalaya berupaya mencetak lulusan yang tidak hanya andal secara teknis, tapi juga punya kepekaan sosial dan etika digital dalam mendesain pengalaman pengguna.
“Desain bukan hanya soal tampilan. Desain adalah komunikasi. Dan UI/UX yang baik harus dimulai dari niat untuk mempermudah, bukan memanipulasi,” tutup Bambang.(Tiara Sari)