Etika Digital yang Mulai Terabaikan: Refleksi di Era Media Sosial
BSINews, Tasikmalaya — Perkembangan era digital telah mengubah cara manusia berkomunikasi dan berinteraksi, terutama melalui media sosial. Platform digital yang awalnya diciptakan untuk mempererat relasi, berbagi informasi, dan membuka ruang kolaborasi, kini juga menghadirkan tantangan baru. Salah satu yang paling terasa adalah semakin memudarnya etika dalam berinteraksi di ruang digital.
Etika Digital yang Mulai Terabaikan: Refleksi di Era Media Sosial
Kebebasan berekspresi di media sosial kerap disalahartikan sebagai kebebasan tanpa batas. Komentar kasar, sindiran tajam, hingga ujaran kebencian semakin mudah ditemui, baik di ruang publik maupun percakapan pribadi. Banyak pengguna lupa bahwa di balik setiap akun terdapat individu nyata dengan perasaan, martabat, dan harga diri yang patut dihormati.
Fenomena ini menegaskan pentingnya penguatan literasi digital yang tidak hanya berfokus pada kemampuan teknis, tetapi juga pada etika komunikasi. Etika digital mencakup kesadaran untuk menyampaikan pendapat secara santun, menghargai perbedaan sudut pandang, serta bersikap bijak dalam menerima dan menyebarkan informasi. Di tengah arus informasi yang begitu cepat, sikap kritis dan bertanggung jawab menjadi kunci agar ruang digital tidak berubah menjadi ruang konflik.
Sebagai pendidik yang terlibat langsung dalam penguatan literasi digital, penulis meyakini bahwa dunia maya harus diperlakukan sebagaimana dunia nyata: dengan tanggung jawab dan empati. Mahasiswa dan generasi muda perlu dibekali kemampuan mengelola emosi saat berdiskusi daring, memilah konten secara kritis, serta memahami bahwa setiap aktivitas digital meninggalkan jejak yang berdampak jangka panjang. Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) Sebagai kampus Digital Kreatif terus berkomitmen menanamkan nilai-nilai literasi digital yang beretika melalui pembelajaran dan pembiasaan akademik.
Baca Juga : UBSI Kampus Sukabumi Ajak Mahasiswa Kupas Etika Digital di Tengah Ledakan Teknologi AI
Pada akhirnya, membangun etika digital bukan semata-mata untuk menghindari konflik, melainkan untuk membentuk peradaban digital yang saling menghormati. Ketika ruang digital telah menjadi tempat bekerja, belajar, dan bersosialisasi, menjaga etika bukan lagi sekadar pilihan, melainkan tanggung jawab bersama. (Sfkrhm)