Jeda Jempol, Jernihkan Pikiran: Refleksi tentang Kebiasaan Scroll Sebelum Tidur

0 7

BSINews, Tasikmalaya — Di era serba digital ini, ritual malam sebagian dari kita mungkin terdengar familiar: berbaring di tempat tidur, menggenggam ponsel, dan mulai menelusuri linimasa media sosial. Awalnya mungkin hanya ingin melihat sekilas kabar terbaru, video lucu, atau sapaan dari teman. Namun, tanpa disadari, waktu berlalu begitu cepat, dan jam tidur pun terampas. Fenomena yang sering disebut doomscrolling ini, kebiasaan mengonsumsi konten digital tanpa kendali, ternyata menyimpan dampak yang lebih dalam dari sekadar mata yang lelah.

Jeda Jempol, Jernihkan Pikiran: Refleksi tentang Kebiasaan Scroll Sebelum Tidur

Bambang Kelana Simpony, seorang dosen di Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) Sebagai kampus Digital Kreatif, menyoroti bahwa kebiasaan yang tampak sederhana ini justru dapat mengganggu fondasi kesehatan digital dan mental kita.

“Kita seringkali merasa rileks saat scroll media sosial sebelum tidur, padahal otak kita justru dipaksa bekerja keras menyerap berbagai informasi dan emosi,” ujarnya.

Akibatnya, tubuh tidak mendapatkan istirahat yang optimal. Lebih lanjut, paparan cahaya biru dari layar ponsel dapat mengacaukan ritme alami tubuh (circadian rhythm), memicu stres ringan, dan menurunkan produktivitas di hari berikutnya. Konten negatif atau berlebihan yang kita konsumsi sebelum tidur juga berpotensi memperburuk suasana hati.

Sebagai solusi, Bambang menyarankan kita untuk membangun kebiasaan digital yang lebih sehat. Menetapkan batasan waktu penggunaan layar (screen off), mengaktifkan mode malam, atau mengganti aktivitas scrolling dengan kegiatan yang lebih menenangkan seperti membaca buku fisik, menulis jurnal, atau sekadar merenungkan hari yang telah berlalu.

“Teknologi itu alat yang luar biasa, namun kita harus belajar kapan harus berhenti menggunakannya. Disiplin digital justru akan membawa keseimbangan dalam hidup kita,” tegasnya.

UBSI sebagai Kampus Digital Kreatif, menyadari pentingnya hal ini, terus berupaya mengedukasi mahasiswa dan masyarakat tentang digital wellbeing bagaimana menggunakan teknologi secara sehat dan bertanggung jawab. Melalui berbagai pelatihan dan seminar literasi digital, UBSI Kampus Tasikmalaya menanamkan kesadaran bahwa menjadi pengguna teknologi yang bijak sama pentingnya dengan menguasai teknologinya.

Baca Juga:Hujan-Hujanan sebagai Terapi Alami untuk Jiwa, Tubuh, dan Kesuburan

Di era yang serba terhubung ini, godaan untuk terus terhubung dengan dunia digital memang sangat kuat. Namun, mari kita ingat bahwa kesehatan mental dan kualitas tidur kita adalah aset berharga yang tidak boleh kita korbankan demi notifikasi yang tak berujung. Mari bijak dalam menggunakan teknologi, dan berani memutus rantai doomscrolling demi kualitas hidup yang lebih baik. UBSI kampus Tasikmalaya dengan biaya kuliah yang terjangkau dan pendekatan pembelajaran yang relevan dengan kehidupan digital masa kini, UBSI kampus Tasikmalaya terus berkomitmen mencetak lulusan dan masyarakat yang melek teknologi, tapi juga paham batasnya.

“Kita tidak harus anti-gadget, tapi harus tahu kapan meletakkannya. Kadang hal terbaik yang bisa kita lakukan malam ini adalah menutup layar dan memejamkan mata,” tutup Bambang. (Sfkrhm)

Leave A Reply

Your email address will not be published.