Jogja Tak Bisa Hidup dari Nostalgia, Pariwisata Harus Naik Level atau Tertinggal
BSINews, Yogyakarta — Yogyakarta, tak lekang oleh waktu, senantiasa memikat hati sebagai primadona wisata di tanah Jawa. Tapi jujur saja, di tengah persaingan pariwisata yang makin ketat dan perubahan perilaku wisatawan pascapandemi, Jogja nggak bisa terus mengandalkan nostalgia semata.
Wisatawan hari ini datang bukan cuma buat foto di Malioboro atau sekadar ceklis Candi Prambanan. Mereka cari pengalaman. Yang bisa dirasakan, diceritakan, dan dibagikan. Kalau Jogja ingin tetap relevan, daya tarik wisatanya harus naik level lebih variatif, lebih interaktif, dan tentu saja berkelanjutan.
Salah satu kunci pentingnya ada di diversifikasi produk wisata. Jogja punya potensi besar yang belum sepenuhnya dimaksimalkan. Desa wisata, misalnya, bukan cuma soal homestay, tapi soal pengalaman hidup. Wisatawan bisa belajar membatik, ikut aktivitas pertanian, sampai meracik kuliner tradisional langsung bersama warga. Ini yang dicari wisatawan modern keterlibatan emosional, bukan sekadar tontonan.
Pariwisata Alam Jogja Butuh Pengelolaan yang Cerdas
Potensi alam di Kulon Progo dan Gunungkidul juga sebenarnya luar biasa. Tapi pengembangannya harus cerdas. Alam jangan dijadikan korban demi viral sesaat. Fasilitas boleh ditingkatkan, tapi tetap berbasis kelestarian lingkungan. Wisata keren tapi merusak alam justru akan jadi bumerang dalam jangka panjang.
Baca juga : Kuliah di Jogja Tapi Salah Jurusan? Siap-siap Ngantri Lamar Kerja!
Di sisi lain, kita juga nggak bisa lepas dari peran teknologi. Di era digital, konsep smart tourism bukan lagi pilihan, tapi kebutuhan. Informasi harus mudah diakses, cepat, dan ramah wisatawan. Bayangkan kalau destinasi wisata di Jogja dilengkapi QR code dengan penjelasan multibahasa, atau promosi visual yang konsisten di media sosial. Untuk Gen Z dan Milenial, faktor “shareable” sering kali jadi penentu destinasi.
Tentu, semua potensi itu akan kurang maksimal tanpa konektivitas dan infrastruktur yang mendukung. Kehadiran Yogyakarta International Airport (YIA) sudah jadi modal besar. Tantangannya sekarang adalah bagaimana memastikan akses ke destinasi wisata termasuk yang berada di wilayah pinggiran tetap nyaman dan terjangkau. Transportasi publik yang terintegrasi akan sangat menentukan lama tinggal wisatawan di Jogja.
Pariwisata Berkelanjutan Jadi Kunci Masa Depan Jogja
Hal paling krusial yang nggak boleh dilupakan adalah pariwisata berkelanjutan. Naiknya jumlah wisatawan bukan berarti bebas eksploitasi. Pengelolaan sampah, pembatasan pengunjung di area rentan, dan pelibatan masyarakat lokal harus jadi standar, bukan sekadar wacana. Wisatawan hari ini makin sadar isu lingkungan dan sosial. Mereka justru lebih menghargai destinasi yang punya nilai dan tanggung jawab.
Pada akhirnya, mengembangkan pariwisata Jogja bukan cuma soal bangun tempat baru atau bikin spot foto viral. Ini soal merawat identitas Jogja, keramahan, budaya, dan nilai lokal lalu membungkusnya dengan inovasi dan keberlanjutan. Di sinilah peran pendidikan jadi penting.
Baca juga : Cari Kampus di Yogyakarta? Ini 10 Rekomendasi Terbaik Versi uniRank 2025
Program Studi Pariwisata Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) punya peran penting. Prodi ini nggak cuma ngajarin teori wisata, tapi juga membekali mahasiswa dengan skill yang kepakai di lapangan: pengelolaan destinasi, tourism marketing digital, event dan hospitality management, sampai konsep pariwisata berkelanjutan yang lagi dibutuhkan industri.
UBSI sebagai Kampus Digital Kreatif yang telah terakreditasi Unggul juga membiasakan mahasiswa berpikir kreatif, adaptif, dan peka terhadap tren wisata masa depan. Buat kamu yang tertarik berkarier di dunia pariwisata, pengelolaan destinasi, travel, event, atau bahkan ingin membangun wisata lokal sendiri, Prodi Pariwisata UBSI bisa jadi langkah awal yang realistis dan relevan.
Nggak cuma jalan-jalan, tapi belajar bikin wisata jadi bernilai dan berkelanjutan. Yuk, mulai karier pariwisatamu dari sekarang bersama Prodi Pariwisata UBSI.