Media Sosial, Dari Cuma Kepo Mantan sampai Jadi Jalur Beasiswa
BSINews, Karawang – Mari kita akui, hidup sekarang susah dipisahkan dari media sosial. Bangun tidur, yang dicari bukan air wudhu, tapi notifikasi Instagram. Mau tidur, bukan baca doa qunut, tapi scroll TikTok sampai jempol kram. Hidup modern memang sudah di-sponsori algoritma.
Media sosial awalnya kelihatan receh, sekadar tempat upload foto makan ayam geprek dengan caption bijak hasil copas Google. Tapi coba lihat sekarang, dari jualan keripik, kampanye politik, sampai edukasi tentang kesehatan mental, semua bisa lewat medsos. Dunia ini seperti sudah pindah alamat, dari bumi nyata ke dunia maya.
Baca juga: Mahasiswa UBSI Ajak Siswa Manfaatkan Media Sosial untuk Bangun Jiwa Nasionalisme
Dan uniknya, medsos bukan cuma bikin kita punya “teman online” yang jumlahnya bisa ribuan tapi cuma segelintir yang kenal nama bapak kita. Ia juga melahirkan profesi-profesi baru yang dulu kalau kamu ceritain ke nenekmu pasti bikin beliau geleng kepala. Content creator? Influencer? Social media specialist? Itu kerjaan beneran apa cuma alibi biar nggak disuruh nguli di sawah?
Tapi mari adil, medsos itu kayak pisau dapur. Bisa dipakai untuk masak sop sehat, bisa juga untuk nusuk hati orang lewat komentar toxic. Kalau dipakai bijak, manfaatnya bejibun, wawasan bertambah, koneksi meluas, personal branding terbangun, bahkan bisa jadi sarana belajar. Tapi kalau dipakai ngawur, siap-siap jadi korban hoaks, tukang nyinyir, atau sekadar jadi penonton hidup orang lain yang terlihat selalu lebih bahagia.
Nah, biar nggak cuma jadi budak algoritma, literasi digital itu penting banget. Nggak cukup cuma bisa bikin story dengan filter aesthetic, tapi juga perlu ngerti gimana cara algoritma jalan, gimana bikin konten yang nggak cuma viral tapi juga bermanfaat, dan gimana punya etika digital. Karena jujur aja, punya akun medsos itu ibarat punya senjata dan banyak orang sekarang pamer nembak sana-sini tanpa baca manual book dulu.
Di sinilah pendidikan formal masuk. Kalau kamu beneran mau serius di dunia ini, belajar di bidang komunikasi, sistem informasi, atau teknologi digital bisa jadi bekal. Jangan salah, belajar soal strategi digital, cara main algoritma, sampai etika bermedia itu sama seriusnya kayak belajar anatomi dokter. Bedanya, pasienmu bukan manusia, tapi engagement dan insight.
Kepala Kampus Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) kampus Cikampek, Mohamad Syamsul Aziz, ikut menegaskan pentingnya hal ini. Katanya, “Media sosial itu bukan sekadar tempat hiburan. Kalau diarahkan dengan benar, ia bisa jadi sarana belajar, sarana bekerja, bahkan jalan menuju prestasi. Karena itu, kami di UBSI, sebagai Kampus Digital Kreatif berusaha membekali mahasiswa dengan literasi digital yang matang.”
Ia juga menambahkan bahwa kampus tidak ingin mahasiswanya hanya jadi penonton tren digital. “Kami ingin mereka jadi pelaku, pencipta konten, pengelola informasi, bahkan penggerak perubahan lewat media sosial. Dan lewat program beasiswa yang kami buka, kami berharap lebih banyak anak muda punya kesempatan untuk menekuni bidang ini,” ujarnya.
Dan kabar baiknya, ada kampus yang paham soal ini, yaitu UBSI. Mereka nggak cuma kasih pilihan jurusan kekinian seperti Ilmu Komunikasi, Sistem Informasi, Teknologi Komputer tapi juga ngasih program beasiswa. Jadi, kalau kamu mau jago medsos tanpa bikin dompet orang tua kempes kayak balon 17-an, ya ini kesempatanmu.
“Pada akhirnya, kemerdekaan digital itu adalah soal kendali. Kita yang mengendalikan media sosial, bukan sebaliknya,” tutup Syamsul Aziz dengan nada tegas.
Baca juga: Dosen UBSI Dorong Remaja Al-Hidayah Jadi Kreator Konten Positif di Media Sosial
Jadi, kalau ada yang masih nganggep main medsos itu buang-buang waktu, kasih tahu mainnya memang buang waktu, tapi paham cara mainnya bisa jadi masa depan.
Karena di era ini, kemerdekaan bukan lagi sekadar bisa ngomong di panggung terbuka. Kemerdekaan zaman now adalah bisa bikin konten, viral, tetap waras, dan dapat beasiswa dari situ.(ACH)