Dosen UBSI Kampus Tasikmalaya Soroti Fenomena ‘Digital Burnout’ di Kalangan Mahasiswa Menjelang Libur Semester
BSINews — Menjelang akhir semester, sebagian besar mahasiswa mulai menikmati masa istirahat setelah menjalani rutinitas akademik yang padat. Namun, di tengah gempuran aktivitas digital — mulai dari tugas daring, meeting virtual, hingga eksistensi di media sosial — muncul fenomena yang kini sering disebut sebagai digital burnout. Hal ini menjadi perhatian serius dari Dosen Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) kampus Tasikmalaya, Bambang Kelana Simpony.
Fenomena ‘Digital Burnout’ di Kalangan Mahasiswa Menjelang Libur Semester
“Banyak mahasiswa kita terlihat aktif secara digital, tapi secara mental kelelahan. Ini bukan sekadar capek belajar, tapi efek dari terus-menerus terpapar layar dan tuntutan komunikasi digital yang tanpa henti,” ujar Bambang.
Menurutnya, digital burnout tidak hanya berdampak pada produktivitas, tapi juga pada kesehatan mental. Gejalanya bisa berupa rasa cemas, sulit fokus, mudah lelah, hingga kehilangan motivasi belajar. Ironisnya, fenomena ini sering tidak disadari karena dianggap sebagai bagian dari kehidupan normal di era digital.
UBSI kampus Tasikmalaya sebagai kampus berbasis teknologi, memasukkan isu ini ke dalam pembinaan karakter mahasiswa terutama saat sesi konseling dengan Dosen Penasehat Akademik.
“Kami ingin mahasiswa tidak hanya unggul secara teknologi, tapi juga sehat secara mental. Teknologi harus digunakan secara sadar dan proporsional,” tambahnya.
Baca juga: Dosen UBSI: AI Generatif Bisa Bantu Mahasiswa, Asal Tidak Jadi Jalan Pintas
Bambang juga mengajak mahasiswa untuk memanfaatkan libur semester dengan bijak. “Gunakan waktu istirahat bukan hanya untuk scroll media sosial, tapi untuk me-recharge diri secara utuh. Matikan notifikasi sesekali, kembali ke interaksi nyata, dan jaga keseimbangan digital,” pesannya.
Dengan biaya kuliah yang terjangkau dan dukungan pembinaan karakter, Universitas BSI Kampus Tasikmalaya berkomitmen membentuk lulusan yang tidak hanya siap kerja, tapi juga cerdas secara digital dan sehat secara emosional.