Dari Catatan Manual ke Grafik Digital: Ketika Terapi Anak Berkebutuhan Khusus Tak Lagi Sekadar Tebakan
BSINews, Bekasi – Di sebuah sudut Tambun Selatan, Bekasi, tepatnya di Lembaga Terapi Kazama, ada kesibukan yang tak seperti biasanya. Bukan karena anak-anak berlarian lebih heboh dari biasanya, atau karena snack sore habis sebelum waktunya. Tapi karena para terapis hari itu sibuk belajar hal baru—bukan teknik terapi, bukan metode psikologi terbaru, melainkan cara pakai aplikasi digital buat nyatet data perkembangan anak.
Iya, benar. Di dunia yang makin ribut dengan AI dan TikTok, ternyata masih banyak tempat yang mencatat perkembangan anak-anak berkebutuhan khusus dengan pulpen dan buku tulis biasa.
Baca juga: Dosen UBSI Berbagi ilmu Melalui Pelatihan Aplikasi MITA untuk Anak berkebutuhan Khusus
Dan kalau kamu pikir itu hal sepele, coba bayangin jadi terapis yang tiap minggu harus nyari catatan minggu lalu di tumpukan kertas, sambil berharap tinta pulpennya belum pudar. Atau coba jadi orang tua yang nanya, “Bu, perkembangan anak saya gimana?” lalu dijawab dengan kalimat, “Sepertinya sih membaik… ya… kayaknya ya…”
Beruntungnya, Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) Sebagai Kampus Digital Kreatif lewat tim pengabdian masyarakat para dosennya nggak cuma sibuk bikin jurnal untuk akreditasi. Mereka turun langsung ke lapangan, ngajak para terapis di Kazama buat masuk ke dunia yang lebih rapi—dunia di mana data bukan musuh, tapi sahabat.
Dipimpin oleh Rangga Pebrianto—yang kayaknya lebih suka nyebut dirinya “teman belajar” daripada “narasumber”—UBSI ngajarin para terapis cara mencatat perkembangan anak secara digital. Mulai dari input data, kelola database, sampai baca grafik tren. Bukan cuma biar keren, tapi biar tahu kapan si A mulai respons suara, atau si B mulai berani kontak mata lebih lama.
“Kadang kita cuma butuh lihat grafik buat tahu bahwa harapan itu nyata,” kata Rangga sambil mendampingi, Sabtu (3/5). “Dan harapan itu, bisa tumbuh dari titik-titik data kecil yang diketik tiap minggu.”
Pelatihan ini bukan kayak seminar di hotel dengan coffee break dan sertifikat cetak embos. Ini pelatihan yang dimulai dengan senyum kikuk para terapis yang takut salah pencet, dan diakhiri dengan “Wah, ternyata bisa ya begini!”—sebuah jenis kebahagiaan yang sederhana tapi bikin merinding.
Retno, salah satu terapis senior di Kazama, cerita dengan suara pelan tapi penuh keyakinan, “Dulu kami pakai buku tulis, kadang ada halaman yang sobek, tinta luntur, atau datanya nyelip. Sekarang saya bisa buka aplikasi, lihat grafik perkembangan, dan bahkan bisa diskusi sama orang tua anak dengan bukti konkret. Ini bukan cuma bantu kami, tapi juga buat para ibu yang kadang cuma butuh satu alasan untuk terus percaya.”
Yang dilakukan dosen-dosen UBSI ini bukan sekadar ngajarin teknologi. Mereka sedang menyusun jembatan—antara dunia akademik dan dunia nyata, antara algoritma dan empati, antara mahasiswa yang biasa coding dengan kenyataan bahwa nggak semua kemajuan bisa diukur dengan kecepatan prosesor.
Di Kazama, teknologi dipeluk seperti keluarga baru. Bukan karena canggih, tapi karena fungsional. Bukan karena trending, tapi karena menyentuh langsung kehidupan yang nyata. Anak-anak di Kazama mungkin belum tahu apa itu database atau grafik. Tapi mereka pasti merasakan ketika proses terapi mereka jadi lebih terarah, lebih personal, dan lebih penuh perhatian.
Baca juga: Bantu Anak Berkebutuhan Khusus Jadi Jago Digital Marketing? Universitas BSI Punya Caranya!
Program ini mungkin nggak akan masuk trending topic nasional. Nggak bakal masuk berita utama dengan judul bombastis. Tapi bagi Retno dan anak-anak yang ditanganinya, ini adalah perubahan besar. Perubahan yang diam-diam, tapi berdampak panjang.
Dan UBSI? Mereka telah menunjukkan bahwa kontribusi perguruan tinggi nggak harus selalu tentang prestasi akademik. Kadang, itu soal menyederhanakan hidup orang lain. Membuat yang rumit jadi bisa dipahami. Membuat yang terpinggirkan merasa diperhatikan.(ACH)