Dosen Manajemen UBSI Ajak Anak Asuh DKM Al-Istiqomah Belajar Wirausaha, Dari Masjid Tumbuh Mimpi-Mimpi Baru

0 9

BSINews, Depok – Tidak semua anak tumbuh dengan privilese modal besar, koneksi luas, atau jalan hidup yang mulus. Tapi kadang, satu ruang kecil yang penuh dukungan sudah cukup untuk menyalakan keberanian memulai.

Sabtu pagi, 25 April 2026, suasana di DKM Masjid Jami Al-Istiqomah, Pondok Cina, Depok terasa berbeda. Bukan hanya karena ada deretan kursi dan materi presentasi, tetapi karena ada banyak harapan yang sedang dipertemukan di ruangan itu.

Baca juga: UBSI Dorong Kemandirian Anak Yatim Lewat Pelatihan Kewirausahaan

Dosen Program Studi Manajemen Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) menggelar kegiatan Pengabdian Masyarakat (PM) bertema “Penyuluhan Entrepreneurship untuk Anak Asuh dan Pengurus DKM Masjid Jami Al-Istiqomah Pondok Cina Depok”.

Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 09.00 hingga 12.00 WIB ini dipimpin oleh Sofyan Marwansyah bersama tim dosen Taat Kuspriyono, Wiwin Wianti dan Purwatiningsih. Kegiatan juga melibatkan mahasiswa Prodi Manajemen, yakni Muhammad Arzantika Yunus dan Rizky Sukmirat.

Di tengah situasi ekonomi yang tidak selalu mudah ditebak, tema kewirausahaan terasa relevan. Karena hari ini, banyak orang mulai sadar bahwa bertahan hidup kadang butuh lebih dari sekadar menunggu peluang datang.

Peserta yang terdiri dari anak asuh dan pengurus DKM tampak aktif mengikuti setiap sesi. Mereka tidak hanya mendengarkan, tetapi juga terlibat dalam diskusi tentang peluang usaha sederhana, cara memulai bisnis dengan modal terbatas, hingga pentingnya membangun mindset kewirausahaan sejak dini.

Sofyan Marwansyah menjelaskan bahwa kegiatan ini memang dirancang agar peserta tidak hanya menerima teori, tetapi juga berani mulai berpikir tentang kemungkinan-kemungkinan baru dalam hidup mereka.

“Kami ingin peserta memahami bahwa memulai usaha tidak selalu harus menunggu modal besar. Yang paling penting adalah keberanian untuk memulai, kemampuan melihat peluang, dan kemauan untuk terus belajar,” ujar Sofyan, Sabtu (25/4).

Karena kenyataannya, banyak usaha besar justru lahir dari keresahan sederhana dan keberanian kecil yang tidak ditunda terlalu lama.

Suasana kegiatan terasa cair. Tidak kaku seperti seminar formal yang penuh istilah rumit. Para peserta bebas bertanya, berbagi cerita, bahkan menyampaikan keresahan mereka tentang dunia usaha.

Ada yang bingung bagaimana mencari ide bisnis. Ada yang takut gagal. Ada juga yang masih merasa tidak percaya diri untuk memulai. Dan mungkin memang begitu wajah asli proses belajar. Tidak selalu rapi, tapi jujur.

Melalui sesi diskusi interaktif dan tanya jawab, para dosen mencoba menghadirkan pendekatan yang lebih dekat dan membumi. Bukan sekadar memotivasi, tetapi juga membantu peserta memahami langkah-langkah realistis yang bisa mereka lakukan. Hasilnya mulai terasa.

Beberapa peserta mengaku mulai tertarik mengembangkan ide usaha yang sebelumnya hanya tersimpan di kepala. Ada yang mulai membayangkan membuka usaha kecil-kecilan, ada pula yang mulai percaya bahwa mereka juga punya peluang untuk mandiri secara ekonomi.

Perwakilan pengurus DKM Masjid Jami Al-Istiqomah, Abdul Aziz, menyampaikan apresiasinya atas kegiatan tersebut.

“Kami sangat bersyukur dengan adanya kegiatan ini. Semoga program seperti ini bisa terus berlanjut karena manfaatnya sangat dirasakan oleh peserta,” ungkapnya.

Baca juga: UBSI Kampus Cilebut Gelar Seminar Entrepreneur di SMAN 10 Bogor, Dorong Jiwa Wirausaha Generasi Muda

Bagi UBSI, kegiatan ini bukan sekadar memenuhi kewajiban Tri Dharma Perguruan Tinggi. Lebih dari itu, ini adalah upaya menghadirkan kampus yang benar-benar dekat dengan masyarakat. Karena pendidikan seharusnya tidak berhenti di ruang kelas.

Ia harus bisa turun ke lingkungan sekitar, menyapa mereka yang membutuhkan, lalu meninggalkan sesuatu yang lebih dari sekadar materi presentasi, yakni keberanian untuk bermimpi lebih jauh.

Dan siapa tahu, dari ruangan sederhana di masjid itu, suatu hari nanti lahir pengusaha-pengusaha baru yang dulu hanya butuh satu hal sederhana, seseorang yang percaya bahwa mereka bisa.

Leave A Reply

Your email address will not be published.