Gadget, Guru, dan Gembira: Ketika AR Masuk Kelas TK di Pancoran
BSINews, Jakarta – Sabtu pagi di Jakarta Selatan biasanya dipenuhi dua aroma dominan, bau gorengan dari warung depan gang dan harapan orang-orang tua yang lagi nganter anak ke les. Tapi Sabtu, 10 Mei 2025 kemarin, ada aroma lain yang ikut nyelip di antara semua itu—aroma masa depan.
Bertempat di Komunitas 56 Pancoran, Jakarta Selatan, sekelompok guru TK dan PAUD berkumpul bukan buat arisan atau latihan senam poco-poco. Mereka datang buat ngulik teknologi canggih yang biasanya lebih akrab di telinga anak-anak Gen Alpha daripada para pengabdi dunia mainan edukatif ini, Augmented Reality, alias AR.
Baca juga: Nasionalisme, Gadget, dan Anak-anak yang Lupa Punya Tanah Air
Dan yang ngajarin? Bukan start-up unicorn atau korporasi besar, tapi dosen-dosen dari Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) yang sedang menunaikan misi mulianya yaitu Pengabdian Masyarakat (PM).
Acara bertema “Pengenalan Augmented Reality (AR) Edukatif untuk Guru TK dan PAUD sebagai Media Pembelajaran Menggunakan Aplikasi Assemblrworld” ini terdengar seperti judul skripsi. Tapi kenyataannya, justru jauh dari kaku dan membosankan. Yang hadir adalah para guru dengan semangat setinggi langit, meski beberapa masih bingung mana tombol power dan mana tombol volume.
Dipandu oleh Kusmayanti Solecha, dosen Program Studi Teknologi Informasi UBSI, para peserta pelatihan ini diajak mengenal dunia yang biasanya hanya muncul di iklan smartphone atau feed Instagram anak-anak IT.
Solecha—begitu beliau biasa disapa—bukan cuma datang dengan slide dan pointer, tapi juga dengan rasa hormat yang tinggi pada perjuangan guru TK dan PAUD, yang tiap hari harus sabar menjelaskan kenapa “O” itu bukan bulatan kosong tapi huruf.
AR, kata Solecha, bukan cuma buat bikin filter selfie jadi glowing. Teknologi ini bisa jadi jembatan imajinasi buat anak-anak kecil yang pikirannya selalu terbang kemana-mana. Dengan aplikasi Assemblrworld, para guru diajak membuat konten pembelajaran yang bisa memunculkan gajah 3D di meja belajar, huruf yang bisa melayang, dan angka yang bisa diputar-putar. Semua cukup dari layar HP, tanpa perlu nunggu murid bawa mainan mahal.
Para guru awalnya agak kagok. Ada yang salah pencet, ada yang panik karena AR-nya malah keluarin dinosaurus. Tapi justru dari situ, tawa-tawa kecil muncul. Mereka tertawa bukan karena gagal, tapi karena sadar bahwa belajar itu memang harus sedikit lucu, supaya nggak gampang menyerah.
Yang bikin momen ini jadi lebih dari sekadar pelatihan adalah rasa percaya diri yang tumbuh perlahan. Bahwa teknologi nggak selalu harus bikin orang tua mundur pelan-pelan. Bahwa bahkan guru-guru yang sudah bertahun-tahun mengajar dengan papan tulis dan lagu anak ayam bisa bersanding dengan teknologi terkini—asal ada yang ngajak dengan sabar, bukan dengan jargon belaka.
UBSI Sebagai Kampus Digital Kreatif dalam hal ini bukan datang sebagai “kampus pengabdi Tri Dharma Perguruan Tinggi” semata. Tapi mereka datang sebagai teman seperjuangan, yang tahu betul bahwa revolusi pendidikan nggak bakal datang dari pidato, tapi dari ruang-ruang kecil seperti Komunitas 56 ini. Dari senyum lelah para guru yang tahu bahwa besok mereka bakal bercerita ke muridnya, “Hari ini, Bu guru bikin pesawat muncul dari buku cerita, lho.”
Dan mungkin, dari pelatihan ini, bakal lahir generasi baru yang bukan cuma melek huruf dan angka, tapi juga melek teknologi—bukan buat pamer di TikTok, tapi buat ngerti dunia. Karena pada akhirnya, pendidikan anak usia dini itu soal membangun pondasi. Dan kalau bisa dibangun dengan bata-bata ajaib dari AR yang interaktif, kenapa enggak?
Siapa bilang masa depan harus datang dari luar negeri? Kadang, masa depan datang dari sudut gang Pancoran, dari guru-guru sederhana yang lagi belajar cara bikin gajah 3D jalan-jalan di ruang kelas.(ACH)