Ketika Lele Bertemu Teknologi! Cerita dari Sawah, Kolam, dan Odoo

0 66

BSINews, Bekasi – Bayangkan sebuah pagi di pinggiran Kabupaten Bekasi. Udara masih basah, aroma lumpur dan pakan ikan lele bercampur jadi satu. Di antara deretan kolam yang tenang, sekelompok bapak-bapak dan ibu-ibu duduk serius menatap layar laptop. Bukan untuk main TikTok, bukan juga untuk pesanan online, tapi belajar pakai aplikasi bisnis bernama Odoo.

Ya, Odoo. Sebuah nama yang terdengar seperti menu minuman baru di kafe, tapi sebenarnya adalah platform digital untuk mencatat keuangan dan administrasi usaha. Hari itu, para petani lele di Kelompok Tani Lele BP. Sumberjaya sedang mendapat pendampingan dari tim dosen Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) kampus Bekasi dalam program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM).

Baca juga: Odoo, ERP, dan Mahasiswa UBSI: Ketika Sistem Informasi Tak Lagi Sekadar Teori

Dan siapa sangka, di tengah bau kolam dan suara cipratan air, lahir semangat baru, semangat untuk melek digital. Selama ini, para anggota kelompok tani mengandalkan pencatatan manual. Satu buku catatan untuk semua transaksi, seperti beli pakan, jual lele, ganti jaring, semua ditulis tangan. Kadang tintanya luntur, kadang bukunya hilang, dan kadang, angka di kolom pengeluaran entah bagaimana bisa jadi “main sulap”, tiba-tiba minus tanpa alasan yang jelas.

“Kalau catatan manual, kadang salah hitung, kadang lupa. Tapi kalau pakai aplikasi, semua langsung ketahuan,” kata Ahmad Fauzi dari perwakilan kelompok PkM UBSI kampus Bekasi, sambil tersenyum malu ketika pertama kali berhasil input data di Odoo.

Tim dosen UBSI datang bukan untuk menggurui, tapi untuk membantu mereka menata ulang cara kerja. Aplikasi Odoo yang mereka perkenalkan fokus pada dua hal sederhana tapi penting, Expense (pengeluaran) dan Invoice (penagihan).

Kedengarannya rumit, tapi nyatanya bisa membantu para petani mencatat setiap transaksi dengan lebih rapi dan efisien. Tidak ada lagi “eh, kemarin uang buat beli pakan berapa ya?” atau “sisa keuntungan bulan lalu ke mana, sih?”. Dengan Odoo, semuanya tercatat. Transparan. Dan lebih penting lagi, bisa dievaluasi.

Awalnya, ada rasa ragu. “Kami kan bukan orang kantoran, Bu. Emang bisa?” tanya salah satu anggota kelompok Tani Lele BP. Sumberjaya. Tapi begitu dijelaskan pelan-pelan, mereka mulai penasaran. Satu per satu mencoba menekan tombol, melihat angka muncul di layar, lalu tersenyum puas. Rasanya seperti pertama kali berhasil panen lele tanpa gagal.

Yang menarik, antusiasme mereka nggak main-main. Ada yang sengaja datang lebih pagi biar bisa duduk di depan. Ada yang mencatat ulang langkah-langkah di buku tulis, seolah-olah lagi ikut ujian. Bahkan, beberapa peserta mulai diskusi sendiri tentang bagaimana data di Odoo bisa membantu mereka menghitung kebutuhan pakan bulanan.

Dari situ terlihat, bahwa teknologi bukan cuma untuk startup atau perusahaan besar. Kalau disampaikan dengan bahasa yang sederhana dan sesuai kebutuhan, petani pun bisa jadi pengguna teknologi yang tangguh.

Bagi tim dosen UBSI kampus Bekasi, kegiatan ini bukan sekadar rutinitas akademik. Ini bentuk nyata bahwa pendidikan seharusnya turun ke tanah, menyentuh air kolam, dan berbicara dengan bahasa rakyat.

“Bagi kami, teknologi bukan untuk menciptakan jarak, tapi untuk mendekatkan. Kalau dulu pencatatan keuangan dianggap hal rumit, sekarang mereka bisa mengelola sendiri. Ini langkah kecil, tapi dampaknya besar,” ujar salah satu dosen sambil memantau proses pelatihan.

Baca juga: Dosen UBSI Berikan Pelatihan Odoo untuk Tingkatkan Manajemen Inventory UMKM Pabuaran

Karena pada akhirnya, digitalisasi bukan tentang seberapa canggih aplikasinya, tapi seberapa relevan manfaatnya untuk manusia yang menggunakannya. Dan di Sumberjaya, Bekasi, Odoo bukan sekadar alat, ia jadi simbol pertemuan antara dua dunia yaitu dunia kampus dan dunia kolam.

Mungkin inilah wajah sejati dari “transformasi digital” yang sering kita dengar itu bukan yang ribet dan berjarak, tapi yang membumi dan memberi manfaat. Karena kemajuan sejati, seperti lele di kolam, tumbuh pelan-pelan, tapi pasti asal dirawat dengan sabar dan niat baik.(ACH)

Leave A Reply

Your email address will not be published.