Ketika Santri Mulai Melek Digital: Dari Kitab Kuning ke Dunia Maya, Literasi Itu Fardhu Ain

0 186

BSINews, Tangerang – Di tengah riuhnya dunia digital yang makin nggak kenal waktu, siapa sangka sebuah pondok pesantren di Sepatan, Tangerang, jadi panggung lahirnya harapan baru? Bukan harapan yang muluk-muluk macam jadi youtuber viral atau influencer TikTok dengan konten joget ala santri. Tapi harapan sederhana: “agar anak-anak ini nggak kalah melek digital sama dunia yang makin absurd ini.”

Matahari belum tinggi, tapi langkah-langkah semangat sudah terdengar di halaman Pondok Pesantren Al Mansyuriyah pada Sabtu, 26 April 2025. Bukan karena ada pengajian kitab dadakan atau tamu dari Timur Tengah. Tapi karena ada dosen-dosen dari Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) yang datang bukan cuma bawa senyum, tapi juga ilmu—tentang dunia yang selama ini mungkin terasa jauh dari kamar asrama dunia literasi digital.

Baca juga: Dukung Literasi Digital, Dosen UBSI Latih Warga Tegal Parang Gunakan Canva

Literasi digital ini istilah yang sering dikira elit. Padahal ya, sederhananya kemampuan buat berselancar di dunia maya dengan otak yang waras. Mampu cari informasi, mencerna mana hoaks mana fakta, dan lebih penting lagi, tahu kapan harus logout dan kembali jadi manusia utuh yang nggak dikuasai notifikasi.

Dan ternyata, dunia pondok pesantren bukan berarti bebas dari tantangan digital. Di sela-sela jadwal ngaji dan hafalan, para santri juga tetap hidup di zaman ketika WA grup keluarga bisa lebih berisik dari kelas daring. Ketika status Facebook bisa bikin debat lebih panas dari forum bahtsul masail.

Makanya, acara bertajuk “Sosialisasi Pentingnya Literasi Digital bagi Santri di Era Globalisasi” yang digagas oleh dosen dan mahasiswa Prodi Manajemen UBSI Kampus Tangerang dalam pengabdian masyarakat ini, rasanya seperti azan subuh di hari Senin, yaitu nyentil, bangunin, dan bikin kita mikir.

Pak Kyai, KH Ahmad Sholahuddin, dalam sambutannya tampak sumringah. “Ini penting banget untuk anak-anak kami. Biar bisa bersaing, tapi tetap bertanggung jawab.” Bahasanya halus, tapi kita semua paham maksudnya: “Jangan sampai anak santri ini kalah sama anak-anak yang tiap hari main HP tapi nggak tahu apa-apa.”

Materi yang disampaikan juga nggak sekadar teori dari Google Scholar. Para dosen dan mahasiswa UBSI yang terlibat— Seno Sudarmono Hadi, Syukron Sazly, Usran Mahasere dan Yandri Ahmad Rifandi—turun langsung membahas dari dasar apa itu literasi digital, pilar-pilarnya, manfaatnya, tantangannya, sampai gimana menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari santri.

Dan yang bikin adem hati, para santri nggak cuma duduk manis sambil nahan ngantuk. Mereka aktif bertanya, nangkep poin-poin penting, dan bahkan ngasih contoh kasus sendiri. Dari mulai pertanyaan tentang berita hoaks sampai soal gimana menyeimbangkan dunia maya dan dunia nyata.

Acara ini bukan cuma soal “datang-ngisi-pulang”, tapi soal membangun jembatan antara dunia pesantren dan dunia digital yang makin buas. Antara kitab kuning dan Google Search. Antara adab bersosial dan algoritma media sosial.

Ustadz Ade Mahmud, mewakili pengasuh pesantren di akhir acara, bilang hal yang bikin kita ikut mengamini dalam hati, “Semoga ini bukan yang terakhir. Kami butuh lebih banyak acara seperti ini.”

Dan kita tahu, Ustadz Ade nggak sedang cari pencitraan. Ia sedang menagih janji zaman, bahwa santri juga punya hak untuk maju, punya hak untuk melek, dan yang terpenting—punya hak untuk tidak tersesat dalam dunia digital yang kadang lebih gelap dari malam tanpa listrik.

Baca juga: Dosen UBSI Berikan Pelatihan Literasi Digital kepada Remaja RW 04 Ulujami

Di dunia yang sibuk membahas AI dan big data, santri yang belajar membedakan hoaks dari fakta adalah investasi paling rasional. Karena secerdas-cerdasnya teknologi, tetap butuh manusia yang bisa mikir dengan hati dan kepala yang sehat.

Literasi digital bukan soal bisa bikin konten, tapi soal tahu kapan harus scroll dan kapan harus stop. Dan kalau hari itu di Kecamatan Sepatan adalah titik awal, maka mari kita doakan agar makin banyak pesantren yang sadar, bahwa mengajarkan adab digital itu sama pentingnya dengan mengajarkan adab makan dan tidur.

Karena di era globalisasi, buta huruf bukan lagi soal baca-tulis. Tapi soal bisa baca situasi dan nulis masa depan yang lebih bijak.(ACH)

Leave A Reply

Your email address will not be published.