Universitas BSI Kampus Tasikmalaya Gelar Workshop Aplikasi Stunting untuk Kader Posyandu di UPTD Puskesmas Sukamulya, Kecamatan Cihaurbeuti, Kabupaten Ciamis
BSINews, Tasikmalaya – Universitas BSI (Bina Sarana Informatika) Kampus Tasikmalaya mengadakan workshop bertema “Penerapan Teknologi dalam Pencegahan Stunting di UPTD Puskesmas Sukamulya, Kecamatan Cihaurbeuti, Kabupaten Ciamis.” Acara yang berlangsung pada Sabtu, 9 November 2024 ini dihadiri oleh dosen dan mahasiswa Universitas BSI sebagai bentuk implementasi dari Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam bidang pengabdian kepada masyarakat.
Ketua pelaksana, Yani Sri Mulyani, menyampaikan bahwa workshop ini bertujuan untuk memberikan edukasi dan pelatihan kepada para kader posyandu dalam menggunakan teknologi untuk mendeteksi dan mencegah stunting melalui aplikasi berbasis Android.
“Aplikasi ini dirancang agar para kader posyandu di setiap desa dapat mendeteksi status kesehatan anak secara cepat dan akurat, sehingga langkah pencegahan serta pengobatan dapat segera dilakukan,” jelas Yani.
Sementara itu, Kasubag TU UPTD Puskesmas Sukamulya, Nila Yutika yang mewakili Kepala Puskesmas, mengapresiasi inisiatif dari Universitas BSI Tasikmalaya dalam membantu upaya sosialisasi stunting.
“Program kami di Puskesmas fokus pada edukasi dan pencegahan stunting sejak dini. Mulai dari anak usia sekolah, calon pengantin, wanita subur, hingga ibu hamil, kami berupaya memberikan pemeriksaan kesehatan, makanan tambahan, serta sosialisasi pola hidup sehat agar anak yang lahir tidak terindikasi stunting,” ujarnya.
Aplikasi stunting yang dirancang oleh mahasiswa Universitas BSI ini dihibahkan kepada UPTD Puskesmas Sukamulya untuk membantu kader posyandu dalam mendeteksi stunting pada anak-anak di wilayah tersebut. Imam Amirulloh, selaku tutor dalam kegiatan ini, menambahkan bahwa aplikasi ini merupakan hasil karya mahasiswa yang merupakan implementasi dari materi kuliah mereka.
Aplikasi ini dilengkapi dengan fitur klasifikasi otomatis untuk mendeteksi status stunting berdasarkan tinggi badan dan umur anak. Hasil klasifikasi tersimpan dalam database yang bisa diekspor dalam bentuk Excel untuk memudahkan pengelolaan data oleh kader posyandu. “Aplikasi ini kini dapat mendeteksi status pertumbuhan tidak hanya pada bayi dan balita, tetapi juga pada usia remaja, dengan klasifikasi status stunting kurus, stunting biasa, normal, dan tinggi,” jelas Hendri Mardani, salah satu pengembang aplikasi.
Selain fitur utama, aplikasi ini juga dilengkapi dengan tujuh layanan, termasuk layanan untuk ibu hamil, anak, calon pengantin, remaja putri, keluarga, dan layanan pencegahan stunting. Hendri menambahkan bahwa aplikasi ini dilengkapi dengan chatbot berbasis AI yang memungkinkan pengguna berinteraksi dan mendapatkan informasi melalui tanya jawab secara responsif.
Dalam sesi diskusi, Widi, salah satu peserta workshop, memberikan masukan agar aplikasi ini lebih spesifik untuk UPTD Puskesmas Sukamulya agar memudahkan kader posyandu dalam menginput data warga yang terkena stunting, terutama di wilayah Kecamatan Cihaurbeuti. Hal serupa disampaikan oleh Nining yang berharap aplikasi ini dapat membantu kader dalam mendeteksi stunting dengan cepat saat penimbangan, terutama mengingat UPTD Puskesmas Sukamulya menaungi enam desa dan 37 posyandu.
“Aplikasi ini akan semakin memudahkan kader posyandu dalam menginput data warga yang berpotensi terkena stunting. Penyesuaian ini diharapkan akan mempermudah proses pengolahan data secara efisien sesuai dengan kebutuhan dan kondisi lokal, sehingga intervensi stunting bisa dilakukan dengan lebih tepat dan terarah,” jelas Widi.
Universitas BSI Tasikmalaya berharap aplikasi ini dapat menjadi solusi efektif dalam membantu puskesmas dan kader posyandu mengatasi stunting, serta memberikan kontribusi berkelanjutan untuk kesehatan masyarakat di wilayah tersebut.(RDX)