Dorong Pengelolaan Sampah Organik, UBSI Laksanakan Pelatihan Pupuk Cair dalam Rangka Hibah BIMA 2025
BSINews, Tasikmalaya – Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) kampus Tasikmalaya, yang dikenal sebagai Kampus Digital Kreatif, melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat melalui skema Hibah BIMA 2025 dengan menggelar Pelatihan Pembuatan Pupuk Organik Cair di Bank Sampah Tunas Mulia Ciherang, Tasikmalaya, pada Sabtu (2/8) lalu. Kegiatan ini menjadi wujud komitmen UBSI dalam mendukung pemberdayaan masyarakat melalui pengelolaan limbah organik rumah tangga menjadi produk ramah lingkungan dan bernilai ekonomis.
Pelatihan ini menghadirkan narasumber Ihsan, yang memberikan pengetahuan teoritis dan praktik langsung mengenai proses pembuatan pupuk cair dari limbah dapur dan sampah organik rumah tangga. Kegiatan diikuti dengan antusias oleh para anggota bank sampah dan dilaksanakan langsung di area Bank Sampah Tunas Mulia Ciherang.
Kegiatan ini terselenggara berkat dukungan pendanaan dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia Tahun Pendanaan 2025.
Baca juga : Bank Sampah Tunas Mulia Ciherang Gelar Pelatihan Digitalisasi dan Daur Ulang Bersama UBSI Kampus Tasikmalaya
Ketua pelaksana kegiatan, Ir. Dini Silvi Purnia, menyampaikan bahwa pelatihan ini bertujuan untuk memperluas wawasan peserta terkait pengelolaan sampah, khususnya limbah organik, agar memiliki nilai tambah.
“Kami ingin anggota bank sampah tidak hanya fokus pada sampah anorganik, tapi juga mampu mengelola sampah organik menjadi produk yang bermanfaat. Pupuk cair ini sangat potensial untuk pertanian rumah tangga bahkan dijual sebagai produk lokal,” ujar Dini, dari keterangan rilis yang diterima pada Selasa (5/8).
Hal senada disampaikan oleh Direktur Bank Sampah Tunas Mulia Ciherang, Moch. Haerul Ihsan. Ia menyebut pelatihan ini merupakan bagian dari langkah strategis dalam menciptakan lingkungan yang sehat sekaligus meningkatkan produktivitas warga.
“Pengelolaan sampah berbasis masyarakat harus menyentuh semua aspek, termasuk pemanfaatan limbah organik. Kami yakin pelatihan ini akan membawa dampak jangka panjang bagi ketahanan pangan dan ekonomi warga,” jelas Ihsan.
Antusiasme peserta tercermin dari testimoni yang diberikan. Tati, salah satu anggota bank sampah, mengungkapkan bahwa ia baru mengetahui manfaat air cucian beras dan sisa sayur sebagai bahan utama pupuk cair.
“Ini sangat berguna, apalagi saya suka berkebun di rumah,” ungkapnya.
Kegiatan ditutup dengan sesi praktik pembuatan pupuk cair secara berkelompok. Para peserta membawa pulang hasil racikan pertama mereka sebagai langkah awal produksi mandiri di rumah masing-masing.
Melalui kegiatan ini, UBSI bersama Bank Sampah Tunas Mulia Ciherang berupaya mendorong pengelolaan sampah terpadu yang tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan. (Alisa)