Perjalanan Sunyi Seorang Perempuan yang Belajar Administrasi Bisnis dan Ketahanan Hidup Sekaligus
BSINews, Bekasi – Di balik gegap gempita wisuda, selalu ada cerita yang jalannya pelan, rapi, dan tidak berisik. Salah satunya milik seorang perempuan dari Depok yang langkahnya tenang tapi tekadnya keras.
Namanya Gita Dwi Lestari. Wisudawan Administrasi Bisnis yang selama masa kuliahnya lebih sering terlihat menenteng project, bekerja kelompok, dan belakangan ini kembali ke rumah untuk membantu orang tuanya sambil berburu pekerjaan yang sejalan dengan latar belajarnya.
Baca juga: Cerita Dihan yang Belajar Merawat Hidup Sama Seriusnya dengan Merawat Pasien
Hari-hari pertamanya di kampus penuh rasa yang saling tumpang tindih. Gugup, antusias, campur-campur seperti cuaca Jakarta yang kadang panas, kadang mendung tanpa aba-aba. Lingkungan baru, ritme baru, cara belajar baru semuanya membuatnya sadar kalau jalan yang ia pilih ini bukan sekadar “kuliah”, tapi transisi besar menuju siapa ia akan jadi nanti.
Administrasi Bisnis dipilih bukan karena ikut-ikutan atau asal isi formulir. Gita melihat jurusan ini sebagai jembatan menuju banyak kemungkinan. Lapangan kerja terbuka luas, skill-nya relevan di banyak bidang, dan karakternya cocok dengan dunia administrasi yang menuntut kerapian dan ketepatan.
Dari banyak mata kuliah, ada dua yang membekas kuat. Bahasa Inggris yang membuatnya merasa lebih percaya diri berkomunikasi, dan Entrepreneur, mata kuliah yang membawanya terjun langsung berjualan selama berbulan-bulan.
Dari situ, ia belajar bahwa bisnis bukan sekadar teori strategi, tapi soal benar-benar turun tangan. Memikirkan stok, mencari pembeli, menata promosi, melewati hari-hari penuh keraguan. Kuliah yang mengguncang realita, tapi juga menguatkan mental.
Kegiatan Gita selama kuliah memang tidak heboh. Ia bukan tipe yang tampil di panggung besar organisasi setiap minggu. Ia kuliah, ia belajar, ia mengerjakan tugas, ia sesekali pergi ke tempat lain untuk menyelesaikan project bersama teman-teman. Hidup yang sederhana, tapi stabil.
Ketika namanya muncul sebagai peraih Wisudawan Terbaik UBSI, perasaan yang muncul bukan sekadar bangga. Ada rasa lega, ada rasa terbayar, ada rasa “akhirnya bisa buktiin.” Baginya, predikat itu bukan sekadar angka. Itu penanda bahwa dirinya mampu dan orang tuanya pantas bangga.
Tips belajarnya pun tidak dibuat-buat. “Kalau ada materi yang tidak paham, saya ulang sampai mengerti.” Metode sederhana yang sering diremehkan, tapi justru paling efektif. Tidak ada trik sulap. Hanya konsistensi.
Untuk masa depan, Gita ingin bekerja dulu. Menambah pengalaman, mencicipi dunia profesional, merasakan ritme kerja yang nyata. Setelah itu, ia tidak menutup kemungkinan melanjutkan pendidikan, entah tetap di jalur administrasi bisnis atau bergerak sedikit ke manajemen, bidang yang masih satu keluarga.
Tentang sistem pengajaran di UBSI, ia merasa semuanya cukup jelas dan mudah diikuti. Materi gampang diakses, ritme pembelajaran praktis, dan mahasiswa tidak dibuat ribet oleh prosedur yang tak perlu.
Harapan Gita untuk lulusan UBSI sederhana tapi tulus. Semoga ilmu yang didapat benar-benar hidup bukan cuma menghiasi ijazah. “Semoga lulusan UBSI berani melangkah, mencoba, berbisnis, bekerja, dan terus belajar tanpa merasa kecil hati. Dunia luas menunggu, tapi tidak akan menunggu terlalu lama.”
Baca juga: Jajanan Pasar yang Mengajarkan Cara Bertahan di Dunia Manajemen
Dan untuk adik-adik tingkat, Gita menitipkan pesan lembut tapi tegas. Nikmati masa kuliah. Serius belajar, tapi jangan lupa berkembang. Ambil peluang. Bertanya tidak bikin kalian terlihat bodoh, justru bikin kalian bergerak.
Hari wisuda ini bukan akhir. Ini hanya jeda di perjalanan panjang seorang Gita Dwi Lestari, anak Depok yang belajar administrasi bisnis, belajar berjualan, belajar sabar, belajar tekun, dan perlahan-lahan belajar memahami dirinya sendiri.(ACH)