Cerita Dihan yang Belajar Merawat Hidup Sama Seriusnya dengan Merawat Pasien
BSINews, Bekasi – Di antara toga yang sibuk dibetulkan dan senyum keluarga yang sama gugupnya dengan wisudawan, ada satu sosok yang langkahnya kalem tapi kisahnya punya kedalaman yang tidak main-main.
Namanya Dihan Purnama Alam. Lahir dan besar di Jakarta, ia menempuh pendidikan di Prodi Keperawatan Fakultas Kesehatan Akper Bina Insan yang kini sedang dalam proses penyatuan dengan Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) menjadi Fakultas Ilmu Kesehatan. Jadi bisa dibilang, ia lulus di masa transisi, masa perubahan, masa ketika kampus dan dirinya sama-sama sedang tumbuh ke tahap berikutnya.
Baca juga: Di Balik Gelar Cum Laude, Ada Seseorang yang Berani Berhenti Sebentar
Beberapa waktu terakhir, hidupnya lebih banyak diisi pekerjaan dan waktu bersama keluarga. Ritme yang tenang, tapi kalau kita lihat ke belakang, perjalanan kuliahnya tidak pernah benar-benar tenang. Karena merawat orang lain itu bukan sekadar profesi, itu panggilan yang membentuk cara seseorang memandang hidup.
Kesan pertamanya ketika masuk UBSI simpel dan jujur. Ia sudah tahu UBSI punya rekam jejak bagus di dunia pendidikan tinggi. Dan ketika akhirnya masuk, semuanya terasa pas. Tidak mengecewakan, tidak berlebihan. Pas. Seperti seseorang yang menemukan tempat belajar yang cocok tanpa perlu drama perbandingan kampus.
Jurusan Keperawatan dipilih bukan karena paksaan atau tren, tapi karena rumah dan keluarga lebih dulu mengenalkan dunia kesehatan dengan semua dinamikanya. “Mayoritas keluargaku tenaga kesehatan,” begitu pengakuan Dihan. Di titik itu, pilihan jurusan bukan sekadar karir, tapi penerusan estafet pengabdian.
Setiap mata kuliah punya jejak emosional sendiri. Dari KGD (Keperawatan Gawat Darurat) yang melatih ketahanan berpikir jernih di situasi genting, Gerontik yang mengajarkan kesabaran ekstra menghadapi lansia yang sensitif, sampai Keperawatan Jiwa yang diam-diam menguji mental mahasiswa lebih dari yang dibayangkan. Satu paket lengkap yang bikin seseorang tidak hanya pintar, tapi kuat.
Di luar kelas, Dihan bukan tipe mahasiswa pasif. Ia aktif berorganisasi dan justru merasa kesibukan itu bukan beban, tapi pelengkap proses belajar. Sesuatu yang kadang lebih membangun karakter daripada kelas teori mana pun.
Ketika namanya diumumkan sebagai peraih predikat Wisudawan Terbaik, meski berhalangan hadir karena jadwal tugasnya, reaksinya campuran antara bangga dan lega. Tidak ada trik belajar ajaib.
Tidak ada metode super. Hanya prinsip sederhana yang dibawanya sejak SMA, “Setiap tugas aku anggap seperti tugas akhir.” Pendekatan yang mungkin membuat orang lain kelelahan, tapi untuk Dihan, justru cara paling jitu memastikan ia tidak pernah setengah-setengah.
Saat ini, ia memilih fokus bekerja dulu. Dunia kesehatan tidak pernah kehabisan kebutuhan tenaga profesional. Tapi keinginan melanjutkan pendidikan tetap ada, pintunya tetap terbuka. Dan kalau nanti lanjut S1, ia tidak menutup pintu untuk tetap di UBSI. Bahkan mungkin mencoba jurusan baru, karena hidup terlalu dinamis untuk dipetakan kaku.
Soal sistem pengajaran, Dihan merasa semuanya sudah tertata. Rapi, jelas, dan mendukung mahasiswa untuk benar-benar siap kerja. Sesuatu yang tidak selalu bisa ditemukan di semua kampus.
Namun harapan terbesarnya ditujukan kepada para lulusan UBSI sekarang dan yang akan datang. Ia ingin ikatan alumni makin kuat, saling membantu, dan tidak berhenti pada ucapan selamat di hari wisuda. “Sampai kapan pun, kita tetap satu almamater,” begitu katanya. Kalimat yang hangat sekaligus menegaskan bahwa hubungan kampus tidak berhenti di ijazah.
Baca juga: Jajanan Pasar yang Mengajarkan Cara Bertahan di Dunia Manajemen
Untuk adik-adik tingkat, Dihan menyimpan pesan yang meneduhkan sekaligus menegur halus. “Kalian punya kesempatan yang tidak semua orang dapatkan. Banyak orang di luar sana ingin ada di posisi kalian.” Pesan singkat yang entah bagaimana membuat kita ingin kembali membuka buku catatan.
Dihan adalah contoh kecil bahwa merawat hidup dan merawat pasien membutuhkan napas panjang, komitmen, dan hati yang tidak mudah goyah. Hari wisuda ini bukan sekadar seremoni, ini adalah momen ketika perjalanan panjang itu akhirnya terdengar. Dengan lembut, tanpa pamer, tapi tetap membekas.(ACH)