Dari Error ke Cum Laude, Cerita Programmer yang Tidak Pernah Menyerah pada Syntax

0 132

BSINews, Bekasi – Di tengah ribuan toga yang bergerak seperti ombak kecil di BSI Convex, ada sosok yang datang dengan langkah pelan tapi pasti, membawa kebanggaan yang tidak rebut, jenis kebanggaan yang lahir dari malam panjang ditemani laptop, error berulang, dan tab Google yang jumlahnya tidak manusiawi.

Itulah kisah Jauhari Afif Ramadana, anak Jakarta yang tumbuh di dunia rekayasa perangkat lunak, dan hari ini berdiri sebagai salah satu wisudawan terbaik Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI).

Baca juga: Perjalanan Sunyi Seorang Perempuan yang Belajar Administrasi Bisnis dan Ketahanan Hidup Sekaligus

“Lingkungan kampusnya ramah dan dosennya memotivasi banget,” begitu katanya saat mengenang awal masuk kuliah. Kesan yang sederhana tapi jujur, seperti cara dia menghadapi hidup, apa adanya, tapi selalu serius di bagian yang penting.

Afif memilih Rekayasa Perangkat Lunak bukan karena sok futuristik, tapi karena rasa penasaran yang tidak pernah padam setiap kali melihat sebuah sistem bekerja. Kode baginya bukan sekadar barisan karakter, tetapi cara paling efisien untuk membuat sesuatu bermanfaat. Dunia pemrograman bukan ruang asing, itu rumah kedua yang ia bangun sedikit demi sedikit.

Mata kuliah favoritnya? Web Programming dan Rekayasa Perangkat Lunak. Di sana ia belajar merancang sistem dari blueprint sampai jadi situs yang bisa dikunjungi orang lain. Ada sensasi yang sulit dijelaskan bagi seorang programmer ketika sesuatu yang tadinya hanya ide tiba-tiba hidup dalam bentuk halaman web.

Hari-harinya selama kuliah lebih banyak diisi dengan mengerjakan tugas, latihan koding, dan menambah skill web development. Tidak glamor, tidak viral, tidak heboh. Tapi justru dengan ritme sunyi itulah Afif menempa dirinya.

Makanya, saat predikat Wisudawan Terbaik UBSI jatuh ke tangannya, ia sempat kaget. “Saya sangat bersyukur dan bangga banget bisa membahagiakan orang tua,” ucapnya. Kejutan yang muncul dari perjalanan yang dijalani dengan konsisten, bukan dari ambisi besar yang diumumkan ke mana-mana.

Tips belajarnya sederhana, jangan menunda tugas, belajar rutin meski sedikit, catat poin penting, tanya kalau bingung, dan latihan sebanyak mungkin. Pendekatan yang kadang terkesan kuno tapi terus terbukti berhasil sejak sebelum internet tahu cara menggulung halaman ke bawah.

Rencananya setelah lulus, Afif ingin masuk dunia kerja sambil terus mengasah kemampuan. Ia tetap membuka peluang melanjutkan S2, tapi fokus utamanya adalah menancapkan kaki dulu di industri teknologi. Jika pun nanti belajar lagi, ia tetap ingin di dunia yang sama dunia yang membuatnya betah membuka laptop sampai pagi.

Baginya, sistem pengajaran di UBSI sudah cukup ideal. Materi jelas, dosen komunikatif, dan ritme kuliahnya membuat mahasiswa tidak tersesat. Harapannya untuk lulusan lain juga sederhana tapi penting yaitu terus adaptif, jangan takut berubah, dan jangan males eksplorasi. Dunia IT itu cepat sekali jalan, stagnan berarti tersingkir.

Baca juga: Cerita Dihan yang Belajar Merawat Hidup Sama Seriusnya dengan Merawat Pasien

Untuk adik-adik tingkat, pesannya mengalir seperti teman nongkrong yang ngomong dari hati, “Jangan cuma kejar nilai. Bangun kebiasaan belajar, disiplin, dan mental tahan banting. Langkah kecil tiap hari bakal ngumpul jadi sesuatu yang besar.”

Di antara banyak cerita wisuda yang penuh gliter dan kata-kata besar, kisah Afif mengingatkan bahwa ada jenis kemenangan yang tumbuh dari rutinitas kecil yang dilakukan dengan konsisten. Tidak dramatis, tapi nyata. Tidak heboh, tapi bertahan. Dan hari ini, kemenangan itu berdiri di atas panggung, memakai toga, sambil tersenyum kepada masa depan yang akhirnya tampak dekat.(ACH)

Leave A Reply

Your email address will not be published.