UBSI Perkuat Tata Kelola melalui Audit Mutu Internal Berbasis Risiko

0 8

BSINews, Jakarta — Penguatan budaya mutu dan tata kelola terus dilakukan Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) sebagai Kampus Digital Kreatif melalui pelaksanaan Audit Mutu Internal (AMI) Berbasis Risiko pada 28 Agustus 2026. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memastikan pengelolaan risiko berjalan secara sistematis sebagai dasar dalam menjaga pencapaian sasaran sekaligus meningkatkan kualitas penyelenggaraan perguruan tinggi.

UBSI Perkuat Tata Kelola melalui Audit Mutu Internal Berbasis Risiko

Audit Mutu Internal Berbasis Risiko menghadirkan Prof. Dr. Ir. Mochamad Wahyudi sebagai auditee. Sementara itu, proses audit dilakukan oleh tim auditor yang terdiri atas Lita Sari Marita selaku Ketua Auditor dan Ahmad Al Kaafi selaku Anggota Auditor.

Berbeda dengan audit yang hanya berfokus pada kesesuaian pelaksanaan terhadap standar, AMI Berbasis Risiko menempatkan risiko sebagai salah satu aspek penting dalam proses evaluasi dan peningkatan mutu. Pendekatan ini memungkinkan institusi mengidentifikasi potensi risiko yang dapat menghambat pencapaian indikator dan target, menganalisis tingkat risiko, serta menentukan langkah mitigasi yang sesuai.

Dalam pelaksanaannya, tim auditor mengevaluasi penerapan manajemen risiko sekaligus memberikan penguatan mengenai ketentuan dan matriks yang digunakan dalam penyusunan risk register. Pembahasan tersebut menjadi bagian penting untuk memastikan setiap unit kerja memiliki pemahaman yang sama dalam melakukan identifikasi, penilaian, dan pengendalian risiko.

Berdasarkan hasil audit, salah satu aspek yang menjadi perhatian adalah pentingnya setiap unit kerja memiliki risk register yang disusun sesuai dengan tugas, fungsi, program kerja, indikator, serta potensi risiko masing-masing. Risk register diharapkan tidak hanya menjadi dokumen administratif, tetapi juga dapat digunakan sebagai instrumen pengendalian untuk mengantisipasi berbagai risiko yang berpotensi memengaruhi pencapaian sasaran unit kerja maupun institusi.

Risk register tersebut perlu memuat sejumlah informasi penting, mulai dari indikator dan target, potensi risiko, penyebab atau akar penyebab risiko, dampak, tingkat kemungkinan (likelihood), tingkat dampak (impact), level risiko, hingga strategi mitigasi dan indikator keberhasilan mitigasi. Dengan pendekatan yang terstruktur, setiap unit kerja dapat memiliki gambaran yang lebih jelas mengenai risiko yang dihadapi serta langkah pengendalian yang perlu dilakukan.

Ketua Auditor, Lita Sari Marita, menyampaikan bahwa penerapan audit berbasis risiko menjadi langkah strategis dalam memperkuat sistem pengendalian mutu di lingkungan perguruan tinggi.

“Melalui Audit Mutu Internal Berbasis Risiko, setiap unit kerja diharapkan tidak hanya melihat apakah target telah tercapai, tetapi juga memahami risiko yang dapat menghambat pencapaian target tersebut. Karena itu, keberadaan risk register pada setiap unit kerja menjadi penting sebagai dasar untuk melakukan pengendalian dan menentukan strategi mitigasi yang tepat,” jelasnya dalam keterangan rilis yang diterima di Jakarta Senin (31/8).

Baca Juga : AMI Rektorat UBSI Perkuat Tata Kelola dan Budaya Mutu untuk Pertahankan Akreditasi Unggul

Senada dengan hal tersebut, Ahmad Al Kaafi menekankan pentingnya keseragaman pemahaman dalam penyusunan dan penilaian risk register.

“Penggunaan ketentuan dan matriks risiko yang sama akan membantu memastikan proses identifikasi dan penilaian risiko dilakukan secara konsisten di setiap unit kerja. Dengan demikian, hasil pemetaan risiko dapat menjadi informasi yang lebih terukur untuk mendukung proses pengambilan keputusan dan peningkatan mutu,” ungkapnya.

Baca Juga : Perkuat Tata Kelola UMKM, Prodi Perhotelan dan Pariwisata UBSI Dampingi Komunitas Adat Baduy

Pelaksanaan AMI Berbasis Risiko juga menjadi momentum bagi UBSI untuk terus mengembangkan sistem penjaminan mutu yang lebih proaktif. Pendekatan tersebut tidak hanya berorientasi pada evaluasi terhadap hasil yang telah dicapai, tetapi juga mendorong institusi untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan yang dapat memengaruhi pencapaian sasaran.

Sebagai Kampus Digital Kreatif, UBSI terus mendorong penerapan tata kelola dan budaya mutu secara berkelanjutan. Melalui audit berbasis risiko, setiap unit kerja diharapkan semakin mampu mengelola potensi risiko secara terukur sehingga pengendalian mutu dapat berjalan lebih efektif dan mendukung pencapaian sasaran institusi. (Safika)

Leave A Reply

Your email address will not be published.