316 Dosen dan Tendik FTI UBSI Dibekali No-Code AI dan Digital Forensics

0 3

BSINews, Jakarta – Perubahan teknologi bergerak lebih cepat daripada pembaruan slide presentasi. Karena itu, kemampuan menggunakan teknologi secara tepat kini menjadi bagian penting dari kesiapan perguruan tinggi menghadapi transformasi digital. Semangat tersebut terlihat dalam pelatihan dosen dan tenaga kependidikan (Tendik) batch 2 yang digelar Fakultas Teknik dan Informatika (FTI) Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) secara virtual melalui Zoom, Jumat (4/9).

Mengangkat tema “Akselerasi Kurikulum Berbasis No-Code AI dan Penguatan Kompetensi Digital Forensics Menuju Transformasi Kampus Digital Kreatif” yang diikuti 316 dosen dan tendik di lingkungan FTI UBSI.

Baca juga: FTI UBSI Gandeng PT Jidoka System Indonesia, Uji Kompetensi Basis Data Mahasiswa Berstandar Industri

Kegiatan dibuka oleh Dekan FTI UBSI, Rachmat Adi Purnama. Dalam sambutannya, ia menekankan bahwa pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) bukan sekadar mengikuti tren teknologi, tetapi dapat menjadi alat untuk meningkatkan efisiensi penyusunan Rencana Pembelajaran Semester (RPS) dan perangkat pembelajaran dalam mendukung pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi.

“Pelatihan ini bertujuan meningkatkan kompetensi dosen dalam pemanfaatan AI untuk penyusunan RPS dan perangkat pembelajaran, serta menguatkan pemahaman tentang forensik digital dan legalitas bukti digital. Langkah ini menjadi fondasi penting sejalan dengan visi FTI UBSI untuk menjadi fakultas unggul dalam pengembangan dan penerapan IPTEK serta mewujudkan kreativitas berwirausaha pada tahun 2033,” ujar Rachmat dalam keterangan rilis yang diterima pada Selasa (8/9).

No-Code AI Bikin Dosen FTI UBSI Tak Harus Jadi Programmer

Memasuki sesi materi inti, Ketua Program Studi (Kaprodi) Teknik Elektro UBSI, Rian Septian Anwar membahas “Akselerasi Kurikulum Berbasis No-Code AI untuk Efisiensi dan Efektivitas Perangkat Pembelajaran Akademik”.

Salah satu gagasan yang ditekankan adalah perubahan posisi dosen dalam menghadapi perkembangan Generative AI. Dosen tidak cukup hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi perlu memahami bagaimana teknologi tersebut dapat dimanfaatkan untuk menciptakan proses pembelajaran yang lebih efektif.

Melalui pendekatan No-Code AI, dosen UBSI dapat merancang dan mengintegrasikan solusi berbasis AI tanpa harus berhadapan dengan proses pemrograman yang rumit. Teknologi ini membuka peluang untuk mempercepat berbagai pekerjaan akademik, mulai dari penyusunan RPS, Capaian Pembelajaran Mata Kuliah (CPMK), Sub-CPMK, indikator penilaian, hingga pengembangan modul ajar.

Pemanfaatan AI juga diperluas ke media pembelajaran interaktif. Berbagai platform seperti ChatGPT dan Claude dapat digunakan untuk membantu konseptualisasi teks, sementara Gamma.app dan Tome dapat mendukung penyusunan materi presentasi visual. Untuk kebutuhan evaluasi, platform seperti Quizizz AI dan Formative dapat dimanfaatkan dalam membuat kuis interaktif.

Salah satu bagian yang menarik perhatian peserta adalah simulasi “Generator RPS Cerdas”. Dalam sesi tersebut, peserta diperlihatkan bagaimana aplikasi web berbasis AI Agent dapat dikembangkan dengan memanfaatkan Gemini API, structured JSON, dan function calling untuk mendukung efisiensi di tingkat program studi.

Namun, kecanggihan teknologi tetap harus berjalan bersama tanggung jawab akademik. No-Code AI ditempatkan sebagai copilot atau asisten akselerasi, bukan sebagai pengganti peran dosen. Validasi substansi, orisinalitas karya, integritas akademik, serta perlindungan data pribadi tetap berada di tangan pengguna.

AI Cepat, Tapi Data Tetap Harus Dijaga

Pembahasan mengenai transformasi digital kemudian berlanjut pada aspek keamanan. Dalam sesi diskusi, Dzulhan Abror memberikan penjelasan mengenai hosting, database, serta keamanan data dalam pengembangan aplikasi.

Peserta diingatkan bahwa kemudahan teknologi tidak boleh membuat aspek perlindungan data menjadi urusan nomor sekian. Data pribadi dan informasi sensitif, termasuk data seperti KTP, perlu dijaga kerahasiaannya dan tidak sembarangan diunggah ke platform publik.

Diskusi tersebut memperlihatkan bahwa transformasi digital di lingkungan kampus tidak berhenti pada kemampuan membuat aplikasi atau memanfaatkan AI. Ada aspek keamanan, etika, legalitas, dan tanggung jawab yang ikut menentukan apakah sebuah inovasi benar-benar layak digunakan.

Baca juga: Tak Sekedar Edutrip, FTI UBSI Jajaki Kolaborasi Internasional bersama UNIMAS Malaysia

Antusiasme peserta terlihat sepanjang sesi diskusi dan tanya jawab yang dipandu Veti Apriana selaku moderator. Beragam pertanyaan yang muncul menunjukkan bahwa kebutuhan terhadap peningkatan kompetensi digital tidak lagi berada di ruang teori, tetapi sudah menjadi kebutuhan praktis dalam aktivitas akademik dan tata kelola perguruan tinggi.

Bagi kamu yang ingin menjadi bagian dari lingkungan pendidikan yang terus beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan dunia digital, UBSI membuka kesempatan bagi calon mahasiswa untuk bergabung. Informasi penerimaan mahasiswa baru (PMB) dapat diakses melalui https://pmbubsi.id atau kunjungi https://bsi.ac.id.

Leave A Reply

Your email address will not be published.