Budaya Betawi dan Cilok Crispy Berpadu di Kirab Budaya KMI Expo XVII 2026
BSINews, Purwokerto – Budaya dan kewirausahaan ternyata bisa berjalan beriringan. Hal itu terlihat dalam Kirab Budaya KMI Expo XVII – UNSOED 2026 di Universitas Jenderal Soedirman (UNSOED), Purwokerto, saat kontingen Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) bersama kelompok usaha mahasiswa Cilok Cinta membawa identitas budaya Betawi dalam rangkaian kegiatan tersebut.
Mugi Raharjo selaku Kepala Inkubator Bisnis UBSI mengatakan, kirab budaya menjadi salah satu agenda KMI Expo XVII 2026 yang mempertemukan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Masing-masing kontingen membawa identitas budaya dan kearifan lokal daerah yang dikemas secara kreatif, sekaligus dipadukan dengan semangat kewirausahaan.
Baca juga: UBSI Perkuat Ekosistem Wirausaha Mahasiswa di KMI Expo XVII 2026
“Bagi UBSI dan Tim Cilok Cinta, budaya Betawi dipilih sebagai identitas yang dibawa dalam kirab. Menariknya, unsur budaya tersebut kemudian dipadukan dengan ornamen cilok crispy, sehingga penampilan tidak berhenti pada pengenalan budaya, tetapi juga terhubung dengan produk usaha mahasiswa yang mereka kembangkan,” kata Mugi dalam keterangan rilis yang diterima pada Selasa (6/10).
Ketika Identitas Budaya Bertemu Ide Bisnis
Kirab Budaya KMI Expo XVII 2026 bukan sekadar parade kostum. Setiap peserta membawa identitas budaya, kearifan lokal, kreativitas, dan unsur kewirausahaan sesuai ketentuan kegiatan. Para kontingen juga mengikuti proses penjurian berdasarkan aspek dan kriteria yang telah ditentukan.
“Karena itu konsep yang dibawa UBSI bersama Tim Cilok Cinta memiliki dua lapisan. Di satu sisi, mereka memperkenalkan budaya Betawi melalui identitas visual dan ornamen yang digunakan. Di sisi lain, mereka mencoba menunjukkan bagaimana unsur budaya dapat menjadi sumber inspirasi dalam mengembangkan sebuah gagasan usaha,” ujarnya.
Cilok crispy menjadi bagian dari konsep tersebut. Produk kuliner yang dibawa Tim Cilok Cinta dipadukan dengan identitas Betawi untuk memperlihatkan bahwa budaya lokal tidak harus selalu ditempatkan sebagai sesuatu yang statis. Di tangan mahasiswa, unsur budaya dapat menjadi titik awal untuk melahirkan gagasan kreatif dan produk yang memiliki nilai tambah.
Pendekatan semacam ini juga memperlihatkan hubungan antara pelestarian budaya dan pengembangan ekonomi kreatif. Ketika kearifan lokal dikemas dengan cara yang relevan, mahasiswa memiliki kesempatan untuk mengenalkan budaya sekaligus mengeksplorasi peluang usaha yang dapat dikembangkan dari kekayaan daerah.
Dari UNSOED hingga Kompleks Pusat Administrasi
Kirab Budaya menempuh rute dari Lapangan GOR Soesilo Soedarman UNSOED menuju UNSOED Pusat, meliputi area lapangan dan Kompleks Kantor Pusat Administrasi UNSOED. Para peserta berjalan bersama membawa identitas budaya masing-masing hingga menuju lokasi akhir kegiatan.
“Di sepanjang rangkaian tersebut, mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi menampilkan keberagaman budaya yang mereka bawa. Perbedaan identitas daerah justru menjadi bagian menarik dari kegiatan karena setiap kontingen memiliki cara masing-masing dalam menerjemahkan budaya dan kearifan lokal ke dalam penampilan,” ujarnya.
Kirab juga menjadi ruang pertemuan antarmahasiswa. Di tengah agenda kewirausahaan, peserta tidak hanya berbicara tentang produk dan bisnis, tetapi juga mendapatkan pengalaman untuk mengenal budaya yang berbeda dari daerah lain.
Hal tersebut menjadi penting karena kewirausahaan mahasiswa tidak selalu harus berangkat dari persoalan pasar semata. Kekayaan budaya, tradisi, kuliner, seni, dan kearifan lokal juga dapat menjadi sumber ide untuk menciptakan produk maupun pengalaman baru yang memiliki nilai ekonomi.
Budaya sebagai Sumber Kreativitas Mahasiswa
Keikutsertaan UBSI melalui Tim Cilok Cinta dalam Kirab Budaya KMI Expo XVII 2026 memperlihatkan bagaimana mahasiswa dapat melihat budaya dari perspektif yang lebih luas. Budaya bukan hanya warisan yang perlu dijaga, tetapi juga dapat menjadi sumber inspirasi untuk menciptakan karya dan inovasi.
Baca juga: Mahasiswa Universitas BSI Ikuti KMI Expo 2026 di UNSOED
Melalui perpaduan budaya Betawi dan cilok crispy, Tim Cilok Cinta membawa gagasan sederhana bahwa produk lokal dan identitas budaya dapat saling menguatkan. Kreativitas tersebut menjadi bagian dari proses mahasiswa belajar mengembangkan usaha sekaligus memahami nilai yang melekat pada potensi budaya di sekitarnya.