Dosen UBSI Dampingi Bank Sampah 3G Bogor, Olah Limbah Rumah Tangga Jadi Produk Bernilai
BSINews, Bogor – Sampah rumah tangga tidak selalu berakhir di tempat pembuangan. Dengan pengetahuan, pendampingan, dan pemanfaatan teknologi yang tepat, limbah organik dapat diolah menjadi kompos, minyak jelantah menjadi lilin dan sabun, sementara sampah plastik dapat dimanfaatkan sebagai bahan kerajinan. Pendekatan inilah yang dikembangkan tim dosen Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) bersama Bank Sampah 3G (Go Green Greenery) di Perumahan Greenery Permai, Bojonggede, Bogor.
Melalui program Pengabdian kepada Masyarakat bertajuk “Green Economy untuk Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat dengan Pengelolaan Limbah Sampah Rumah Tangga Berbasis Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) pada Bank Sampah 3G (Go Green Greenery)”, tim dosen UBSI memberikan pelatihan dan pendampingan pengolahan limbah sekaligus memperkenalkan sistem informasi untuk membantu pengelolaan administrasi bank sampah.
Bagi juga: Dari Catatan Manual Menuju Digital, UBSI Bantu Bank Sampah Mawar Burangrang Kelola Data Lebih Modern
Program tersebut merupakan bagian dari Hibah Pengabdian Masyarakat Pendanaan BOPTN Program Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Dosen Vokasi Tahun Anggaran 2024 dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi melalui pengajuan aplikasi BIMA (Basis Informasi Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat).
Tim pengabdian diketuai Siti Masripah dengan anggota Indah Purwandani dan Ety Nurhayaty serta melibatkan empat mahasiswa UBSI. Program ini berangkat dari kebutuhan mitra untuk mengurangi volume sampah rumah tangga sekaligus memperbaiki manajemen pencatatan dan pengelolaan bank sampah.
Empat Pelatihan untuk Mengolah Sampah Menjadi Bernilai
Sebelum program dijalankan, Bank Sampah 3G masih berfokus pada penerimaan tabungan minyak jelantah dan sampah anorganik. Sampah organik dari lingkungan sekitar belum diolah secara optimal dan masih dibuang bersama sampah rumah tangga lainnya.
Kondisi tersebut mendorong tim dosen UBSI menyusun sejumlah kegiatan yang tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga keterampilan praktis bagi pengurus dan masyarakat. Setelah koordinasi bersama mitra pada 30 April 2024, program pelatihan dilaksanakan melalui empat kegiatan utama, yaitu pembuatan kompos, pengolahan minyak jelantah menjadi produk bermanfaat, pembuatan ecobrick, serta penerapan aplikasi sistem informasi bank sampah.
“Pelatihan pembuatan kompos dilaksanakan pada 18 Mei 2024. Melalui kegiatan ini, masyarakat diperkenalkan pada cara mengolah sampah organik menggunakan komposter yang telah disediakan. Kompos yang dihasilkan diperkirakan dapat dipanen dalam waktu sekitar empat hingga enam minggu, sehingga berpotensi dimanfaatkan oleh masyarakat untuk kebutuhan sehari-hari,” ujar Masripah dalam keterangan rilis yang diterima pada Selasa (27/10).
Baca juga: Dari Sampah Jadi Rupiah, UBSI Bantu Bank Sampah Mawar Burangrang Go Digital Lewat Shopee
Ia menjelaskan, program kemudian berlanjut pada pengolahan minyak jelantah. Pada 15 Juni 2024, masyarakat mengikuti pelatihan pembuatan lilin dari minyak jelantah. Sehari berikutnya, 16 Juni 2024, kegiatan dilanjutkan dengan pelatihan pembuatan sabun dari bahan yang sama.
Indah menjelaskan bahwa pelatihan tersebut diarahkan agar limbah yang sebelumnya tidak dimanfaatkan dapat diolah menjadi produk yang memiliki nilai guna dan potensi ekonomi bagi masyarakat, khususnya ibu rumah tangga.
“Rangkaian pelatihan berikutnya berlangsung pada 13 Juli 2024 melalui pengenalan aplikasi sistem informasi bank sampah. Kegiatan ini menjawab persoalan administrasi mitra yang sebelumnya masih mengandalkan pencatatan manual untuk tabungan nasabah dan keuangan,” kata Indah dalam keterangan rilis yang diterima pada Selasa (27/10).
Sementara itu, pelatihan pembuatan ecobrick dilaksanakan pada 10 Agustus 2024. Dalam kegiatan ini, sampah plastik rumah tangga dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan produk, termasuk kursi ecobrick. Pendekatan tersebut diharapkan dapat membantu mengurangi sampah plastik sekaligus membuka peluang pemanfaatan limbah menjadi barang yang berguna.
Digitalisasi untuk Membantu Pengelolaan Bank Sampah
Selain persoalan pengolahan limbah, program pengabdian ini menyoroti pentingnya tata kelola bank sampah yang tertib dan efisien. Pencatatan tabungan nasabah dan transaksi keuangan secara manual berpotensi menambah beban administrasi pengurus, terutama ketika jumlah data yang harus dikelola semakin banyak.
Tim dosen UBSI memperkenalkan aplikasi sistem informasi bank sampah sebagai upaya mendukung pencatatan yang lebih terstruktur. Pemanfaatan aplikasi diharapkan membantu pengurus dan petugas dalam mengelola data tabungan sampah serta pencatatan keuangan dengan lebih praktis.
Ety menyoroti bahwa penguatan manajemen merupakan bagian penting dari keberlanjutan bank sampah. Pengelolaan limbah yang baik perlu disertai sistem administrasi yang mendukung agar aktivitas operasional dapat berjalan lebih tertib.
“Melalui pendekatan tersebut, program tidak hanya berfokus pada keterampilan mengolah sampah, tetapi juga pada penguatan kapasitas pengelolaan organisasi. Kombinasi keduanya diharapkan membantu Bank Sampah 3G mengembangkan kegiatan yang lebih terarah dan berkelanjutan,” ungkap Ety dalam keterangan rilis yang diterima pada Selasa (27/10).
Nilai Pemahaman Meningkat dari 40 Menjadi 95
Masripah menyampaikan bahwa rangkaian kegiatan berjalan lancar. Berdasarkan hasil kuesioner mitra yang dilaporkan tim, nilai pemahaman IPTEK menunjukkan peningkatan setelah peserta mengikuti pelatihan.
“Nilai rata-rata pre-test tercatat sebesar 40, sedangkan nilai post-test mencapai 95. Hasil tersebut menunjukkan peningkatan sebesar 55 poin pada indikator pemahaman yang diukur dalam program,” jelasnya.
Peningkatan itu menjadi salah satu indikator bahwa pelatihan dan pendampingan membantu peserta memahami materi yang diberikan. Meski demikian, keberlanjutan manfaat program juga bergantung pada penerapan keterampilan dalam kegiatan sehari-hari dan konsistensi pengelolaan bank sampah setelah pendampingan selesai.
“Melalui pengolahan sampah organik menjadi kompos, pemanfaatan minyak jelantah menjadi lilin dan sabun, pembuatan produk dari plastik, serta penerapan aplikasi pencatatan, program ini memperkenalkan pendekatan pengelolaan sampah yang menggabungkan aspek lingkungan, keterampilan masyarakat, dan teknologi,” katanya.
Baca juga: UBSI Optimalkan Bank Sampah Fatayat NU Rawa Mekar Jaya lewat Pendekatan Teknik Industri
Menurutnya, pengalaman Bank Sampah 3G menunjukkan bahwa pengelolaan limbah dapat dikembangkan lebih jauh daripada sekadar memilah dan mengumpulkan sampah. Dengan pendampingan yang sesuai kebutuhan, masyarakat memiliki peluang untuk mengurangi limbah sekaligus memanfaatkan sebagian hasil olahannya.
Bagi tim UBSI, program pengabdian ini menjadi bentuk penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk membantu menjawab persoalan di lingkungan masyarakat. Upaya tersebut diharapkan dapat mendukung pengelolaan bank sampah yang lebih tertib, meningkatkan keterampilan warga, serta memperkuat praktik ekonomi hijau dari lingkup rumah tangga.